
Setelah beberapa jam lampunya mati,dan tamu pesta sudah tak tahu harus berbuat apa karena terjebak ditengah kegelapan.Akhirnya lampunya nyala kembali,tempat itu sudah tak terbentuk karena sudah kacau kursinya berantakan,dan sebagian makanan ada yang tumpah karena tak sengaja disenggol saat gelap.
Lebih parahnya lagi baik mempelai pria maupub wanita tidak ada disitu,beserta dengan keluarganya.Hanya tersisa kedua orangtua dari Oscar yang harus menanggung malu didepan para tamu karena kekacauan besar yang terjadi.
Satu persatu tamu undangan meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan dengan orangtua dari Oscar.
"Pak dimana Oscar pak?"
"Kamu nggak usah tanya anak itu,papa lagi mikirin harga diri papa didepan rekan kerjaku"
"Tqpi pak dia anakmu"
"Ayo pulang,bereskan tempat ini"tutur ayahnya Oscar menyuruh pengawal mereka untuk mengurus tempat itu.
Itulah cek cok keduaorangtua Oscar,karena mereka yang harus menanggung malu didepan para tamu.Sementara kedua orangtuanya Jesika ikut menghilang seperti ditelan bumi.
Disebuah kamar hotel...
Revan membaringkan Jesika ketempat tidur,diikuti oleh Yano yang sudah memerintahkan anak buahnya untuk siap siaga,karena malam ini mereka akan pulang kejakarta malam ini.
"Van ayo kita segera kebandara!"titah Yano melihat Revan yang sedang mengambil sebuah paperbag.
"Kamu tunggu saja diluar Yan,kami akan segera keluar"balas Revan dan disetujui oleh Yano.
"Hufttt Jes akhirnya kita bisa bertemu kembali"dia mecium tangan Jesika dengan lembut,menatap sekilas wajah cantik yang selama ini dirindukannya.
Revan pun mengeluarkan isi paper bag itu,sepasang baju tidur wanita.
"Maafkan aku Jes,aku nggak ngapa ngapain kok lagian biji sesawi yang kita tanam dulu sudah besar"cengir Revan lalu perlahan membuka baju pengantin Jesika.
Beberapa menit kemudian,Revan sudah keluar dari kamar dan Yano pun berjalan mengarahkan mereka.Mereka akhirnya meluncur kebandara dan langsung menaiki jet pribadi Yano.
Dengan hati-hati Revan merebahkan Jesika dikursi dan menyelimutinya,akhirnya dia bisa bernapas lega karena rencana mereka berhasil.
Yano pun ikut masuk dan duduk disebelah Revan yang menatap Jesika terus.
"Thank you kakak ipar"ucap Revan pada Yano namun matanya tertuju pada Jesika.
__ADS_1
"Cihhhh dasar jomblo ngenes,kayak baru lihat cewek aja"sindir Yano merasa ucapan terima kasib Revan tak tulus.
"Kakak ipar setelah ini aku akan mengikuti jejakmu,tadi itu aksi yang keren banget"puji Revan tak mempedulikan ejekan Yano.
"Hmmm tampangmu sepertinya tidak cocok"Yano menggoyangkan jarinya tanda tak setuju.
"Hhh memang tampangku ini kenapa kakak ipar?"
"Tampangmu ini seperti lelaki yang ditinggal mantannya"ejek Yano disertai kekehan kecil,bukannya tersinggung Revan malah ikut tertawa.Membuat Yano lega karena bisa melihat Revan ceria kembali.Karena sejak mendengar kabar Jesika akan menikah,hingga mereka ada diAmerika pria itu selalu diam.
Yano pun tersenyum simpul,menatap Revan yang sedang tertawa.Akan tetapi Yano menyadari ada yang aneh yang dia lihat.
"Van!"panggil Yano dengan suara beratnya.
"Kenapa kakak ipar"jawab Revan dengan suara genit,namun mendapat sentilan keras didahinya,membuatnya meringis kesakitan.
"Kamu belum sah sama Jesika tapi udah kamu apa apaa..inn"kesal Yano yang menyadari pakaian Jesika saat ini,padahal wanita itu tadi memakai gaun pengantin kenapa sekarang malah pake baju tidur.
"Akhh maaf kakak ipar,jangan salah paham dulu"
"Jangan bilang kamu yang gantiin"dengan tatapan tajam Yano mencurigai Revan yang memasang tampang cengengesan sekakigus takut,membuat Yano semakin yakin dia pelakunya.
