
Setelah sore , warung makan milik orang tua Frescha pun sudah ditutup.
"Sayang , kaki aku pegel banget" , ucap Frescha yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Jeremi yang sudah melihat istrinya berdiri sangat lama di tempat cuci piring , langsung naik ke atas kasur dan memijit kaki istrinya.
"Sayang , kenapa mama gak pakai orang kerja saja buat membantu di warung makan?" , ucap Jeremi.
"Aku juga gak tau sayang , mama itu dari dulu sangat pelit , semuanya dia hitung , mungkin mama akan merasa rugi kalau dia harus menggaji karyawan" , jawab Frescha.
"Tapi papa kan sudah berumur , sudah gak kuat juga buat membersihkan semuanya di warung makan sendiri , aku saja yang cuma membersihkan meja dan mengangkat piring aja terasa capek" , ucap Jeremi.
"Iya sayang , coba besok pagi aku bilang sama mama ya , sekarang aku capek banget" , ucap Frescha.
"Iya sayang , aku juga kasihan mendengar papa yang jatuh terpeleset di warung makan , orang sudah tua kan gak bagus kalau terjatuh" , ucap Jeremi.
"Iya sayang , aku gak menyangka kalau kamu akan perhatian seperti ini sama papa aku" , ucap Frescha.
"Semenjak aku diusir dari rumah dan hidup berdua bersama kamu , aku sudah banyak introspeksi diri sayang , disaat kita susah...yang membantu kita siapa? Orang tua kamu dan saudara kamu kan. Orang tua aku yang kaya itu saja , ketika aku meminta pekerjaan juga gak diberikan" , ucap Jeremi dengan lirih.
"Sudah sayang , sekarang kamu kan gak sendirian , ada aku dan keluarga aku" , ucap Frescha sambil duduk dan menyentuh wajah sendu suaminya.
"Iya sayang , meskipun sekarang aku hidup sederhana , tapi aku bahagia karena mendapatkan perhatian dari keluarga kamu disini , gak seperti orang tua aku yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku bisa tidur dengan wanita-wanita itu dulu , juga karena aku selalu merasa kesepian sendirian di rumah , makanya aku pergi bermain-main dengan para wanita. Aku gak menyangka begitu papa tau , aku malah diusir dari rumah" , ucap Jeremi dengan lirih dan suara serak sambil menahan tangisnya.
"Iya sayang , sekarang kita sudah bahagia disini , kamu jangan mengingat kenangan buruk itu lagi ya" , ucap Frescha sambil memeluk tubuh suaminya.
Jeremi yang sudah tidak bisa menahan emosinya pun menumpahkan air matanya di bahu istrinya.
"Menangis lah sayang , kalau dengan menangis bisa membuat kamu merasa lebih lega , maka keluarkan lah semuanya" , ucap Frescha sambil membelai kepala Jeremi.
Jeremi pun langsung menangis dengan sejadi-jadinya dalam pelukan istrinya.
Pelukan hangat dari wanita yang awalnya dia dekati hanya menginginkan untuk mendapatkan keperawanannya sampai akhirnya dia menjadi candu dengan tubuh wanita yang menjadi istrinya sekarang dan tidak bisa melepaskannya lagi.
Pelukan dari wanita yang sekarang sangat dia cintai dan akan menjadi tempat sandaran untuknya sampai tua nanti , juga akan menjadi ibu dari anak-anaknya yang akan lahir.
Semua rasa kesepian yang dulu Jeremi rasakan , sekarang sudah terobati dengan adanya wanita yang menjadi istrinya sekarang.
"Makasih sayang , aku beruntung memiliki kamu dalam hidup aku" , ucap Jeremi setelah lebih tenang.
"Iya sayang , sekarang kita sudah menjadi suami istri , kalau kamu ada masalah , kamu bisa berbagi dengan aku dan sebaliknya" , ucap Frescha.
"Iya sayang" , jawab Jeremi.
********
Malam harinya di kota B , terdengar suara ponsel Charlie yang berbunyi dengan sangat keras di dalam kamar.
__ADS_1
Charlie dan Alexa langsung terbangun dari tidur mereka.
"Siapa yang menelpon tengah malam begini mas?" , tanya Alexa.
"Jaka satpam di AH Konveksi sayang" , jawab Charlie sambil menyentuh tombol terima panggilan disana.
"Halo" , jawab Charlie.
"Halo pak , ini bu Reni pingsan saat bekerja. Bagaimana ini pak?" , tanya Jaka.
"Apa!!! Kenapa dia bisa pingsan?" , tanya Charlie yang terkejut.
