
"Kalian langsung duduk aja, bunda panggil pakde sama Billy dulu" bunda Irma meninggalkan mereka. Keduanya bangun dari duduknya lalu menyalami pakde Herman
"Apa kabar?" tanyanya.
"Baik pakde, pakde sendiri apa kabar?" tanya Angkasa sekedar basa-basi.
"Pakde baik, ini Angkasa atau Arthur pakde rada lupa?"
"Angkasa pak"
"Hoy" teriak Billy dari atas.
"Kebiasaan kalau ada tamu jangan seperti itu" Herman berkali-kali memperingati anak semata wayangnya itu.
"Maaf yah"
"Udah tadi bang?" tanya Billy ikut nimbrung di antara mereka.
"Baru aja kami sampai" jawab Acha.
Irma membawa minuman untuk mereka di temani beberapa makanan ringan seperti cookies.
"Silahkan diminum, Sari, aarick dan Angkasa kenapa tidak ikut?" tanya Irma.
"Ini Angkasa loh Bun" ujar suaminya menunjuk laki-laki yang awalnya Irma kira Arthur.
"Maafkan budhe le, budhe gak tau"
__ADS_1
"Daddy sudah meninggal beberapa tahun silam, Mommy pergi dari rumah dan sekarang dia ada China bersama Arthur" Ujar Angkasa, seberangnya dia malas membahas mengenai itu lagi karena menurutnya hanya membuka luka lama yang sudah ia tutup selama ini.
Irma kikuk atas ungkapan Angkasa, dia merasa tidak enak karena sudah menanyakan itu pada keduanya.
"Innalilahi, maaf kami tidak tau kejadian itu menimpa keluarga kalian" ucap Herman merasa tak enak hati.
"Tak apa pakde"
"Sekarang apa kesibukannya?"
"Sekarang lagi nerusin perusahaan peninggalan Daddy pakde" ujar Angkasa sesekali menyesap teh yang di hidangkan Irma.
Billy tidak bisa mengalihkan pandangannya kepada sosok cantik di depannya, gadis yang berhasil merebut hatinya saat pertama kali bertemu, gadis yang berhasil meluluh lantakkan hatinya.
"Bil" Billy terperanjat kaget karena panggilan dari bunda.
"Lebih baik kita makan dulu, selagi masih hangat"
Mereka pindah ke meja makan, banyak makanan yang tersaji di meja, satu persatu mengambil, nasi beserta lauk pauknya, lalu makan dengan lahap, sesekali terdengar tawa dari mereka saat Billy membuat lelucon bodohnya.
Angkasa dan Herman pergi meninggalkan meja makan dan berbincang-bincang di teras rumah, Acha membantu Irma membawa piring kotor.
"Biarkan bibi aja nanti yang nyuci piring Cha" Ujar Irma.
"Cha boleh ngomong sebentar?" tanya Billy.
"Sebentar yah buna" Acha mengikuti Billy yang berjalan menuju taman belakang, dia duduk di kursi bercat putih.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Acha penasaran.
Billy terdiam cukup lama, hal itu membuat Acha ikut gugup dia teringat ucapan Sandra yang berkata kalau Billy menyukainya.
"Semoga itu tidak akan pernah terjadi" batin Acha.
"Cha gw suka sama Lo, Lo cinta pertama gw dan gw bersyukur cinta gw benar-benar Lo" ungkap Billy pada akhirnya, dia terlihat lega setelah mengungkapkan cintanya.
"Maaf bil, gw harus nolak Lo, kalau gw menerima cinta Lo saat kita putus nanti gw akan kehilangan sahabat gw sekaligus cinta gw"
"Itu gak akan pernah terjadi, gw cinta banget sama Lo"
"Gw udah pacaran sama Alaska" guman Acha tak enak.
"Kapan?" tanyanya, Acha melihat luka di mata Billy.
"Tadi"
Keduanya kembali terdiam, Acha merasa tak enak menyakiti hati Billy sedangkan Billy hatinya sakit saat menerima penolakan Acha.
"Maaf bil tapi gw cinta sama Alaska"
"Gw terlambat Cha, seandainya gw yang pertama ketemu Lo, apa Lo bakal suka sama gw? gw bakal berusaha mengikhlaskan Lo sama Alaska, gw bahagia kalau Lo bahagia walau kebahagiaan Lo bukan karena gw, gw cuma berharap dia tidak menyakiti dan membuat Lo menangis" Acha memeluk Billy erat mulutnya sedari tadi tak henti-hentinya mengucapkan maaf.
Billy.
__ADS_1