
Roy terbatuk-batuk mengeluarkan darah, saking kencangnya tendangan Alaska di dadanya. Alaska menduduki perut Roy yang masih tergeletak di lantai.
"Udah gw bilang jangan bawa-bawa keluarga dalam permusuhan kita" Alaska membogem seluruh wajah Roy dengan sekuat tenaga nya.
"Dek udah" Anin berusaha menahan tangan Alaska walau dia tau semuanya akan sia-sia karena kekuatan Alaska tidak sebanding dengannya.
Para pengunjung hanya melihat mereka tanpa ada yang mau melerai keduanya dan para wanita berteriak ketakutan, apa yang mereka lakukan? hanya melihat tentunya.
"Tolong" teriak Anin, namun panggilan nya tak terbalas oleh mereka, ada yang mem vidiokan pertengkaran mereka.
Alaska membenturkan kepala Roy cukup keras di lantai, hingga membuatnya mengeluarkan darah, Roy tidak tinggal diam, bisa mati dia di tangan Alaska jika dia tidak melawan.
Roy memukul rahang Alaska sekuat yang dia bisa, dari pukulan tersebut tubuh Alaska oleng ke samping, Roy memukul wajah Alaska dengan sisa-sisa tenaganya, lalu menarik kerah seragam Alaska memaksa nya untuk berdiri.
"Lo jauhin mbak gw, gw gak terima kalau dia menyukai laki-laki brengsek seperti Lo" teriak Alaska diam-diam tangan Alaska menggapai vas bunga berniat memukulkan nya kepada Roy.
__ADS_1
Belum sempat vas bunga menyentuh Roy, tiba-tiba suara satpam menggelar di cafe yang sunyi senyap.
"Apa-apaan kalian ini" teriaknya marah.
Keduanya tidak ada yang menanggapi ucapan satpam tersebut, Alaska menghapus darah yang keluar dari bibirnya menggunakan tangannya, wajah mereka sudah amburadul banyak luka dan darah di sekitar area wajah mereka apa lagi dengan wajah Roy Alaska menghajarnya habis-habisan.
Alaska pergi dari cafe tersebut tangannya menyeret tangan Anin, sebelumnya Angkasa sudah mengeluarkan lembaran uang yang banyak untuk mengganti kekacauan yang mereka buat.
"Apa kamu perlu kerumah sakit?" tanya seorang pelayan wanita.
"Tidak usah mbak, sebentar lagi teman saya akan kesini" tolak Roy halus.
Setelah beberapa lama mereka sampai di rumah mereka.
Acha dan Sandra berbincang mengenai banyak hal, Tante Aliya juga ikut nimbrung bersama mereka.
__ADS_1
Brak, pintu utama di buka dengan kasar, sosok Alaska berada di pintu dengan tangan yang masih mencengkeram tangan mbak nya, seluruh seisi rumah di buat kaget oleh keadaan mereka.
"Ada apa ini?" tanya sang Bunda panik, baju Alaska banyak noda darah di mana-mana, mukanya juga lebam-lebam yang membuat Aliya kaget anak perempuan tengah menangis tersedu-sedu.
"Ada apa mbak?" tanya Sandra ikutan panik.
Alaska tidak menjawab pertanyaan mereka, dia memilih pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua, Acha menyaksikan dimana Alaska pergi meninggalkan mereka dengan sejuta pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Acha mengambilkan Anin air putih, Tante Aliya mendudukkan Anin di sofa tempat mereka tadi.
"Minum dulu mbak biar enakan" ujar Acha menyodorkan segelas air putih.
"Tan aku ijin ke kamar Alaska yah, kondisi Alaska juga tidak begitu baik" pamit Acha.
Acha menyusul Alaska yang berada di kamarnya, saat ini Acha berdiri di depan pintu berwarna coklat.
__ADS_1
Tok tok tok.
Lama Acha berdiri di depan pintu, Acha berisiatif langsung masuk ke kamar Alaska, baru kali ini dia masuk ke kamar laki-laki yang sudah menjadi pacarnya, kamar aka di dominasi warna hitam dan putih, ada beberapa foto tergantung di dinding.