Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Gadis SMA


__ADS_3

Setelah kejadian,dimana Moza mendengar semua pembicaraan suaminya dan juga orangtuanya.Dia langsung tertidur pulas karena lelah menangis.


Sampai malam pun Moza masih tidur,sedang Yano memilih beristirahat diruang kerjanya karena ingin memberi ruang untuk Moza.


Yano tertidur dikursinya,dia menggeliat pelan karena merasa tak nyaman dengan posisi tidurnya yang sambil duduk.


"Huaaam sudah jam berapa ini?"tanyanya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21:00.


Yano pun langsung kembali kekamarnya,berharap Moza sudah bangun agar dia bisa menjelaskan kesalahpahaman istrinya itu.


Namun Moza masih berada dalam selimut,Yano pun naik keranjang dan bergabung untuk tidur bersama istrinya,dia memeluk Moza yang memunggunginya dan ikut terbang kealam mimpi.


Dirumah sakit.....


Revan termenung sendirian diruang rawat ayahnya,yang siang tadi baru selesai dioperasi,untungnya operasinya berjalan dengan lancar dan kondisinya stabil.


Dia masih memikirkan Jesika yang belum memberi kabar kepadanya sejak tadi.Dia sangat gelisah karena berulang kali dia menghubungi nomor Jesika,namun nomornya tak aktif padahal dia sangat hafal kalo Jesika tak pernah mematikan ponselnya atau mengabaikan telepon darinya.


"Kamu kemana sih Jes"Revan berjalan kearah jendela menatap langit malam yang membuat hatinya sepi.Entah mengapa kepergian Jesika ke Amerika hari ini membuatnya sangat gelisah.


Keesokan harinya.....


Pagi-pagi Moza sudah mandi dan kebetulan hari ini akhir pekan,Yano tidak kekantor dan pria itu masih nyaman dibawah selimut.


Moza sudah merias sedikit wajahnya agar terlihat segar,karena semalam dia menangis.


"Hufttt apa iya aku bukan anak kandung papa sama mama"Moza menatap pantulan wajahnya didepan cermin.


Krukkkkk


Suara perut Moza menandakan bahwa dia lapar,dari semalam dia belum makan apa-apa.


"Maafin mommy ya,sudah membuat kamu kelaparan"Moza mengelus perutnya itu lalu melangkah keluar kamar untuk mengisi perutnya.


Ternyata Albertoo dan Emilia sudah ada dimeja makan juga.


"Za!,kamu kok turun sendiri,mana Yano?"Emilia bergegas mendekati Moza dia takut kalo putrinya akan jatuh.


"Aku bukan anak kecil lagi kok ma"


"Iya tapi mama takut terjadi apa-apa sama kamu"Emilia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya,membuat Moza tersentuh dan terharu.

__ADS_1


"Oyaa kamu mau makan apa hah,mama udah masakin rendang buat kamu"Emilia mencedok nasi untuk Moza,dia tahu betul kalo putrinya sedang lapar karena tak biasanya dia turun sendirian.


"Iya terserah mama aja deh,soalnya aku lapar banget"jujur Moza yang sejak tadi sudah ngiler melihat banyak menu pagi ini.


Setelah Emilia selesai menghidangkan makanan untuk Moza,bumil itu langsung melahap dengan rakus makanannya.


"Makanan mama memang paling nomor satu"kedua jempol Moza diarahkan ke Emilia,membuat Albertoo terkekeh.


Beberapa menit berselang,Yano turun dengan wajah segar dan rambut basah menandakan dia sudah mandi.Dia mengambil tempat disebelah Moza yang menyadari kedatangannya karena asik makan.


"Sayang kamu kok nggak bangunin aku?"Yano mengambil tisu membersihkan sisa makanan dibibir Moza.


"Aku lapar banget mas,semalam aku belum makan apa-apa"jawab Moza terus mengunyah nasinya.Melihat Moza makan dengan lahap membuat Yano terasa kenyang.


Ergggggg


Moza bersendawa dengan keras setelah menyelesaikan makannya.Membuat suami dan orang tuanya tertawa.


"Upss maaf"ucapnya menunduk


"Nggak apa-apa sayang,bukan kamu kok yang bersendawa tapi cucu papa"bela Albertoo untuk mencairkan suasana.


