
Jeremi yang sudah sampai di kampusnya , membayar ojek yang dinaikinya dan langsung berlari menuju ke mobilnya.
"Sial , aku benar-benar sudah gak tahan , rasanya sakit sekali dan sesak" , ucap Jeremi dengan nafas yang berat sambil menahan sesuatu yang sebentar lagi akan meledak di balik celananya.
Jeremi menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya dengan kecepatan tinggi.
Sampai di rumahnya , Jeremi masuk dengan kunci yang dibawanya dan langsung berlari mencari istrinya.
Frescha yang sedang duduk di dalam kamar dengan berbagai macam pikiran disana , tidak menyadari bahwa suaminya sudah pulang.
Jeremi yang sudah tidak bisa menahannya lagi , langsung membuka semua pakaiannya dan mulai menciumi istrinya yang masih duduk melamun disana.
Frescha yang mendapatkan ciuman mendadak dari Jeremi langsung tersadar dari lamunannya.
Frescha yang terkejut , langsung mendorong tubuh polos Jeremi.
"Sayang , kamu kenapa sudah seperti ini? Kapan kamu pulang?" , tanya Frescha.
"Nanti ya aku jelasin , aku sudah gak tahan , aku mohon tolong aku sayang" , ucap Jeremi sambil mengambil tangan Frescha dan meletakkan di miliknya.
"Kenapa sudah keras begini sayang?" , ucap Frescha sambil mulai meremasnya.
"Aku hampir dijebak Martha sayang" , ucap Jeremi.
"Maksud kamu?" , ucap Frescha yang menarik tangannya dan mendorong tubuh polos suaminya sampai terjatuh ke kasur.
"Tapi aku gak masuk ke dalam jebakan dia , aku gak melakukannya sama dia , dia memainkan tangannya dimilik aku , memang awalnya aku sempat menikmatinya , tapi aku teringat dengan kamu dan aku mendorongnya , aku pergi meninggalkan dia" , ucap Jeremi.
"Bagaimana bisa kamu bersama dia? Aku lagi hamil anak kamu" , ucap Frescha.
"Makanya aku bilang aku gak melakukannya , dia yang membuat milik aku jadi begini , tapi aku gak melakukannya sayang , makanya aku cepat pulang , karena aku ingat istri dan anak aku , aku mohon bantu aku sayang , aku sudah gak bisa tahan lagi , sakit banget rasanya" , ucap Jeremi.
Melihat wajah Jeremi yang terus memohon , Frescha pun menjadi tidak tega.
"Aku harap apa yang kamu katakan benar Jeremi" , ucap Frescha dalam hatinya.
Frescha langsung memajukan wajahnya dan menciumi bibir Jeremi dengan lembut sampai memainkan lidahnya disana.
Jeremi yang sudah gak tahan lagi , langsung membuka semua pakaian istrinya dengan cepat dan memulai permainannya dengan cepat.
Jeremi yang sudah mengetahui titik sensitif yang ada di tubuh Frescha membuat dia bisa lebih cepat untuk melakukannya.
__ADS_1
"Sekarang sayang" , ucap Frescha dengan nafas yang sudah berat.
Jeremi langsung memasukkan senjatanya yang sudah meronta-ronta dari tadi ke dalam sarangnya yang tepat.
Jeremi mulai menggerakkan tubuhnya dengan cepat disana , karena dia sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi , sampai dia bisa meledakkannya di sana dan mencapai kenikmatan bersama.
Tidak lama Jeremi melepaskan tubuhnya , Frescha merasakan nyeri dan sakit di perutnya.
"Sayang , perut aku sakit" , ucap Frescha sambil memegang perutnya.
Jeremi langsung melihat istrinya , dan terlihat ada darah segar yang mengalir dari kedua paha Frescha.
"Sayang , kamu berdarah" , ucap Jeremi sambil bangun dan menggunakan pakaiannya.
Begitu Jeremi mengangkat tubuh istrinya , terlihat dua bukit yang sangat disukai itu terlihat dengan jelas disana.
"Aduh , aku belum memasangkan pakaian kamu" , gumam Jeremi yang meletakkan kembali tubuh istrinya dan mengambil baju istrinya di dalam lemari dan memasangkannya ke tubuh polos istrinya.
"Sakit banget sayang" , ucap Frescha.
"Sabar ya sayang" , ucap Jeremi sambil mengangkat tubuh istrinya dan membawanya sampai ke mobil.
