
Sandra membawa kotak obat untuk Acha, saat menuju ke taman Sandra melihat Alaska yang tengah duduk bersama Diki dan yang lainnya.
"Ka tolong bawa ini ke dong Acha" Sandra menyerahkan kotak obat nya kepada Alaska.
"Billy aja lah males gue" Tolak Alaska.
"Ya sudah Bil gue minta tolong tolong anterin ini ke Acha di taman belakang"
"Memangnya aja kenapa?" Tanya Billy menerima kotak obat.
"Itu tadi kita akan dipanggil oleh kepala sekolah, terus Acha ditempeleng sama kepala sekolah karena ada menendang perut anaknya si Bianca" Ujar Sandra menjelaskan apa yang terjadi di ruangan kepala sekolah tadi.
"Lalu Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Billy.
Alaska merebut kotak obat tersebut dari Billy dan langsung pergi menuju taman belakang.
"Alah bilangnya malas dengan aja dipukul langsung ngacir" Ejek Sandra kepada sepupunya yang sudah tidak terlihat lagi. Lalu Sandra menarik tangan Billy menuju kantin.
"Ih lama banget sih lo san" Ujar Acha tanpa melihat siapa yang datang karena terlalu fokus dengan handphonenya.
Alaska duduk di samping aja yang belum menyadari keberadaannya. Alaska menarik dagu aja untuk memeriksa keadaannya.
"Ya ampun calon imam" Ujar Acha cengengesan setelah menyadari iapa yang datang.
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Alaska meneliti pipi Acha yang memar.
"Bianca mulai duluan masak dia mau jambak gue ya gue tendang lah perutnya terus gue ditempeleng sama bapaknya" ujar Acha mengadukan semua kepada Alaska seperti seorang anak kecil yang mengadu kepada ibunya.
Alaska melempar kotak obat kepada Acha.
"Obatin dong suami eh maksudnya Alaska" Ucap Acha tertawa simpul.
Alaska tidak mengindahkan ucapan aja yang asyik berkicau di sampingnya. Alaska lebih memperhatikan sekitarnya yang benar-benar sepi tanpa ada seorang murid kecuali dirinya dan Acha.
"Aka" ujar aja menggoyangkan-goyangkan lengan Alaska.
"Alaska" Ujar Acha lagi karena tidak ada balasan dari laki-laki di sampingnya.
"Obatin" ucap Acha manja.
Mau tidak mau Alaska mengobati aja Alaska menuangkan obat merah di kapal selalu mengoleskannya di sudut bibir aja yang sedikit robek.
Alaska memperhatikan wajah Acha, baru kali ini dirinya melihat Acha dari dekat cantik bahkan sangat cantik.
Wajahnya yang kecil mungil, kedua matanya bulat dan dipadukan dengan netral berwarna coklat, hidungnya kecil mancung dan jangan lupakan bibir kecil yang merona itu.
"Ih jangan menatap seperti itu dong, nanti lo suka sama gue, nggak papa sih biar gue nggak capek capek berjuang" Ujar Acha tertawa sambil memukul lengan Alaska.
__ADS_1
Alaska meninggalkannya sendiri setelah kegep menatap Acha seperti itu, dirinya malu karena sempat terpesona oleh kecantikan yang dimiliki seorang Acha Dirgantara.
"Loh Ka Mau kemana udah puas lihatin gue?" Ledek Acha saat melihat Alaska pergi meninggalkannya.
Setelah kepergian Alaska Acha kembali mengecek handphone nya belum ada balasan dari angkasa namun pesannya sudah dibaca.
"Mana mungkin dia pulang, dia kan gila kerja" Acha mendumel sendiri.
"Ada apa Cha?" tanya Billy yang berdiri tidak jauh dari Acha.
"Eh duduk Bil" Acha menggeser tubuhnya agar Billy bisa duduk disampingnya.
"Masih sakit pipinya?" tanya Billy memeriksa pipa Acha memang terdapat bekas telapak tangan di pipinya.
"Sakit lah, masih nanya lagi" Ucap Acha sewot.
"Dih kok sewot tadi ngomong sama Alaska mulutnya manis-manis aja tuh" Ujar Billy mengacak-ngacak rambut Acha.
"Ih berantakan tahu udah di tata biar mirip jennie blackpink malah diberantakin" Acha kembali merapikan rambutnya.
Tring.....tring.
Bel pertanda berakhirnya istirahat telah berbunyi Aceh dan Billy pergi ke kelasnya masing-masing.
__ADS_1