
Di ruang rawat, Alaska mengerjapkan matanya hal pertama yang dia lihat adalah ruang yang terang dan bau obat-obatan khas rumah sakit.
"Gw kira, gw udah mati" bisik Alaska, bundanya sadar kalau Alaska sudah siuman.
"Le mana yang sakit?" tanyanya tak bisa membendung air matanya.
Alaska melihat kedua orang tuanya "Alaska gak papa Bun, bunda jangan nangis" Alaska menghapus air mata di pipi orang yang paling dia cintai.
"Acha mana, Aka pengen ketemu sama dia"
"Acha di luar, bunda panggilin dulu" Bunda pergi menuju teman-teman anaknya berada.
Ayah Alaska mengusap-usap rambut Alaska, betapa bersyukurnya dia masih bisa melihat anaknya kembali membuka matanya "Kalau bukan karena Acha ayah gak tau lagi keadaan kamu seperti apa, Acha menggendong kamu ke sini dia juga mendonorkan darahnya buat kamu"
Alaska mencerna ucapan ayahnya, Acha menggendongnya? "Aka bodoh kan ayah, Aka tolol, Aka menyia-nyiakan perempuan sebaik Acha, Aka menghina dia di hadapan banyak orang, harusnya Acha biarin Alaska mati saja di jalan" perasaan menyesal Alaska semakin menjadi-jadi setelah tau betapa baiknya Acha padanya.
"Tidak ada yang perlu disesali, nasi sudah menjadi bubur biarkan dia bahagia bersama pilihannya karena kamu tidak bisa membahagiakan dia sebagaimana mestinya"
__ADS_1
Aliya mencari keberadaan Acha di tengah-tengah mereka "Ada yang lihat Acha?"
"Itu Acha" Sandra menunjuk Acha yang berjalan menuju mereka bersama Aiken dan perempuan kecil yang tengah berada di gendongan Aiken.
"Ca"
"Kenapa Tante?"
"Alaska nyariin kamu" Acha melihat Aiken yang juga melihat kearahnya.
"Sebentar yah Tan, Acha mau nganterin Shafira ke orang tuanya dulu" keduanya melanjutkan ke kamar adiknya Shafira berada, sedari tadi Shafira tidak berhenti tersenyum tangannya menenteng beberapa mainan yang tadi di belikan sama kakak cantik dan kakak ganteng.
Acha melambaikan tangan pada Fira setelah mamanya mengucapkan terimakasih karena sudah menjaganya, keduanya kembali ke ruang rawat Alaska.
"Honey aku tunggu disini aja sama mereka" ujar Aiken menunjuk teman-teman pacarnya.
Acha menggeleng "Kamu harus ikut, aku gak mau ada kesalahpahaman" Acha menarik tangan Aiken ke dalam ruangan Alaska, bunda Aliya dan ayah Heri keluar memberikan mereka waktu untuk saling mengobrol.
__ADS_1
"Ca terima kasih sudah menyelamatkan nyawa gw" Alaska menggenggam tangan Acha namun Acha segera menghempas tangan Alaska kasar.
"Itu udah tugas manusia untuk saling membantu, lagian gw ngebantu Lo bukan karena gw masih sayang sama Lo tapi karena Lo masih berutang maaf sama" Acha menarik Aiken untuk duduk di sampingnya.
"Gw minta maaf"
"Gw gak akan pernah maafin Lo, sampai mati" Acha menatap Alaska nyalang.
Aiken merasa kasian melihat Alaska "Honey gak boleh seperti itu, tuhan aja maha pemaaf, kamu juga harus maafin dia terlepas dari apa yang dia lakukan"
"Lo bahagia?"
"Jelas gw bahagia, dia memperlakukan gw seperti ratu gak kayak Lo, gak gak akan pernah lupa sama apa yang Lo lakuin sama gw, terus sekarang Lo pengen balik lagi sama gw? sadar Alaska Lo lupa Lo lebih pilih Febby dari para gw, Lo pernah nampar gw karena perempuan sialan itu" Acha semakin membara di setiap katanya, dia benar-benar muak kembali berurusan dengannya.
__ADS_1