
Pagi itu Frescha merasakan mual di perutnya dan dia langsung turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi , Frescha mengeluarkan semua isi perutnya , karena dia belum makan apa-apa , jadi hanya air yang keluar disana.
Dengan tubuh yang lemas , Frescha berjalan menuju ke kasur dan membangunkan suaminya yang masih tidur dengan nyenyak disana.
"Sayang" , ucap Frescha sambil mengguncang tubuh Jeremi.
"Kenapa sayang?" , ucap Jeremi yang masih mengantuk.
"Aku muntah-muntah sayang , apa aku hamil? Sejak kita menikah , sudah sebulan lebih ini kamu gak pakai pengaman sayang" , ucap Frescha.
"Apa!!! Masa secepat itu hamilnya" , ucap Jeremi sambil bangun dan duduk di kasur.
"Aku juga gak bisa memastikannya , tapi aku mual banget sayang" , ucap Frescha yang mulai mual lagi dan berlari ke kamar mandi.
Jeremi mengikuti Frescha sampai di kamar mandi.
Sampai akhirnya Frescha terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Jeremi membantu memapah tubuh Frescha ke atas kasur.
"Hari ini kita gak usah ke kampus sayang , kita ke rumah sakit saja" , ucap Jeremi.
"Iya sayang" , jawab Frescha.
Jeremi membantu menggantikan baju Frescha dan setelah itu mereka pergi ke rumah sakit.
Begitu di tempat registrasi Jeremi memberitahukan keluhan penyakit istrinya , perawat disana menyarakan untuk langsung konsultasi dengan dokter kandungan.
Akhirnya Jeremi dan Frescha mendaftar di dokter kandungan.
Perawat memanggil Frescha untuk melakukan serangkaian test , setelah itu baru Jeremi dan Frescha bertemu dengan dokter Maya.
"Dilihat dari hasil testnya , selamat ibu Frescha positif hamil , sekarang kita cek dulu kondisi kandungannya ya , silahkan menuju ke ranjang yang ada disana" , ucap dokter Maya.
Frescha yang sedang shock karena mengetahui dia hamil , berjalan naik ke atas ranjang yang ada disana.
"Ini janinnya ya , kondisi kandungannya sangat bagus , usia kandungannya baru 3 minggu , jangan terlalu banyak kerja dulu , jangan mengangkat barang berat juga karena usia kandungan di 3 bulan pertama sangat rentan" , ucap dokter Maya sambil tersenyum.
Frescha yang sudah tidak tau mau berkata apa , hanya menganggukkan kepalanya , sambil merapikan bajunya dan kembali duduk di depan meja dokter Maya , disebelah suaminya.
"Ini saya buatkan resep untuk penghilang rasa mual , penguat kandungan dan vitamin , mulai sekarang perbanyak makan sayur dan buah ya" , ucap dokter Maya sambil memberikan kertas putih yang sudah dituliskan resep disana.
__ADS_1
"Iya dokter , terima kasih" , jawab Frescha dan Jeremi sambil mengambil kertas yang diberikan oleh dokter.
Jeremi dan Frescha berjalan keluar dan membeli obat yang diresepkan oleh dokter Maya.
Setelah mendapatkan obatnya , mereka berjalan bersama menuju ke mobil.
"Kenapa harus secepat ini? Aku belum mau punya anak" , ucap Frescha yang sudah gak kuat menahan tangisannya lagi dan menumpahkan semua air matanya setelah mereka di dalam mobil.
"Sudah sayang , jangan nangis lagi" , ucap Jeremi sambil memeluk tubuh Frescha.
"Ini semua gara-gara kamu , aku sudah bilang kan pakai pengaman , kamu gak mau terus" , ucap Frescha.
"Karena lebih nikmat sayang kalau gak pakai karet itu" , jawab Jeremi.
"Tapi jadinya sekarang aku hamil , mana kakak dan kakak ipar aku sudah gak mengirimkan uang untuk aku , bagaimana kita bisa membesarkan anak kita nanti" , ucap Frescha.
"Kamu sabar sayang , aku pasti akan selalu mencari pekerjaan" , ucap Jeremi.
"Tapi sampai kapan kamu bisa dapat pekerjaan , sebelum kita lulus kuliah , anak ini sudah lahir sayang , aku gak mau anak ini , gak mau" , ucap Frescha dengan air mata yang sudah berderai di wajahnya yang cantik.
"Aku mohon kamu tenang dulu sayang , aku pasti akan terus mencari pekerjaan untuk keluarga kita , kamu jangan bilang gak menginginkan anak ini" , ucap Jeremi sambil terus memeluk dan menciumi kepala Frescha.
