Fake Smile Bad Girl

Fake Smile Bad Girl
Apakah Angkasa berbohong?


__ADS_3

"Acha"


Setelah mendapat kan panggilan dari sang kakak, Acha yang sedang sibuk menonton Descendants of the sun, buru-buru turun karena sang kakak.


"Mau kemana bang"? tanya Acha yang melihat abangnya Sangat rapi dengan pakaian tuxedo hitamnya, dia terlihat gagah sekali, Acha sangat yakin siapapun yang melihatnya abangnya akan langsung jatuh hati.


"Abang mau bertemu klien dari Kalimantan, proyek yang akan kita bangun bersama mengalami sedikit masalah, Acha gak papa kan Abang tinggal" Jelas Angkasa berbohong, tidak mungkin dia bilang akan makan malam berdua dengan ellen.


Acha mengangguk dengan arti dia tidak apa-apa di tinggal sendiri di Mension.


"Abang berangkat dulu yah, kalau ada apa-apa Acha telfon Abang aja" ucapnya setelah mencium kening Acha, Angkasa menghilang di pintu utama.


Acha langsung merebahkan tubuhnya di sofa empuknya, Acha memejamkan matanya dia merasakan kesepian, baru kali ini Acha berpikiran buruk tentang abangnya semenjak Acha tau Angkasa memiliki pacar, entah hanya perasaan Acha atau gimana, bahkan Angkasa tidak menanyakan dirinya sudah makan malam atau belum.

__ADS_1


Mungkin kalian berpikir Acha terlalu egois terhadap Angkasa, dia milikku tidak ada seorang pun dapat mengambilnya dariku, bahkan orang yang di cintainya sekalipun, kecuali dia sudah yakin kalau ada yang mencintai abangnya dengan tulus, bukan memandang apa yang Angkasa punya sekarang. Acha memutuskan untuk menelfon Fero, sekertaris dari abangnya.


"Kalian lagi meeting?


"....."


"Lo lagi meeting sama Abang gw? katanya ada klien dari Kalimantan yang ingin bertemu kalian"


"....."


"......"


Setelah sambungan telfon berakhir, awalnya Acha kecewa kenapa Angkasa tidak jujur saja padanya, mungkin dia akan mempertimbangkan ini dengan baik, namun Acha tidak mau berlarut dalam kesedihannya, cacing di perut Acha mulai demo, dia belum makan lagi setelah jam istirahat tadi, Acha segera memesan makanan lewat handphone nya, dia memesan makanan dalam jumlah banyak, karena Acha akan membawanya ke markasnya.

__ADS_1


Sambil menunggu makanan datang Acha menyiapkan seragamnya dan barang-barang yang akan di bawanya besok ke sekolah.


Acha berencana akan menginap di sana untuk semalam, setelah mengemasnya di dalam tas, makanan yang tadi di pesanan datang, Acha menaiki motor kesayangan, dan melajukan nya ke luar kompleks, motornya mulai menyusuri jalan raya yang masih rame akan pengendara yang lainnya.


Acha menghentikan motornya saat sudah sampai di perbatasan menuju hutan, dia menelfon Alaska namun tidak di angkat begitupun dengan Billy, dirinya menarik nafas berkali kali, lalu dengan tekad yang kuat Acha segera menstater motornya, dengan harapan semoga tidak akan terjadi apa-apa mengingat sekarang sudah pukul 09.00 malam.


Motornya mulai memasuki hutan yang sangat gelap, tidak ada pencahayaan di sekitar jalan, hanya lampu dari motornya yang menuntun Acha semakin memasuki hutan, awalnya tidak ada yang terjadi perjalanannya biasa-biasa saja, baru seperempat jalan motornya mulai terasa berat, seperti ada seseorang yang ikut dengannya menaiki motornya, Acha melafalkan doa-doa yang dia bisa, malam makin larut, udaranya semakin dingin, malam itu terasa semakin mencekam bagi Acha.


Rasanya jalan menuju markas terasa sangat jauh, Acha semakin menambah kecepatan motornya, dia ingin segera sampai, motornya masih terasa berat. Beberapa kali dia seperti melihat sosok-sosok di balik pohon, mereka sedang mengawasinya.


Acha sangat yakin kalau mereka bukan orang, tidak sengaja Acha melihat sosok tersebut hanya kepala saja tanpa badan. Ada sorotan lampu dari belakang Acha, ada sebuah motor yang mengikutinya, awalnya Acha senang karena mengira itu adalah temen-temen nya, Acha berharap mereka akan melindungi Acha, namun harapan Acha musnah seketika ketika dia tau yang mengikutinya bukan lah temannya melainkan preman yang berjaga di sekitar situ, mereka terus mengikuti Acha, bukan setan lagi yang dia takutkan.


Pikiran Acha terpaku pada ingatan keluarganya, seandainya keluarganya masih ada di sampingnya, Acha tidak akan pernah merasakan kesepian saat di tinggal abangnya, ingatan nya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, nafasnya mulai memburu, dadanya mulai terasa sangat sakit dirinya mulai menangis tersedu-sedu, dia menyesali keputusan nya untuk datang ke markas.

__ADS_1


Bersambung~~~


__ADS_2