
Keesokan harinya Frescha yang masih belum bisa menerima keadaanya , tidak mau pergi ke kampus.
"Kalau gitu aku pergi ke kampus dulu ya sayang , kamu baik-baik dirumah" , ucap Jeremi sambil mencium bibir istrinya.
Biasanya Frescha akan memainkan lidahnya disana , tapi sekarang Frescha hanya diam dan gak memberikan respon apapun kepada Jeremi.
Melihat Frescha seperti itu , Jeremi pun menjadi merasa bersalah , karena sudah membuat istrinya hamil.
Karena Frescha masih diam sambil duduk di atas kasurnya , akhirnya Jeremi memutuskan untuk langsung pergi ke kampus.
Setelah Jeremi pergi ke kampus , Frescha menelpon kakaknya.
Charlie yang pagi itu sedang bersiap-siap mau ke kantor , mendengar suara ponselnya berbunyi , langsung melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi begitu.
"Frescha telpon aku sayang , pasti dia mau menanyakan masalah uang bulanannya" , ucap Charlie.
"Coba kamu angkat dulu mas" , jawab Alexa yang sedang berjemur bersama Bulan di balkon kamar mereka.
Charlie menyentuh tanda terima panggilan telpon disana dan menyalakan speaker yang ada di ponselnya.
"Halo dek" , jawab Charlie.
"Halo kak , aku hamil kak" , ucap Frescha sambil menangis.
"Kalau kamu hamil , kenapa kamu menangis , harusnya kamu bahagia" , ucap Charlie.
"Aku gak tau bagaimana mau bahagia kak dengan adanya anak ini kak" , ucap Frescha dengan suara terisak tangis.
Alexa yang mendengar suara Frescha menangis pun jadi penasaran dan penuh tanda tanda.
"Memangnya kamu kenapa dek?" , tanya Charlie.
"Aku dan Jeremi sekarang hidup kami susah kak" , jawab Frescha.
Charlie dan Alexa langsung terkejut mendengar perkataan adik mereka.
"Bukannya suami kamu itu anak orang kaya" , ucap Charlie.
"Iya kak , tapi Jeremi sudah gak mendapatkan uang bulanan lagi dari papa dan mamanya , ditambah kakak juga gak memberikan aku uang lagi" , ucap Frescha.
"Jadi sekarang , bagaimana kalian hidup?" , tanya Charlie.
"Kami masih punya uang dari pemberian tamu undangan di hari pernikahan kak" , jawab Frescha.
"Apa suami kamu gak mencari pekerjaan?" , tanya Charlie.
"Jeremi sudah mencari pekerjaan kak , tapi masih belum dapat" , ucap Frescha.
"Ya nanti kakak coba bahas dulu dengan kakak ipar kamu ya , karena awalnya kakak pikir kan kamu sudah memiliki suami , jadi sekarang suami kamu yang seharusnya membiayai kamu , kakak cuma membayarkan uang kuliah kamu saja" , ucap Charlie.
"Iya kak , aku mohon kalau kakak mau membantu aku lagi" , ucap Frescha yang masih terisak tangis disana.
"Nanti kakak kabari lagi ya dek" , ucap Charlie.
"Iya kak , terima kasih ya" , jawab Frescha yang sudah berubah sejak dia menikah , kalau dulu dia gak pernah mengucapkan terima kasih ketika kakaknya mengirimkan uang untuknya.
"Iya dek" , jawab Charlie sambil memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1
"Gimana sayang?" , tanya Charlie.
"Aku gak tau mas mau gimana , pastinya aku kasihan dengan Frescha , aku gak menyangka kalau dia akan hidup susah setelah menikah" , ucap Alexa.
"Iya sayang , apa kita kirimkan saja lagi uang bulanan untuk dia" , ucap Charlie.
"Ya terserah kamu mas , aku gak ada masalah" , jawab Alexa.
"Aku coba telpon mama dulu ya sayang" , ucap Charlie.
Alexa pun menganggukkan kepalanya.
Mama Vivi yang sedang bersiap-siap untuk membuka warung makan miliknya pagi itu , mendengar ponselnya berbunyi , langsung mengangkatnya.
"Halo" , jawab mama Vivi.
"Halo ma , tadi Frescha telpon aku , katanya sekarang dia hidupnya susah dan dia juga sedang hamil sekarang" , ucap Charlie.
"Bagaimana dia bisa hidup susah , dulu dia sering bilang kalau dia akan hidup seperti putri di rumah pacarnya , dan waktu itu dia datang kesini , dia tidak memberitahukan kepada mama kalau dia sedang hamil" , ucap mama Vivi.
"Aku juga terkejut mendengarnya tadi ketika dia menelpon aku sambil menangis" , ucap Charlie.
"Memang waktu itu ketika mereka kesini , papa juga merasa ada yang berbeda dengan Frescha dan Jeremi , tapi mama berpikir biarkan dia mencoba menjalani hidupnya dulu , supaya dia tau bagaimana menjalani hidup , jangan sesuka hatinya saja" , ucap mama Vivi.
