
Teman-temannya kembali ke rumah karena sudah pukul 02.00 dini hari kecuali Sandra, Ellen mereka memutuskan untuk menemani Acha.
"Geht nach Hause, lasst unseren Acha auf euch aufpassen, morgen seid ihr wieder da" (Kalian pulang lah biar Acha kami yang menjaganya, besok kalian kesini lagi) ujar Angkasa melihat guratan lelah di wajah keduanya.
"Wenn wir nach Hause gehen, hast du die Chance, Acha wieder zu verletzen" (Kalau kita pulang, kamu mempunyai kesempatan untuk menyakiti Acha kembali) judes Oma.
"Vertrau mir Bruder, ich kümmere mich darum" (Percaya lah sama Abang, aku akan menjaga nya).
"Nach dem, was Sie Acha angetan haben, bitten Sie uns immer noch, Ihnen zu vertrauen? Wow, du kennst dich selbst nicht" (Setelah apa yang kamu lakukan kepada Acha, kamu masih meminta kami untuk mempercayai mu? wah ternyata kamu tidak tau malu yah) sang Oma menatap Angkasa sinis.
"Lass sie sich um Acha kümmern" (Biarkan mereka menjaga Acha) opa menarik tangan istrinya menuju parkiran, meninggalkan mereka bertiga.
Angkasa meminta suster untuk mengirimkan satu hospital bed ke ruangan Acha, agar Ellen dan Sandra bisa tidur disana sedangkan Angkasa memilih tidur di sofa. Malam itu mereka tidur dengan pulas berbeda dengan Alaska yang tidak bisa tertidur karena memikirkan Acha.
"Lo kenapa?" tanya Diki melihat Alaska yang duduk memandangi pemandangan malam hari di kota Jerman melalui jendela kamarnya.
"Gw kepikiran Acha" jawab Alaska jujur.
__ADS_1
"Apa gak sebaiknya Lo kasih dia kesempatan, sampai kapan Lo mau nunggu Febby?" tanya Diki kembali. Ucapan Diki memang benar adanya, sampai kapan dia stuck di masa lalunya tapi dia tidak bisa membohongi hati nya kalau hatinya masih terukir nama Fabby.
"Bahkan Lo gak tau dia dimana? bagaimana kabarnya sekarang, atau bahkan dia sudah memiliki pacar" Alaska menatap Diki tajam.
"Billy itu suka sama Acha semenjak Acha menjadi siswa baru di SMA Angkasa" Jelas Alaska mendesah panjang.
"Tapi Acha suka sama Lo bukan sama Billy"
"Gw gak mau ngerusak pertemanan gw sama Billy hanya karena seorang perempuan"
🌺🌺🌺
Pagi harinya di rumah sakit Charite - Universitatsmedizin, Ellen bangun terlebih dahulu, dia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya lalu pergi menuju kantin rumah sakit.
Setelah memilih makanan untuk dirinya dan teman-temannya, Ellen langsung membayar nya lalu kembali ke ruang rawat Acha.
"Bruk" Seseorang menabrak tubuh Ellen sehingga makanan yang dia pegang jatuh beruntung tidak tumpang.
__ADS_1
"Entschuldigung, ich hatte es eilig, also habe ich Sie nicht gesehen, geht es Ihnen gut oder müssen Sie nachsehen?" (Maaf aku buru-buru tadi jadi tidak melihat mu, apa kau baik-baik saja atau kau perlu dokter) tanya Edward, Edward yang menabrak Ellen tadi.
Ellen tidak mengerti apa yang laki-laki tersebut ucapkan, Ellen hanya mengangguk, mengambil makanan yang sempat terjatuh tadi lalu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda tadi.
Edward juga pergi menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan rawat Acha ada dimana.
"Kamu sudah bangun" ujar Ellen melihat Angkasa duduk sambil memainkan handphone nya memeriksa beberapa dokumen yang Fero kirim melalui email.
"Kamu dari mana?" tanya Angkasa.
"Dari kantin tadi, aku ingin membicarakan sesuatu kepada mu"
Jangan lupa like, komen sama vote ya kakak cantik 🤗.
Acha, Ellen dan Sandra.
__ADS_1