
Febby berdiri dari duduknya dia menarik baju Acha "Gak usah sok suci, Lo apa bedanya sama gw? Lo punya hubungan spesial kan sama Angkasa Dirgantara" Febby berteriak di depan wajah Acha.
"Angkasa Dirgantara yah" Acha terkekeh.
"Lo beneran berfikir kalau Alaska benar-benar mencintai Lo? gak Cha dia pacaran sama Lo karena dia harus nyelesain game yang dia buat sendiri dengan kata lain dia jadian Lo alat agar tantangan yang dia sanggupi selesai" Febby tersenyum puas melihat reaksi Acha sepertinya dia tidak tahu menahu tentang ini.
Acha menatap teman-temannya satu persatu namun mereka hanya membuang muka tidak berani melihat Acha "Jadi apa yang di omongin dia bener adanya? Alaska pacaran sama gw cuma pura-pura?" tanya Acha namun tidak ada jawaban dari mereka.
"Cih lo berlagak seperti Alaska benar-benar mencintai Lo, nyatanya cuma di buat mainan" Febby mengejek Acha untuk pertama kalinya dia kalah di depan lawannya.
"Terus mau Lo apa? Lo mau Alaska jadi milik Lo lagi? ambil, kalau memang apa yang Lo omongin bener, gw udah gak mau peduli lagi" Febby melihat Alaska berjalan mendekati Acha tanpa Acha sadari.
"Ini kesempatan gw, gw harus ngebuat Alaska membenci Acha" batin Febby, Alaska semakin mendekat ke arah mereka, Febby memelintir tangan nya sendiri hingga membiru lalu menyiram tubuhnya dengan segelas air yang berada tidak jauh dari mereka, setelah itu menyerahkan gelas kosong pada Acha.
__ADS_1
"Perempuan gila"
Selanjutnya Febby duduk di lantai "Cha ampun sakit" Alaska yang melihat itu langsung berlari menuju Febby.
Alaska membantu Febby berdiri memapahnya menuju sofa "By Lo gak papa?" tanya Alaska memastikan kondisinya.
"Tangan gw sakit ka" Febby mulai menangis, Alaska membawa Febby ke dalam pelukannya mengusap punggungnya beberapa kali.
"Jangan nangis, Lo tau sendiri kan gw paling gak suka ngeliat Lo nangis" Alaska melepaskan pelukannya mencium kedua mata Febby seperti dulu saat mereka masih pacaran.
"Ikut" Alaska menarik tangan Acha.
"Gw gak mau"
__ADS_1
"Gw bilang ikut"
"Selain brengsek Lo tuli juga yah" Acha menyentak tangannya
"Lo yang ngelakuin?" bukannya takut Acha malah menatap Alaska nyalang.
"Kalau iyah kenapa?" Alaska mengayunkan tangannya di udara.
"Tampar, Lo mau main fisik sama gw?" bentak Acha.
Alaska yang awalnya ingin menampar Acha tidak jadi sekarang tangannya beralih ke pundaknya menekan kuat pundak tersebut "Gw udah minta Lo buat percaya sama gw, kenapa Lo gak bisa percaya sama gw? apa sesulit itu, gw benar-benar udah gak ada hubungannya dengan Febby gw cintanya sama Lo Cha" tatapan dan nada suaranya melembut.
"Bukan gw gak percaya sama Lo tapi Lo gak yang percaya sama gw, brengsek, apa tadi Lo bilang cinta? Lo gak bisa mencintai dua orang sekaligus, stop pura-pura mencintai gw, gw udah muak sama Lo dan tingkah laku Lo, Lo cuma jadiin gw alat agar Lo mencapai tujuan Lo kan"
__ADS_1
"Apa yang Lo omongin bener, gw dari awal pacaran sama Lo karena gw kalah main game, anggap aja Lo taruhannya, Lo pikir cuma Lo aja yang muak gw juga muak sama Lo, jadi mari kita akhiri sampai disini aja gw udah gak tahan harus berpura-pura baik sama Lo"
"Ok kita putus, gw cuma kehilangan orang yang gak mencintai gw sedangkan Lo kehilangan orang yang benar-benar mencintai Lo, Lo bakal nyesel setelah mengetahui kebenarannya, omong-omong selamat yah Lo berdua pasangan yang cocok, yang satu banci yang satunya pelacur" Acha mengambil tas branded yang berada di sofa dekat Febby sebelum pergi Acha menekan tangan Febby yang membiru.