"Iya sayang papa benar,mungkin baby sudah kenyang"tambah Yano menimpali sambil menahan tawa karena kejahilan mertuanya itu.


Albertoo ingin beranjak mau pergi kekamar,namun Moza menahan langkahnya.


"Pa,ma,mas!,aku mau ngomong sesuatu sama kalian"Moza dengan ragu menatap satu persatu ketiga orang tersebut.


"Bicara apa Za,kok serius banget"Emilia menebak-nebak dengan hal yang putrinya katakan.


"Emm aku mau bahas soal om Ardiansyah,aku dengar semua yang kalian bicarakan kemarin"Moza memutuskan untuk meminta kejujuran dari ketiga orang dihadapannya.


"Za!"panggil Yano


"Biar papa aja yang jelaskan"Albertoo menarik napas dalam-dalam.


"Sebenarnya kamu bukan anak kandung kami,ayah kamu adalah tuan Ardiansyah,dulu kami bekerja dengan ayah dan ibumu,tapi saat kamu berumur sekitar 3 tahun kamu diasuh ole kami karena ada musuh ayahmu yang mengincar nyawa kamu"jelas Albertoo panjang lebar,sedang Moza menajamkan pendengarannya.


Lalu Albertoo melanjutkan peristiwa masa lalu mereka,membesarkan putri dari tuannya yang sudah mereka anggap seperti anak kandung sendiri.


Moza mendengar dengan saksama,hingga tak terasa air matanya meluruh,Yano pun memilih membawa istri nya kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Lalu mama Moza dimana?"tanyanya lirih


"Huftt beliau meninggal dunia setelah melahirkan kamu Za"kini Emilia memilih membuka suara,dia sebenarnya tak tega harus memberitahu tentang ibunya Moza namun dia juga ingin jujur tentang semuanya.


"Hiks hiksss apa mama meninggal karena Moza"dia semakin terisak menyalakan dirinya atas kematian ibunya dulu.


"Bukan begitu sayang,beliau memang sedang sakit waktu itu,kamu anak yang kuat karena masih bisa bertahan walau kemungkinan waktu itu kalian berdua_"Emilia langsung memeluk Moza,dia tak mampu membayangkan peristiwa itu.


Lama kedua wanita itu menangis,para pria hanya diam saja.Namun mereka bernapas lega karena Moza tak marah kepada mereka karena sudah membohonginya.


"Aku mau menjenguknya"Setelah tenang Moza mengusap matanya.


"Kamu nggak membenci kami,karena sudah membohongi kamu"tanya Yano hati-hati.


"Untuk apa aku marah,kalo saja kalian tak melindungi aku mungkin sudah dari dulu aku tidak ada didunia ini"Moza mengusap jejak air mata yang kembali mengalir.


"Sayang!,aku bangga sama kamu"Yano memeluk Moza dengan erat,dia tak menyangka gadis SMA nya itu sudah tumbuh jadi wanita dewasa,dan sebentar lagi akan menjadi ibu.


"Kalo begitu kita berangkat sekarang"titah Albertoo.


Akhirnya mereka menuju rumah sakit dengan menggunakan dua mobil.Tak lupa pula penjagaan yang ketat.


Revan sendiri masih dirumah sakit,semalaman dia tak pulang menemani ayahnya disana.Pagi ini pun dia tetap setia menjaga Ardiansyah yang belum sadar setelah operasi kemarin.


Dia mengambil ponselnya,menekan sebuah nama.


"Hallo,apa kalian sudah menemukannya?"


"Belum tuan,dari kemarin kami belum bisa melacaknya.Tapi ada berita bagus tuan"


"Berita bagus apa?,cepat katakan!"


"Hari ini mobilnya ada dirumah sakit lagi,dan datang dengan orang-orang kemarin tuan"


"Kasih tahu saya terus pergerakan mereka,jangan sampai kalian kehilangan mereka."


"Baik tuan,kemungkinan mereka sedang menuju keruang rawat tuan Ardiansyah"


Tutt


Revan memutuskan sambungan teleponnya,dia berharap anak buahnya bisa menemukan Moza.Ditengah kekalutannya itu pintu dibuka dari luar membuatnya menoleh,dan terkejut dengan sosok yang muncul dari balik pintu.

__ADS_1


"Moza!"


"Revan!"


__ADS_2