
"Duduk" perintah Angkasa.
Acha dan Sandra duduk di sofa dekat Angkasa.
"Apa yang kalian lakukan tadi?"
"Kita gak tau kalau Ellen tidak bisa berenang"
Ujar Sandra menyesal.
"Kita juga sudah meminta maaf pada Ellen, Awalnya kita mau bercanda aja" Sandra masih berbicara Acha hanya menyaksikan saja.
"Bercanda kalian sangat keterlaluan, bagaimana kalau sampai Ellen tidak tertolong" Bentak Angkasa kepadanya orang di depannya itu.
"Ellen tidak kenapa-kenapa, dia juga sudah memaafkan kita, kenapa Lo yang seperti kebakaran jenggot" Ujar Acha ikut membuka suara.
"Acha jaga sopan-santun mu, apa begini gw ngajarin Lo selama ini?" tanya nya sangat murka.
"Kenapa Lo nyesel ngebesarin gw?"
"Acha" Teriak nya.
Acha menatap angka jengah.
__ADS_1
"Kita tau kok kita salah, dan kita juga menyesal menempatkan Ellen di posisi berbahaya" Acha mengubah intonasi suara nya.
"Kalau Ellen ada apa-apa kalian berdua mau bertanggung jawab?"
"Jangan kekanakan, kalian sudah dewasa, apa lucu?" Tanya Angkasa nafasnya memburu menahan amarah. Kalau saja di depan ini bukan adik nya sudah dia hajar hahis-habisan.
"Sekarang apa gw boleh nanya sesuatu?" tanya Acha.
Acha melempar handphone kepada Angkasa, dengan cekatan Angkasa menangkapnya. Di sana Angkasa melihat foto dirinya dengan Ellen tengah berpelukan mesra.
"Acha"
Acha tersenyum smirk, melihat Angkasa yang panik, karena mengetahui hubungannya.
Acha menarik tangan Sandra keluar dari ruangan terkutuk itu.
"Seperti itu gimana?"
"Tadi dia kelihatan sangat marah, saat Lo ngelempar handphone Lo malah keliatan panik"
"Gw mau nemenin Ellen, kasian dia sendirian, Lo mau ikut?" tanya Sandra.
"Gak deh, gw mau disini sebentar nanti gw nyusul" Ucap Acha.
__ADS_1
Sandra menuju kamar nya dan Acha tetap berdiam di ruang keluarga.
"Ternyata dia ngebohongin gw selama ini" Acha tertawa mengejek dirinya sendiri.
Dia memutuskan untuk keluar sekedar mencari udara segar, dia tidak berpamitan kepada teman-temannya.
Acha berjalan kaki, menyusuri kota Berlin seorang diri, hari ini kota Berlin sedang musim semi, banyak bunga-bunga dan dedaunan yang jatuh berpisah dengan sanak saudaranya. Musik-musik yang berasal dari kios dan cafe di sepanjang jalanan kota. Sudut-sudut kota yang tenang dengan sidewalk yang lebar.
Acha tidak takut meskipun sendirian karena orang-orang disana sangat ramah, Acha tidak tau kaki nya akan mengantarkan nya kemana, yang Acha fikirkan saat itu menjauh dari Angkasa. Dia tidak mau mendengar kebohongan lagi dari mulutnya.
Karena lelah berjalan kaki, Acha memutuskan untuk menaiki taksi.
"Bitte gehen Sie in den Park Grunewald" (Tolong antar kan saya ke taman Grunewald)
"Guter Mittag" (Baik noona)
Taksi yang Acha naiki mulai berjalan, Acha menangis mengingat kejadian tadi, batinnya lelah belum lagi hinaan yang terus terlontar kepadanya.
"Apa aku harus menyusul Daddy?" Batin Acha yang membuat tangisan Acha makin menjadi-jadi.
Supir taksi memberikan nya tisu.
"Es ist in Ordnung, wenn du weinen willst, du musst dich nicht schämen, solange du keine Dinge tust, die dich später bereuen werden" (Tidak apa-apa kalau menangis, tidak perlu malu karena ada saya, namun jangan melakukan hal-hal yang akan membuat kamu menyesal nantinya) Nasehat nya.
__ADS_1
Taksi sampai di taman yang masih banyak pengunjung, ada yang tengah piknik dengan keluarganya atau sekedar bercanda ria sambil menikmati musim gugur.
"Danke mein Herr" (Terima kasih pak) Acha membayar tagihan taksinya, lalu masuk ke taman menyatu dengan orang-orang malam itu. Acha duduk di sebuah kursi bercat putih, dia kembali menangis.