
Aiken POV.
Aiken sedang uring-uringan di sofa ruang tamu, awalnya Aiken ingin mengejar Acha namun keduluan sama cowok tadi, Aiken juga ingin memberikan waktu untuk keduanya agar menyelesaikan masalahnya namun entah kenapa hatinya benar-benar tidak ikhlas, apa lagi di luar tengah hujan deras, Aiken mengecek lokasi Acha melalui GPS nya Aiken melakukan itu untuk jaga-jaga kalau nanti ada apa-apa sama Acha, lokasi GPS menunjukkan suatu rumah sakit, perasaan takut mulai menyelimuti hati Aiken.
"Bi Ina" panggil Aiken.
Bi Ina berlari menuju Aiken "Iya den"
"Tolong ambilkan baju untuk Acha yah bi" bi Ina langsung bergegas pergi menuju kamar Acha, bi Ina mengambil dress rumahan untuk Acha setelah itu dia kembali turun.
"Ini den" Aiken menerima paper bag setelah itu pergi kerumah sakit menggunakan mobil Angkasa, karena hujan deras jalanan tidak seramai biasanya, GPS menjadi tuntunan arahnya menuju Acha, tak berapa lama mobil Angkasa terparkir rapi di halaman rumah sakit, dia langsung menuju ke meja resepsionis sambil mengingat-ingat nama cowok yang berdebat dengan Acha tadi.
"Alaska ada di kamar UGD, mas jalan lurus saja setelah itu belok kiri disana ruang UGD berada"
__ADS_1
Aiken POV end.
Acha selesai menyumbang 3 kantong darah untuk Alaska, perawatan menyuruh Acha beristirahat sebentar namun dia tidak mau dia ingin menjelaskan seluruhnya pada keluarga Alaska yang menunggu dengan cemas.
"Acha" Anin memberikan Acha pelukan hangatnya, dia kembali menangis Aiken berjalan menuju dirinya, raut wajah Aiken khawatir melihat penampilannya sekarang.
"Honey" Aiken menenangkan Acha yang masih dalam pelukan Anin.
"Maafin Acha, kalau saja Alaska gak ngejar Acha mungkin Alaska masih baik-baik saja, seandainya Acha gak ngomong sesuatu yang membuat Alaska sakit hati"
"Honey lebih baik sekarang ganti baju, nanti honey bisa sakit kalau pakai baju yang basah" Acha melepaskan pelukannya Anin, Aiken menemaninya ke toilet, tangan Aiken memeluk pinggang Acha, dia tau Acha sedang dalam keadaan yang sangat hancur.
"Aku tunggu disini yah" Aiken menunggu di depan toilet, Acha mengganti baju kotor yang di penuhi dengan darah Acha, dia mengenakan dress berwarna coklat setelah itu dia kembali ke Aiken.
__ADS_1
Aiken menyisir rambut Acha yang masih basah dengan jari-jarinya, setidaknya tidak terlalu berantakan.
"Udah, udah cantik" Aiken tersenyum manis, senyum yang mampu menenangkan hati Acha, keduanya kembali ke ruang tunggu UGD yang awalnya sepi mendadak rame karena anggota Demon West tengah berkumpul disana, Acha juga melihat kehadiran Billy di tengah-tengah mereka.
Acha duduk di kursi sebelah Anin sedangkan Aiken pamit sebentar, Anin memeluknya dari samping, Aliya berusaha menahan tangisnya sedari tadi, dia takut akan kehilangan anak laki-laki satu-satunya itu, Herman terus menenangkannya sambil berkata kalau Alaska akan baik-baik saja.
Aiken membawa tas p3k yang Acha tak tau dia dapat dari mana, Aiken jongkok di bawah Acha, dia menuangkan obat merah ke kapas lalu mengoleskan nya ke luka di lutut Acha Aiken selalu meniupnya agar Acha tidak merasa perih setelah itu dia mengoleskan salep dan membungkus luka Acha menggunakan Betadine plaster.
"Terimakasih" ucap Acha tulus, Billy menyaksikan semuanya, namun dia tidak mau salah paham dia akan menanyakan nya setelah mendapatkan kesempatan dengan Acha.
Hayo lebih suka pasangan Aiken Acha, Acha Alaska atau Acha Billy?
__ADS_1