Fake Smile Bad Girl

Fake Smile Bad Girl
Karena Angkasa.


__ADS_3

Sebelumnya Angkasa membangunkan Ellen dan Sandra memintanya untuk menggantikan baju Acha yang telah basah kuyup.


Ellen mengusap lembut tangan Acha memberikan kehangatan, tubuhnya dingin wajahnya sangat pucat.


"Cepatlah" teriak Angkasa frustasi. Angkasa melihat kebelakang melihat kondisi Acha masih sama tidak ada perubahan.


"Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi, gw gak bakal pernah maafin diri gw sendiri" batin Angkasa menyesal.


Apa yang telah di lakukan nya tadi, dia hampir membunuh orang yang sangat dia cintai.


Mobil mereka sampai di rumah sakit, Angkasa membopong tubuh Acha ke dalam.


"Dokter" teriak Angkasa.


Para perawat membawa ranjang hospital bed, Angkasa meletakkan Acha di sana lalu di dorong menuju ruang ICU.

__ADS_1


"Herzlichen Glückwunsch, egal was passiert, sonst werde ich dieses Krankenhaus zerstören" (Selamat kan dia bagaimana pun caranya kalau tidak aku akan menghancurkan rumah sakit ini) ujar Angkasa terhadap dokter yang akan menangani Acha.


"Gut, Sir" Dokter langsung memasuki ruang ICU dimana Acha berada. Angkasa mengerahkan semua dokter terbaik di rumah sakit ini, mereka mengobati Acha dengan sangat hati-hati mengingat tekanan dari Angkasa yang akan menghancurkan rumah sakit membuat mereka makin gugup di buatnya, siapa yang tidak kenal Angkasa Fahreza Dirgantara pemilik perusahaan terbesar di kota mereka.


Angkasa menunggu dengan tidak sabar, dia terus merutuki dirinya karena membuat Acha dalam bahaya.


"Maaf dad, aku hampir membunuh nya" batin Angkasa.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Sandra yang sedari tadi diam saja, dia terus beroda agar sahabat nya baik-baik saja.


"Gw mendorong dia ke kolam" Angkasa kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


"Lo mau ngebunuh Adek Lo sendiri" ujar Alaska yang terus memukul Angkasa.


Sandra berusaha menahan tubuh Alaska yang seperti kesetanan sedangkan Ellen membantu Angkasa berdiri sedari tadi Angkasa tidak melawan atau meninju balik Alaska, karena dia pantas menerima pukulan dari Alaska.

__ADS_1


"Kalau Lo gak bisa ngejaga dia biar gw yang ngejaga" nafas Alaska memburu menahan amarahnya.


"Bitte machen Sie hier keine Aufregung, Sie stören die anderen Patienten" (Tolong jangan membuat keributan disini, kalian mengganggumumu pasien yang lain) ujar salah seorang suster.


Alaska kembali duduk disamping Sandra, dia benar-benar tidak habis fikir, dimana otak Angkasa dia terus berbicara kalau dia tidak akan pernah membuat adiknya menangis tapi yang di lakukan malam ini benar-benar psiko dia.


Setelah itu dokter keluar, bersama Acha para suster mendorong hospital bed ke ruang ruang rawat.


"Mr. Angkasa, bitte folgen Sie mir" ( Pak Angkasa, tolong ikuti saya) Angkasa mengikut dokter sedangkan yang lain mengikuti para perawat yang membawa Acha.


"Bitte pass gut auf deine Schwester auf, das Trauma aus ihrer Vergangenheit kehrt zurück, wenn sie merkt, dass sie mit niemandem spricht oder später Angst vor dir hat" (Tolong jaga adik mu baik-baik, trauma di masa lalunya kembali lagi, dia tidak akan berbicara kepada siapapun saat dia sadar nanti, atau dia akan merasa terancam jika di dekat mu) Dokter menjelaskan secara spesifik kondisi pasiennya sekarang.


"Sir Angkasa muss immer an seiner Seite sein, Acha kann sich verletzen, wenn er alleine ist" (Tuan harus selalu ada di sampingnya, Acha bisa saja menyakiti dirinya sendiri)


"Was sollte ich tun" (Apa yang harus saja lakukan)

__ADS_1


"weiter mit dem Patienten sprechen, es wird langsam den Zustand des Patienten verbessern, den Patienten mit seinen Lieben treffen" (Terus ajak pasien berbicara, pertemukan pasien dengan orang-orang yang dicintainya, hal itu akan membuat dirinya membaik seiring waktu)



__ADS_2