
"Oma stellte ihre Freunde Acha" (Oma perkenalkan ini teman-teman Acha.
Mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Du solltest besser zuerst essen, Oma hat viele Gerichte für dich vorbereitet" (Lebih baik kalian makan dulu, Oma sudah menyiapkan banyak makanan untuk kalian) sang Oma menggiring semua masuk dan duduk di meja makan.
Saat tengah asyik makan, bel rumah Oma berbunyi, Opa berdiri dan melihat siapa yang datang.
"Papa, wie geht es dir?" (Papa apa kabar) tanya Mommy.
Ternyata yang datang menantunya dan cucu keduanya.
"Papa geht es gut, wie geht es dir?" (Papa baik, kalian apa kabar?) tanya mertuanya.
"Wir sind auch ein guter Papa, es scheint, als hätte Papa viele Gäste" (Kami baik pa, sepertinya papa sedang banyak tamu) Mommy mendengar suara tawa dan orang tengah berbincang-bincang di dalam.
"Komm herein" (Ayo masuk) Opa menyuruh mereka masuk dan bergabung dengan yang lainnya.
Betapa kagetnya mereka saat melihat siapa yang datang, ternyata Angkasa dan teman-temannya, Angkasa langsung memegang tangan erat tangan Acha.
"Mama vermisst Kinder" (Nak Mommy kangen) Mommy berlari menuju Angkasa dan memeluknya.
__ADS_1
Acha menunduk pandangan, tidak mau melihat mereka Acha takut kebencian Mommy dan abangnya akan semakin bertambah saat melihat dirinya.
Alaska menyadari gelagat Acha, dia ikut memegang tangan Acha.
"Der Weltraum vermisst auch Mama" (Angkasa juga kangen Mommy) Angkasa membalas pelukan Mommy.
"Sie sind deine Freunde?" (Mereka ini teman-teman kamu) tanya Mommy.
"Sie sind seine Freunde Acha" (Mereka teman-temannya Acha) ujar nya.
"Wo ist Acha?" tanya Lin Yi terlihat marah saat mendengar nama Acha di sebut-sebut.
"Das ist Acha, er ist mein Lieblingsenkel" (Dia Acha cucu kesayangku) Oma memeluk Acha menenangkan nya.
Acha sekuat tenaga berusaha untuk tidak menangis, dia mencengkeram erat bajunya Acha tidak berani menatap mereka.
"Schon jetzt besser zuerst essen" (Sudah, lebih baik kalian makan dulu) ucap Oma nya.
Mereka ikut makan bersama, suasana yang awalnya ceria dan penuh candaan di meja makan mendadak sunyi, hanya ketegangan yang terjadi di antara mereka.
Sandra melihat Acha yang sedari tadi menunduk, dia tidak melanjutkan kembali makan nya padahal masih tersisa banyak.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Acha langsung pergi menuju taman belakang, Mommy mengejar nya.
"Kamu masih bergantung dengan Angkasa?"
"Kamu tau, kalau kamu adalah anak pembawa sial di keluarga kita"
"Aku di kutuk karena melahirkan mu"
"Aku menyesal melahirkan mu"
"Karena kamu suami ku di renggut dari ku, anak tumbuh tanpa sayap Daddy"
"Mati saja kamu, kelahiran kamu itu membawa mala petaka bagi kami"
Mommy mengucapkan kalimat yang benar-benar melukai hati Acha.
"Tidak bisakah Mommy berhenti menyalakan ku, apa Mommy fikir aku mau kehilangan Daddy" teriaknya frustasi.
"Plak" sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya, tamparan tersebut berasal dari perempuan yang sangat di cintai nya.
"Sudah ku bilang, aku bukan Mommy mu, aku tidak pernah punya anak seperti mu anak aku cuma dua yaitu Angkasa dan Arthur" Ucap Mommy meninggalkan Acha sendiri dengan sakit yang meradang di hatinya.
__ADS_1
"Kenapa harus aku?" teriak nya sambil menangis.
Alaska yang niatnya ingin mencari udara segar, malah menyaksikan pertengkaran anak dan ibunya, ada sedikit rasa bersalah di hatinya saat dia menyinggung keluarga Acha.