Sampai di ruangan UGD dokter langsung memeriksa kondisi Frescha.
"Untung saja kalian cepat datang kesini , jadinya anak kalian masih bisa diselamatkan , saya mengerti kalau kalian masih terlalu muda dan masih memiliki hasrat yang tinggi , tapi lakukanlah dengan lembut , jangan terlalu cepat dan kasar , karena itu akan melukai anak kalian" , ucap dokter Maya.
"Iya dokter" , ucap Jeremi.
"Baiklah , biarkan istri kamu istirahat disini dulu untuk beberapa hari , sampai kondisi pulih" , ucap dokter Maya.
"Baik dokter" , ucap Jeremi.
Jeremi berjalan keluar mengurus untuk perawatan Frescha di rumah sakit , karena dia mempunyai uang yang terbatas , Jeremi tidak bisa memilih kamar VIP untuk istrinya , jadinya Jeremi memilih kelas biasa untuk perawatan istrinya selama di rumah sakit.
Setelah mengurus semuanya , Jeremi berjalan menuju ke ruangan UGD sambil memikirkan uangnya yang akan langsung menipis setelah ini.
"Sayang , maafkan aku sudah hampir mencelakai anak kita" , ucap Jeremi sambil mengecup kening istrinya.
"Kalau saja anak ini beneran gak ada , mungkin beban kita akan berkurang sayang , sekarang pasti uang kita lebih banyak habis karena aku dirawat disini" , ucap Frescha.
"Kamu jangan memikirkan uang terus sayang , yang penting sekarang kamu pulih dulu" , ucap Jeremi sambil mengelus kepala istrinya.
__ADS_1
"Kita memang belum siap untuk memiliki anak ini sayang , kita pasti tidak akan bisa merawatnya dengan baik" , ucap Frescha sambil menitikkan air matanya.
"Kamu jangan bicara begitu sayang , anak ini pemberian Tuhan , kalau Tuhan memberikannya kepada kita berarti kita sudah dipercaya bisa merawatnya dengan baik" , ucap Jeremi sambil mengusap air mata yang jatuh di wajah istrinya.
"Aku takut sayang , sangat takut" , ucap Frescha sambil menangis.
Jeremi langsung memeluk tubuh istrinya yang sudah bergetar disana karena menangis.
Tiba-tiba perawat datang...
"Maaf pak , kita mau memindahkan pasien ke dalam kamar perawatan" , ucap perawat wanita tersebut.
"Iya suster" , jawab Jeremi sambil berdiri.
Perawat mendorong ranjang Frescha menuju ke kamar yang sudah dipilih oleh Jeremi sebelumnya.
Sampai di kamar perawatan yang juga banyak pasien disana dan hanya dibatasi oleh gorden , membuat Jeremi pun merasakan tidak nyaman , tapi mau bagaimana lagi , karena hanya itu yang sanggup untuk dibayarnya.
"Tolong selama disini jangan membuat keributan ya , karena bisa mengganggu pasien yang lain" , ucap perawat setelah ranjang Frescha di letakin di salah satu tempat disana.
"Baik suster" , jawab Jeremi.
Perawat juga menarik gorden untuk memisahkan Frescha dan pasien di sebelahnya , setelah itu perawat tersebut berjalan meninggalkan ruangan perawatan tersebut.
"Maafkan karena aku hanya bisa memberikan kamar ini untuk kamu sayang" , ucap Jeremi dengan lirih di dekat telinga Frescha.
"Iya gak apa apa sayang , aku mengerti kondisi kita sekarang".
"Aku benar-benar mendapatkan istri yang pengertian" , ucap Jeremi dalam hatinya.
"Sayang , kamu tolong ambilkan beberapa pakaian untuk aku dirumah ya" , ucap Frescha.
"Kamu gak apa apa aku tinggal sendiri disini sayang?"
"Gak apa apa sayang , disini kalau ada apa apa aku bisa menekan bel ini" , ucap Frescha sambil mengangkat bel yang ada di samping bantal kepalanya.
"Baiklah sayang , aku pergi sekarang dan akan kembali secepatnya" , ucap Jeremi sambil mengecup kening istrinya.
Frescha pun menganggukkan kepalanya.
"Aku gak akan terjebak lagi dengan Martha , sesusah apapun aku mencari pekerjaan , aku gak akan mau mempercayai perkataan dia lagi" , ucap Jeremi dalam hatinya sambil berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke mobilnya.
__ADS_1