"Tapi bagaimana cara kita membesarkannya sayang , aku memasak saja belum bisa , bagaimana aku harus menjaga anak sendiri" , ucap Frescha.
Frescha pun menganggukkan kepalanya.
Jeremi sebenarnya juga kaget kalau mereka akan mempunyai anak , tapi semua ini terjadi karena dia menghemat untuk tidak membeli karet pengaman , akhirnya sekarang Frescha jadi hamil dan dia harus memikirkan cara untuk mendapatkan pekerjaan secepatnya.
Jeremi memberhentikan mobilnya di warung makan yang ada di dekat rumah mereka.
Setelah membeli beberapa jenis lauk dan sayur , Jeremi menjalankan kembali mobilnya menuju ke rumah mereka.
Selama dalam perjalanan Frescha hanya diam dan tidak ngomong apapun , dia seperti berkutat dengan pikirannya sendiri.
Frescha yang masih belum bisa menerima bahwa dirinya hamil , berjalan dengan perasaan sedih masuk ke dalam kamar mereka.
"Sayang , makan dulu yuk" , ajak Jeremi.
"Aku gak ada selera makan sayang" , jawab Frescha yang sudah seperti patung hidup duduk di atas kasur dengan pandangan yang kosong.
"Kamu makan dulu sayang , kalau kamu gak makan , gak bagus untuk perkembangan anak kita" , ucap Jeremi.
"Aku gak ada selera makan sayang , tolong jangan paksa aku , aku juga belum bisa menerima keadaan ini" , ucap Frescha dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu gak mau makan , gak apa apa , tapi jangan emosi seperti itu , kamu juga sudah terlanjur mengandung anak kita , biar bagaimana pun kita harus bisa menerimanya" , ucap Jeremi.
"Ini salah kamu , kamu yang salah , dulu ketika kita masih pacaran kamu bisa menjaga supaya aku gak hamil , kenapa setelah kita menikah kamu malah membuat aku hamil" , kata Frescha yang sudah emosi dan melampiaskan kekesalan disana.
"Iya sayang , aku salah , aku mohon maafkan aku , anak ini tidak bersalah , aku mohon kamu tenang ya , aku pasti akan mencari cara untuk mencari uang yang banyak untuk kita" , ucap Jeremi.
"Bagaimana caranya Jeremi , bagaimana caranya aku bisa tenang?" , tanya Frescha yang mulai mengeluarkan air matanya lagi.
Jeremi hanya bisa terdiam melihat istrinya menangis disana.
Jeremi berjalan keluar menuju ke ruang tamu dan duduk disana.
Jeremi mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelpon papanya.
Tidak lama terdengar suara dari sana.
"Halo Jeremi , ada apa?" , tanya papa Surya.
"Halo pa , kalau papa gak mau memberikan aku uang , paling gak berikan aku pekerjaan pa , Frescha hamil pa , jadi aku butuh uang pa" , ucap Jeremi mencoba memohon kepada papanya.
"Kamu mau bekerja apa di kantor papa , semua yang masuk disini adalah lulusan sarjana semua , kamu saja kuliah juga belum tamat , makanya kalau kamu tau susah cari uang , kenapa kamu meniduri anak gadis orang" , ucap papa Surya.
"Aku mohon pa , aku meminta pekerjaan dengan papa , bukan minta dimarahin" , ucap Jeremi.
"Gak ada pekerjaan untuk kamu disini" , jawab papa Surya.
"Baiklah pa" , ucap Jeremi sambil memutuskan sambungan telponnya.
"Sepertinya cara satu-satunya aku harus menerima pekerjaan yang diberikan oleh Martha , sekarang uang lebih penting untuk aku bisa menghidupi istri dan anak aku" , ucap Jeremi dalam hatinya.
Jeremi pun mencoba menelpon Martha.
Tidak lama terdengar suara dari sana.
"Halo Jeremi sayang , apa kamu sudah membuat keputusan?" , tanya Martha.
"Iya Martha , gue akan menerima pekerjaan menjadi pelayan di restoran mama loe , tapi gue bisa bekerjanya setelah jam kampus selesai" , ucap Jeremi.
"Baiklah sayang , semua itu bisa diatur" , jawab Martha sambil tersenyum puas yang pastinya Jeremi tidak bisa melihatnya.
"Kapan aku bisa mulai bekerja di restoran mama kamu?" , tanya Jeremi.
"Nanti setelah aku pulang ke rumah aku kabari mama aku , baru aku kabari kamu lagi" , ucap Martha.
__ADS_1
"Ok" , jawab Jeremi sambil memutuskan sambungan telponnya.