"Gak tau pak , kata pegawai yang lain , sebelumnya dia muntah-muntah , gak lama setelah itu bu Reni langsung pingsan" , jawab Jaka.
"Kamu bawa ke rumah sakit saja" , ucap Charlie.
"Mau dibawa ke rumah sakit mana tengah malam begini pak? Lagian kalau saya pergi , siapa yang akan menjaga disini" , ucap Jaka.
"Kamu coba hubungi suaminya" , ucap Charlie.
"Kami sudah mencoba menghubunginya pak , tapi tidak aja jawaban" , jawab Jaka.
"Baiklah , kalau gitu saya kesana sekarang" , ucap Charlie.
"Baik pak" , jawab Jaka.
"Ada apa mas?" , tanya Alexa yang mulai khawatir.
"Terus kamu mau pergi untuk membawanya ke rumah sakit?" , tanya Alexa.
"Iya sayang , soalnya Jaka gak mungkin meninggalkan AH Konveksi" , jawab Charlie.
"Kenapa gak hubungi suaminya mas?" , tanya Alexa yang gak mau suaminya membawa Reni ke rumah sakit.
"Mereka sudah menghubunginya , tapi gak diangkat sayang" , ucap Charlie.
"Apakah ini jebakan lagi mas?" , ucap Alexa.
"Kayaknya gak mungkin sayang , aku coba lihat dulu ya" , ucap Charlie sambil turun dari kasur , mengambil bajunya di lemari dan mengganti bajunya di sana.
"Aku gak mau kamu pergi mas" , ucap Alexa.
"Biar bagaimana pun dia masih karyawan aku sayang , aku harus mengurusnya" , ucap Charlie.
"Kalau gitu aku ikut ya mas" , ucap Alexa sambil turun dari kasur dan berjalan mendekati suaminya.
"Jangan sayang , nanti kalau kita pulang telat , Bulan bagaimana?" , ucap Charlie.
__ADS_1
"Tapi mas" , ucap Alexa.
"Aku pastikan gak akan terjadi hal yang macam-macam sayang" , ucap Charlie sambil mencium bibir istrinya.
Alexa mengambil kesempatan itu untuk menahan suaminya.
Alexa terus menahan bibir suaminya sambil menciumnya dengan intens dan memainkan lidahnya disana sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Charlie yang sangat menyukai ciuman dari istrinya itu pun sangat menikmati untuk beberapa saat.
"Aku harus pergi sayang" , ucap Charlie dengan nafas terengah-engah setelah Alexa melepaskan bibirnya.
"Apa kamu sudah gak mau berduaan dengan aku lagi mas?" , ucap Alexa yang masih gak menginginkan suaminya pergi.
"Bukan begitu sayang , aku kan sudah bilang disana aku pemimpinnya , jadi aku harus mengurusnya" , ucap Charlie sambil melepaskan tangan istrinya dan pergi dari sana.
Alexa hanya menatap punggung suaminya yang tetap pergi dengan tatapan yang kecewa.
Setelah Charlie keluar dari kamar , Alexa mulai berjalan naik ke atas kasur dan masuk kembali ke dalam selimutnya yang tebal itu.
.
.
Charlie yang sudah sampai di AH Konveksi , langsung berjalan masuk ke dalam.
"Bagaimana kondisi Reni?" , tanya Charlie.
"Masih pingsan pak" , jawab Jaka.
"Sekarang kamu tolong masukin dia ke mobil saya" , ucap Charlie.
"Baik pak" , jawab Jaka sambil menggendong tubuh Reni dan memasukkannya ke dalam mobil Charlie.
Charlie membawa mobilnya menuju ke rumah sakit yang ada di dekat AH Konveksi.
Ketika hampir sampai di rumah sakit , Reni pun tersadar dari pingsannya.
"Aku dimana sekarang?" , tanya Reni.
"Kamu mau aku bawa ke rumah sakit" , jawab Charlie.
"Kenapa aku bisa bersama kamu?" , tanya Reni.
"Tadi Jaka mengabari kalau kamu pingsan di kantor" , jawab Charlie.
"Terima kasih ya , kamu masih mau peduli dengan aku" , ucap Reni.
__ADS_1
"Bukan aku mau peduli , tapi karena aku gak mau kalau nanti orang mengatakan aku gak mau mengurus karyawan aku yang sakit" , ucap Charlie sambil memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada disana.
Setelah itu Charlie membantu memegangi tubuh Reni yang masih lemas itu berjalan masuk ke dalam rumah sakit.