"Aku berencana mau mengirimkan kembali uang bulanan untuk dia ma" , ucap Charlie.
"Itu terserah kamu nak , mama gak akan ada masalah" , ucap mama Vivi.
"Tapi kalau mereka hidup susah , apa Frescha bisa kuliah dengan tenang ma" , ucap Charlie.
"Soalnya aku gak ingin nanti kuliahnya jadi terlantar setelah mereka menikah ma" , ucap Charlie.
"Iya nak , dia pasti akan menyelesaikan kuliahnya" , ucap mama Vivi.
"Baiklah ma" , jawab Charlie sambil memutuskan sambungan telponnya.
Papa Teddy yang mendengar percakapan mama Vivi dengan Charlie...
"Charlie bilang apa ma?"
"Katanya Frescha menelpon dia sambil menangis pa , mengatakan bahwa hidupnya sekarang susah dan sekarang juga dia sedang hamil" , ucap mama Vivi.
"Apa ma , anak kita hamil?"
"Iya pa , begitu Charlie bilang".
"Bagaimana kalau mereka disuruh tinggal dirumah kita saja ma , paling gak dengan tinggal bersama kita , mereka gak perlu memikirkan biaya makan , hanya perlu belajar saja sampai lulus kuliah" , ucap papa Teddy yang gak tega kalau melihat anak perempuannya susah.
"Tapi pa , kalau nanti dia suka-suka lagi gimana?"
"Papa rasa dia gak akan berani ma , apalagi sekarang kan dia sudah menikah , dulu kan dia itu lama diluar karena suka pergi dengan Jeremi" , ucap papa Teddy.
"Ya nanti mama coba telpon dia , sekarang juga kan dia lagi di kampus pa" , ucap mama Vivi.
"Iya ma" , jawab papa Teddy sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
********
__ADS_1
Jeremi yang sudah sampai di kampus , didatangi oleh Martha.
"Hi Jeremi sayang , tumben ke kampus sendiri , istri loe mana?" , tanya Martha.
"Istri gue lagi gak enak badan" , jawab Jeremi.
"Oh , ok....gue mau kasih tau kalau loe diterima bekerja di restoran nyokap gue" , ucap Martha.
"Jadi kapan gue bisa bekerja?" , tanya Jeremi dengan bahagia.
"Terserah loe , kalau mau nanti setelah pulang dari kampus gue bisa temenin loe ke restoran nyokap gue".
"Boleh" , ucap Jeremi.
"Baiklah , nanti siang gue tunggu loe di parkiran mobil seperti biasanya ya sayang" , ucap Martha sambil menyentuh wajah Jeremi.
Jeremi pun menganggukkan kepalanya.
Jeremi masuk ke kelasnya dan mengikuti pelajaran hari itu sampai kelas berakhir.
Setelah kelas hari itu selesai , Jeremi berjalan menuju ke tempat parkiran , dimana dia biasa bertemu dengan Martha saat mereka masih bersama dulu.
"Martha" , panggil Jeremi yang sudah melihat Martha berdiri di depan mobilnya.
"Hi sayang" , ucap Martha.
"Jadi gue harus jalan kearah mana nanti , apa gue ikutin mobil loe saja" , ucap Jeremi.
"Jangan sayang , loe ikut mobil gue saja , nanti gue anterin loe ke sini lagi buat ambil mobil , gimana?" , ucap Martha.
"Baiklah" , jawab Jeremi.
Jeremi masuk ke dalam mobil Martha , Martha pun langsung tersenyum puas melihat Jeremi mau mengikutinya dengan mudahnya.
Martha menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang biasanya mereka datangi untuk berkencan dengan Jeremi dulu.
"Kenapa loe bawa gue kesini? Bukankah kita mau ke restoran nyokap loe?" , tanya Jeremi.
"Sabar dulu sayang , gue sudah kangen sama loe , udah lama kita gak bersenang-senang" , ucap Martha sambil menyentuh tubuh Jeremi.
"Jangan gila loe , gue sudah menikah , sebentar lagi gue juga akan punya anak" , ucap Jeremi.
"Gue gak minta loe nikahin gue , kita bisa menjadi teman tidur seperti dulu lagi" , ucap Martha sambil duduk di atas kaki Jeremi dan memainkan tangannya disana.
Pastinya membuat senjata yang dimiliki Jeremi sudah berteriak minta keluar dari sana karena sentuhan lembut dari tangan Martha.
Tapi Jeremi berusaha mengembalikan kesadarannya dan mengingat kalau dia memiliki istri yang sedang bersedih di rumah.
"Stop Martha" , ucap Jeremi sambil menahan tangan Martha yang sudah menyentuh miliknya dari tadi.
"Loe yakin mau berhenti sekarang , disini sudah mulai mengeras" , ucap Martha.
"Gue bilang berhenti , minggir loe" , ucap Jeremi sambil mendorong tubuh Martha dengan kasar.
Jeremi membenarkan celananya dan keluar dari mobil , menaiki ojek yang sedang mangkal di sana.
Martha yang kesal ditinggal oleh Jeremi di dalam mobilnya , langsung memukul stir mobilnya dengan keras menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1