Gadis Biola Dibawah Sinar Rembulan

Gadis Biola Dibawah Sinar Rembulan
Sinar Bulan Ep 57


__ADS_3

"Bu Minah kerjanya bagus gak sayang?" , tanya Charlie setelah keluar dari kamar mandi.


"Gak tau mas , Bulan aja gak mau sama bu Minah. Setiap dia dekati Bulan pasti selalu menangis" , jawab Alexa yang sedang bermain dengan anaknya di atas kasur.


"Kenapa anak papa gak mau sama bu Minah?" , tanya Charlie.


"Gak papa" , jawab Bulan sambil menggelengkan kepalanya.


"Kayaknya bu Minah itu gak cocok untuk menjaga Bulan mas" , ucap Alexa.


"Kita lihat dalam satu minggu ini dulu ya sayang. Kan bu Minah juga baru datang" , ucap Charlie.


"Iya mas" , jawab Alexa.


Charlie berjalan menuju ke kasur dan ikut bermain bersama dengan anaknya.


********


Frescha yang sedang berada di kota Y sudah mulai tenang sejak adanya Mina yang membantu di warung makan papa dan mamanya.


"Sayang , sebentar lagi aku akan melahirkan. Kita beli perlengkapan bayi ya" , ucap Frescha.


"Iya sayang , tapi belinya yang murah-murah saja ya. Uang sisa kemaren sudah gak banyak" , ucap Jeremi.


"Iya sayang , lagian aku juga sudah dikirimin uang bulanan lagi sama kak Charlie" , jawab Frescha sambil tersenyum.


"Benarkah sayang" , ucap Jeremi yang terkejut.


"Iya sayang. Biar begitu , kakak aku itu sangat menyayangi aku. Kakak pasti gak mau melihat adiknya yang cantik ini susah" , jawab Frescha.


"Kamu beruntung memiliki kakak yang baik seperti itu. Orang tua aku saja gak perduli melihat anaknya susah seperti ini" , ucap Jeremi dengan lirih.


"Ya sudah sayang , sekarang kita jalani saja ya hidup kita" , ucap Frescha.


"Iya sayang , semoga setelah lulus kuliah , aku bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus dan bisa membahagiakan kamu dan anak kita" , ucap Jeremi sambil mengelus perut istrinya yang sudah besar itu.


"Iya sayang , makanya kamu yang benar belajarnya" , ucap Frescha.


"Iya sayang , aku pasti akan belajar yang benar" , jawab Jeremi.


********


Bu Minah yang sudah masuk ke dalam kamarnya , menelpon anaknya Tini.


Tini yang sedang melayani pak Satrio salah satu lelaki hidung belang di kampung yang kaya raya dan sangat menyukai Tini , dia selalu memberikan apapun yang Tini mau , asalkan Tini selalu mau melayani hasrat dia.

__ADS_1


"Siapa yang menelpon kamu sayang" , ucap pak Satrio yang sibuk menyesap salah satu bukit kembar Tini.


"Mami aku" , jawab Tini yang sudah mengambil ponselnya.


"Mau apa mami kamu menelpon kamu. Biarkan saja , lebih baik kita menikmati saat ini" , ucap pak Satrio.


"Tapi aku harus mengangkatnya" , ucap Tini.


"Ya sudah , kamu angkat saja" , jawab pak Satrio yang terus menikmati tubuh Tini.


Tini menyentuh tombol terima panggilan yang ada di layar ponselnya.


"Halo mami" , jawab Tini.


"Halo Tini , kamu lagi dimana?" , tanya bu Minah.


"Biasa la , aku lagi di rumah pak Satrio" , jawab Tini.


"Sudah , kamu jangan melayani pria tua itu terus. Sekarang kamu harus bisa menghentikan kebiasaan kamu yang tidur dengan pria tua. Mami sudah menemukan pria muda yang pantas untuk kamu" , ucap bu Minah.


"Benarkah mami" , ucap Tini.


"Benar , makanya kamu mulai besok jangan mau lagi disuruh melayani pria tua di kampung" , ucap bu Minah.


"Apakah dia tampan dan kaya mami?" , ucap Tini.


"Baik mami" , jawab Tini sambil memutuskan sambungan telponnya.


"Apakah kamu akan dijodohkan sayang?" , ucap pak Satrio.


"Iya sayang , tapi kamu tenang saja. Aku akan terus melayani kamu , asalkan kamu memberikan aku uang terus" , ucap Tini sambil tersenyum.


