Fake Smile Bad Girl

Fake Smile Bad Girl
Pembunuh, pembawa sial.


__ADS_3

Acha membuka kedua mata indahnya, dia melihat sekeliling ternyata rumahnya sudah seperti biasanya. Acha bersyukur karena kejadian tadi hanya mimpi di siang bolong, dia tau betul jam segini pasti Daddy nya sedang berada di kantor dan akan pulang sore harinya.


"Dek, gimana kondisinya sudah enakan?" tanya Angkasa yang duduk di samping Acha sambil memegang tangan mungilnya.


"Tadi Dedek mimpi Daddy meninggal bang, beruntung itu hanya mimpi" ujar Acha tersenyum.


Belum sempat Angkasa menjawab, Mommy dan Arthur sudah kembali dari pemakaman, Mommy terlihat sangat marah, dia menarik tangan Acha memaksanya untuk berdiri.


"Mom sakit" rintih Acha berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Sari.


"Dasar pembunuhan, anak pembawa sial, gara-gara kamu aku kehilangan suamiku" teriak Sari tepat di wajah Acha.


Saat mereka menuju makam, Arthur menceritakan semuanya, dimana Acha memaksa aarick menjemputnya padahal aarick tengah meeting bahkan Acha sampai mengancam aarick kalau bukan aarick yang menjemput Acha tidak akan pulang.


Saat perjalanan menuju sekolah mereka, mobil aarick mengalami kecelakaan tragis hingga membuat laki-laki merenggang nyawa.

__ADS_1


"Jadi ini bukan mimpi bang?" tanya Acha mulai menangis.


"Lepaskan Mom itu menyakiti Acha" emosi Angkasa mulai terpancing.


"Apa kesalahan yang aku lakukan di masa lalu hingga melahirkan anak pembunuh seperti kamu, aku menyesal melahirkan kamu kedunia, terkutuk kamu Acha" Sari tidak dapat membendung lagi amarahnya, dia makin mengencangkan cengkeraman di tangan anak itu.


"Mom" Angkasa tidak terima adiknya di perlakukan seperti itu oleh Mommy nya, Angkasa menarik tangan Acha yang satunya lalu menyembunyikan nya di belakang tubuhnya, Acha masih terisak dia sama sekali tidak membela diri nya di hadapan keluarga nya, ingin sekali dia memberikan tahu kalau Arthur ikut andil dalam kecelakaan itu.


"Mommy sudah keterlaluan, bagaimana Mommy bisa berbicara seperti itu di depan anak yang berusia 6 tahun" Angkasa takut kalau hal itu dapat mempengaruhi psikis Acha.


"Kamu membela anak itu?" tanya Mommy marah-marah.


"Makin kurang ajar kamu ya, gara-gara anak nggak tahu diri itu aku kehilangan suamiku suami yang sangat aku cintai kamu dan Arthur juga kehilangan sosok seorang ayah, gara-gara pembunuh itu"


Arthur diam saja sedari tadi, menyaksikan pertengkaran hebat di antara keduanya, Arthur tidak berani mengaku kalau dia yang meminta Dad untuk menjemput mereka, dia takut di benci oleh ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Mulai hari ini dan seterusnya aku akan menganggap Acha pembunuh Daddy bukan aku, aku akan menutup masalah ini rapat-rapat, hingga tidak ada siapapun yang mengetahui nya termasuk Mommy" batin Arthur.


"Gini deh, kamu pilih mom atau anak itu?" Angkasa tidak menjawab, dia mengingat pesan Daddy sebelum beliau meninggal, beliau meminta Angkasa agar tidak pernah meninggalkan Acha apapun yang terjadi termasuk saat seperti ini.


"Aku memilih meninggalkan kalian, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan Acha sendiri" Semenjak saat itu keluarga Dirgantara terpecah-belah, Mommy masih menyimpan dendam terhadap Acha.


Flashback end.


Pandangan Acha yang semula menatap lurus kedepan teralihkan oleh suara pintu yang terbuka, senyum Acha merekah saat tahu siapa yang datang.


"Wie geht es dir?" (Bagaimana keadaanmu nak?) tanya Oma meletakkan rantang nasi yang dia bawa.


"Mir geht es besser Oma" (Aku sudah membaik Oma)


Alaska membangunkan Sandra yang masih tertidur.

__ADS_1


Acha Alaska pict.



__ADS_2