Fake Smile Bad Girl

Fake Smile Bad Girl
Paralayang.


__ADS_3

Taksi berhenti tetap di depan rumah aka, aka membayar tagihan taksi, setelah itu masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum aka pulang"


"Waalaikumsalam, loh le kok sudah pulang, eh ada Acha juga" Acha menyalami tangan Tante Aliya.


"Bun Acha boleh gak pinjem bajunya mbak Anin, mau pergi soalnya?" tanya Aka.


"Boleh dong, ayo Tante temenin" Acha dan Aliya memasuki kamar Anin Alaska juga pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Tante aja yang pilihin, gak enak Acha" Aliya mulai mengubek-ngubek lemari anak perempuannya, pilihannya jatuh pada baju pendek berwarna coklat dan celana hitam panjang, Aliya fikir akan kontras dengan kulitnya. Acha berganti baju di kamar mandi, mengganti seragamnya dengan baju pilihan Tante Aliya.


"Mantu Tante cantik banget" puji Aliya saat Acha baru selesai ganti baju.


"Acha duduk sini nak, biar Tante sisirin rambutnya" Acha duduk di meja rias Anin, Aliya menyisirnya dengan telaten.


"Beruntung sekali mbak Anin dan Aka memiliki ibu sepertinya, andai aku juga mempunyai sosok ibu sepertinya dia mungkin hidupnya akan selalu bahagia" batin Acha, dulu Mommy selalu menyisir dan mengikat rambutnya, sejak bertahun-tahun lalu baru kali ini ada yang menyisir rambutnya kembali.


"Acha kenapa sedih? apa Tante menyisir nya terlalu kuat?" tanya Aliya merasa tidak enak.

__ADS_1


"Gak kok Tante malahan sisiran Tante Aliya enak" Aliya mengambil tas yang senada dengan baju Acha.


"Apa gak papa Tan?" tanya Acha.


"Gak papa lah, ayo keluar pasti Alaska sudah nungguin kamu" keduanya keluar dari kamar Anin, benar kata Aliya Aka memang sudah menunggu Acha di ruang tamu.


"Mau langsung jalan?"


"Iyah Bun" jawab Aka sambil mengenakan sepatunya.


"Yasudah hati-hati jagain mantu Bunda" Mereka menyalami nya sebelum pergi, Acha mengikuti Alaska ke garasi mengambil motor lalu memanasi trailnya, Alaska memasang kan helm ke kepala Acha.


"Udah sampek?" tanya Acha bingung pasalnya tidak ada apapun disana.


"Belum, kita harus naik pik up dulu"


"Sebenarnya Lo mau ngajak gw kemana sih, jangan aneh-aneh deh" ujar Acha kesal.


"Udah ayok, nanti Lo juga tau" Aka menarik tangan Acha menuju pik up.

__ADS_1


"Atas yah pak" ujar Aka, mereka duduk di kursi depan.


Mobil lalu berangkat, melewati tanjakan yang katakanlah sangat curam, Acha memegang erat tangan Aka, dia parno kalau-kalau mobil itu tiba-tiba turun parahnya lagi bisa saja jatuh ke jurang. Acha tidak tau itu dimana tapi yang pasti dia berada di tempat yang sangat tinggi. Jam 9 mereka sampai di tempat tujuan, mereka turun, Aka membayar ongkos mobil.


Lutut Acha serasa lemas melihat pemandangan di depannya, apa Aka tidak tau kalau Acha memiliki akrofobia.


"Lo gak berencana untuk naik kan?" tanya Acha memastikan.


"Udah sampek sini masa gak naik"


"Lo aja lah yang naik, gak bisa gw" tolak Acha mentah-mentah.


"Kalau Lo gak naik nanti turunnya Lo mau pake apa?" tanya Aka mengejek nya.


"Jalan kaki pun jadi gw dari pada naik kayak gitu"



__ADS_1


__ADS_2