"Aku nggak habis pikir sama kamu Van"
Yano sampai menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Revan yang sudah lancang.
"Lagian kami sudah pernah melakukannya"ngaku Revan dengan tampang tak berdosa membuat Yano semakin naik pitam,kalo bukan lagi dijet sudah dibogem tuh wajahnya Revan.
"Tapi aku bukan laki laki brengsek Yan,kami berdua sama sama tak sadar.Aku bahkan tak tahu tentang kehamilannya"
"Huftttt gue juga nggak sok suci,dulu gue ngelakuin itu sama Moza karena mabuk"Yano merasa menyesal juga jika diingat kembali.
Prokk...prok..
Revan malah bertepuk tangan,membuat Yano melotot kearahnya.
"Waaah ternyata kamu yang brengsek Yan,masa tidurin anak orang saat mabuk pantesan aja Moza sering kesal"ejek Revan sambil menahan tawanya berhasil memojokkan Yano.
__ADS_1
"Lalu kamu sama Jesika malam itu mabuk nggak?"
"Kami minum berduaan diapartemen,lalu entah setan dari mana ya terjadilah"
"Itu sama saja bod*h,setan itu setan mabuk"Yano memukul bahu Revan,entah mengapa dia merasa senang bercengkrama dengan adik iparnya itu.Hingga wibawa mafia dan ekspresi dingin nya dulu hilang seketika.
"Hhahah tapi aku nggak nyangka aja,Moza bodoh sekali nggak tendang saja tuh adik kecil biar langsung sadar"bayang Revan disertai tawa
"Beraninya kamu ngehina istri tercintaku"ucap Yano tak terima dengan ucapan Revan.
"Santai Yan ini hanya candaan kok"tahan Revan takut dapat tonjokan lagi dari Yano.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama,dan juga perdebatan yang cukup panjang antara Revan dan Yano.Tak terasa mereka sudah sampai diJakarta,untungnya Jesika masih pingsan karena pengaruh obat biusnya yang membuatnya tertidur begitu lama.
Mereka dijemput oleh dua mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya Yano.
Mereka segera meluncur kekediaman Yano,awalnya Revan ingin membawa Jesika keapartemennya.Namun Yano menolaknya dengan keras,karena Jesika mungkin akan menyalahkannya atas kekacauan dipernikahannya dan akan berakibat pada hubungan keduanya.Kalo dibawa kerumah Yano,dia bisa menjelaskannya pada wanita itu.
Sesampainya dimansion Yano,mereka disambut oleh Moza yang sudah menunggu kedatangan mereka.Namun dia heran dengan seorang wanita yang digendong oleh Revan dari luar.
"Sayang!"panggil Yano hendak memeluk Moza,karena dia sudah merindukan istrinya itu.Padahal baru semalamam dia meninggalkannya sudah rindu berat.
"Itu siapa mas?"tanya Moza tak menjawab Yano.
"Itu Jesika"
"Jesika?,kenapa dia..."Moza tak melanjutkan ucapannya saat tubuhnya melayang dan sudah dalam gendongan suaminya.Moza melingkarkan tangannya dileher Yano,dia menatap wajah suaminya yang semakin tampan dimatanya.
"Kalo mau tanya,sebentar saja suami pulang nggak disambut malah nanya orang lain"ngambek Yano sambil menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
"Baiklah aku tagis janji kamu honey"goda Moza dengan sengaja mencolek dagu Yano,membuat sang empunya tak tahan dengan rayuan maut istrinya.
Dikamar tamu..
Revan membaringkan Jesika dikasur,menyelimutinya dengan perlahan lalu memperbaiki posisi tidurnya.
Setelah itu Revan bersandar disamping Jesika,dia menatap dalam wajah Jesika.Matanya masih terlihat bengkak walau sudah ditutupi make up.Dapat Revan pastikan Jesika habis menangis,entah menangis bahagia atau sedih dia juga tak tahu.Tapi yang penting sekarang Jesika ada bersamanya,dia bertekad dan berjanji untuk memulai kembali hubungannya dengan Jesika tentunya ditambah dengan putra mereka.
__ADS_1
"Aku berjanji mulai sekarang akan selalu ada untuk kamu dan juga Rein"ucapnya mencium pucuk kepala Jesika,dan ikut berbaring disamping wanita itu.