
Bak tersambar petir di siang bolong, Angkasa berjalan gontai menuju ruang rawat adik nya, beberapa kali dia menabrak pengunjung disana dan beberapa kali dia di hina-hina karena jalan tidak pakai mata.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Ellen saat mengetahui Angkasa yang membuka pintu ruang rawat Acha.
Angkasa tidak menjawab pertanyaan Ellen, dia pergi menuju tempat tidur Acha, di usapnya lembut rambut nya, di ciumannya pipinya.
Acha mengerjapkan matanya, pertama yang di lihat ada lah taman yang sangat indah dengan air terjun di dekat pohon yang rindang, Acha berada di tengah-tengah taman seorang diri tak ada si apapun. Bunga bermekaran dimana-mana kupu-kupu saling terbang mengejar satu sama lain.
"Acha putri Daddy" ucap sebuah suara yang tak tau berasal dari mana.
"Daddy?" Acha mencari dari mana sebuah sumber suara berasal. Acha melihat seorang laki-laki yang duduk, dia tersenyum ramah kepada Acha, dengan pakaian serba putihnya.
Bukannya takut Acha malah berlari menghampiri laki-laki tersebut, memeluknya erat sambil meneteskan air matanya.
"Daddy Dedek kangen" Acha tidak mau melepaskan pelukannya barang satu menit saja, dia takut Daddy kembali meninggalkan nya lagi.
__ADS_1
"Putri Daddy ternyata sudah besar yah, sudah menjadi gadis yang cantik, Angkasa menjaga mu dengan sangat baik nak" Ujar sang Daddy mencium kening Acha dengan lembut.
"Dedek ingin ikut Daddy saja, dedek gak mau di tinggal sama Daddy lagi, gak ada yang menyayangi dedek sama seperti Daddy, Mommy dan Arthur juga membenci ku dad" Acha mengadukan semua perilaku mereka kepada sang ayah.
"Acha gak boleh disini, Acha harus kembali sama mereka, banyak yang sayang sama Acha" ujar sang Daddy meyakinkan anak perempuannya.
"Gak, dedek gak mau sama mereka, dedek maunya sama Daddy" Acha kembali menangis.
Sang Daddy menuntun Acha untuk duduk di kursi tadi.
"Daddy gak tau setelah Daddy pergi, kami tumbuh tanpa kasih sayang keduanya bahkan keluarga dari Mommy memutuskan hubungan dengan kita, kita menderita tanpa adanya Daddy" Ujar Acha menangis tersedu-sedu.
🌺🌺🌺
Angkasa duduk di samping Acha yang masih setia memejamkan matanya, tidak ada pembicaraan di antara mereka, fokus mereka hanya satu yaitu Acha.
__ADS_1
Monitor berdetak dengan normal, monitor menunjukkan garis lurus, mereka panik Alaska segara memanggil dokter.
"Lassen Sie sich von unseren Patienten betreuen. Warten Sie besser draußen" (Biar pasien kami yang tangani, sebaiknya kalian tunggu di luar dulu) ujar suster.
"Acha harus bertahan" teriak Angkasa.
Angkasa menangis, dia tidak bisa kehilangan adik nya begitu saja.
"Kembalilah Cha, aku merindukan mu" Isak tangis Sandra.
"Maaf sudah hadir di tengah-tengah kalian, maaf sudah membuat hubungan kakak beradik jadi seperti ini, tolong kembalilah aku akan melepaskan Angkasa jika engkau selamat" batin Ellen ikut menangis.
Alaska terlihat kacau, dia menangis namun tidak ada yang menyadari nya.
"Tuhan selamatkan adik ku yang tengah berjuang antara hidup dan mati, selamatkan dia, engkau boleh mengambil nyawaku tapi tidak untuk adikku" batin Angkasa.
__ADS_1
Para dokter melakukan defibrilator atau alat kejut jantung, namun garis di monitor masih tetap menunjukkan garis lurusnya, 30 menit mereka bertarung dengan alat-alat medis namun Acha masih tertidur.