"Apakah nanti ibu kamu gak tau?" , ucap pak Satrio yang sempat mendengar perkataan bu Minah.


"Biarin saja , buat mempercantik diri kan butuh uang juga. Mami gak mengirimkan aku uang , bagaimana aku bisa membeli untuk perawatan kecantikan" , jawab Tini yang menikmati setiap sentuhan dan ciuman dari pak Satrio.


"Kamu benar-benar pintar sayang. Aku akan memberikan uang lebih untuk kamu mulai sekarang. Semakin kamu terlihat cantik , aku juga semakin suka sama kamu" , ucap pak Satrio.


"Iya sayang , tapi saatnya tiba. Aku akan pergi bersama dengan pria muda yang tampan dan kaya itu" , jawab Tini.


"Sebelum kamu pergi , aku bisa menikmati tubuh kamu setiap hari. Bahkan kamu akan tinggal terus di dalam kamar aku , karena aku sudah membayar kamu lebih" , ucap pak Satrio.


"Gak bisa gitu pak , aku juga harus pulang" , jawab Tini.


"Kamu jangan salah sayang , kamu meminta uang lebih. Berarti kamu harus menuruti permintaan saya" , ucap pak Satrio.

__ADS_1


Tini pun hanya bisa menelan saliva nya kuat-kuat.


"Kalau pria tua ini tidak mau melepaskan aku saat aku harus pergi , bagaimana ini?" , ucap Tini dalam hatinya.


Pak Satrio terus melanjutkan menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Tini yang sangat disukainya itu.


Tini terus memikirkan cara untuk mendapatkan uang lebih banyak dari pak Satrio sebelum dia meninggalkan pria tua itu.


"Sayang , aku mau membeli rumah disini. Apakah kamu mau membelikannya untuk aku?" , ucap Tini.


"Rumah aku ini kan sudah besar sayang. Apa ini gak cukup buat kamu?" , ucap pak Satrio dengan nafas yang tersengal-sengal setelah meledakkan larva panas di dalam perut Tini.


"Ini kan rumah kamu , aku mau rumah atas nama aku sendiri. Baru aku akan tinggal dengan kamu" , ucap Tini.


"Gampang itu sayang. Rumah kontrakan aku banyak , kamu bisa pilih salah satu" , ucap pak Satrio.


"Aku gak mau yang kecil , aku mau yang besar juga" , ucap Tini.


"Kalau kamu mau rumah besar , kamu harus menikah dengan aku dan melahirkan anak-anak aku" , ucap pak Satrio.


Tini pun langsung mengganti ucapannya.


"Kalau gitu rumah yang kecil gak apa-apa juga. Asalkan rumahnya atas nama aku" , ucap Tini.


"Baiklah sayang" , ucap pak Satrio sambil melepaskan tubuhnya dari tubuh polos Tini dan berjalan turun dari kasur menuju ke lemarinya.


Tini yang melihat pak Satrio membuka lemarinya , langsung turun dari kasur , berjalan dengan tubuh polosnya dan mendekati pak Satrio.


"Ternyata kamu punya brankas ya sayang" , ucap Tini sambil melihat isi brankas yang penuh dengan surat-surat penting , emas dan uang disana.


"Pastilah aku punya brankas , gak mungkin orang seperti aku gak punya" , ucap pak Satrio dengan sombongnya


"Apa kata sandi dari brankasnya?" , tanya Tini.


"Kamu gak boleh tau sayang , kecuali kalau kamu istri sah aku" , ucap pak Satrio.


"Masa aku gak boleh tau , aku selalu memanjakan kejantanan milik kamu. Apakah itu masih kurang?" , ucap Tini sambil menyentuh senjata pamungkas milik pak Satrio.


"Belum cukup sayang , karena kamu bukanlah siapa-siapa aku. Kamu hanya teman pemuas nafsu aku" , ucap pak Satrio sambil tertawa.


Tini yang merasa kesal langsung berjalan mengambil semua bajunya yang berserakan di lantai.


"Jangan marah sayang , ini aku punya kontrakan untuk kamu. Besok aku akan urus ke notaris untuk balik nama" , ucap pak Satrio yang hanya dengan begitu dia bisa menahan Tini dan melanjutkan permainan panas mereka lagi.


"Benarkah sayang" , ucap Tini sambil berlari dengan tubuh polosnya memeluk pak Satrio.

__ADS_1


Pak Satrio pun langsung menggerakkan tangannya dan mulai menjelajahi tubuh Tini lagi.


__ADS_2