
Setelah pergumulan kemesraan antara dua insan itu,hari sudah menjelang sore mereka berdua siap siap untuk pulang.
"Sayang aku mau bawa kamu kesuatu tempat"kata Revan merapikan meja kerjanya.
"Suatu tempat?,dimana?"
"Kamu nggak boleh tahu,ini kejutaan untuk kamu"
"Tumbenan kamu mau kasih aku kejutaan"senyum Jesika mengembang karena tak sabar dengan kejutaan dari Revan.
Keduanya berjalan sambil bergandeng tangan,sepanjang jalan banyak pasang mata memandangi mereka,ada yang sangat kagum dengan damage dari pasangan yang sangat cocok itu.Revan dengan ketampanan dan kewibawannya dan didampingi kecantikan blasteran dari Jesika.
"Bukannya itu mantan pacar pak Revan,apa mereka balikan lagi"bisik beberapa karyawan perempuan namun didengan sampai ketelinga Jesika dan Revan.
Revan merasa kesal dengan bisikan itu,lalu langkahnya terhenti dan mendekat kearah karyawan tersebut.
"Kalo bosan kerja disini,silahkan angkat kaki dari sini"tatapan tajam Revan membuat karyawan itu gemetaran,sehingga karyawan yang lain langsung menghindar dari tempat itu.
“Maaf pak,saya masih mau bekerja disini,tolong jangan pecat saya pak!”mohon karyawan tersebut dengan gemetar,terlebih tatapan Revan sangat tajam.
“Van udah kasihan wanita itu jangan buat dia takut”Jesika memegang tangan pria itu agar tidak emosi,alhasil mereka berdua langsung pergi dari situ.
Jesika menyeret Revan keluar supaya suasana terkendali,padahal mereka mau pergi kesuatu tempat.
“Kamu nggak usah dengerin mereka!”
“Iya aku nggak akan dengerin omongan orang lain”walau dalam hati Jesika merasa terganggu dengan ucapan karyawan tadi,namun sebisa mungkin ditahan supaya tidak merusak mood Revan hari ini.
Mobil mereka melaju membelah jalanan sore hari dibawah pancaran sunset yang begitu indah,keduanya hening tanpa suara,hingga tak terasa sampailah mereka disebuah kafe dekat dikaki gunung.
“Van ini dimana?’tanya Jesika saat keluar mobil dengan pemandangan didepannya yang begitu indah dikelilingi oleh pohon yang begitu rindang,lokasinya memang begitu jauh dari kota tapi tempat itu memang terkesan romantis.
Revan tersenyum saja dengan pertanyaan Jesika,lalu dia menggandeng tangan Jesika dan masuk kedalam.
Jesika lebih terpukau dengan desain dalam kafe itu karena sangat unik dan bagus.
“Van tempat ini bagus banget,kenapa dari dulu kamu nggak kasih tahu sama aku”cecar Jesika dia langsung meninggalkan Revan dan mulai mengitari tempat itu dengan tersenyum ceria.
“Apa semuanya sudah siap?”
__ADS_1
“Semua sudah beres tuan,tinggal arahan dari anda saja”
Revan mengekor dibelakang Jesika,wanita itu berhenti didekat sebuah jendela,dengan pemdangan diluarnya sebuah hamparan sawah yang begitu asri,kebetulan masih hari masih terang dan masih terlihat.Revan memeluk Jesika dari belakang dan menyenderkan kepalanya kebahun Jesika dan mengikut arah pandang wanita itu.
“Jes aku mau tanya sesuatu sama kamu”
“Tanya apa?
“Tapi aku mau kamu jawab yang jujur”Revan membalikan badan Jesika,sehingga mereka saling bertatapan.
“Iya aku akan jujur,kamu bikin aku penasaran saja”
“Jika suatu saat nanti aku membohongi kamu,apa kamu akan membenciku dan pergi dari hidupku?pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Revan,membuat Jesika bingung dengan maksud pria itu.
“Memangnya kamu pernah membohongi aku?”Jesika balik bertanya,dan langsung Revan menggeleng mengatakan tidak.
“Tapi aku hanya mau tanya”
“Kamu mau tahu apa yang akan aku lakukan?eem aku akan menghilang dari hidupmu tapi aku berharap kamu takan pernah membohongiku aku tentang apapun itu”jujur Jesika dari lubuk hatinya,dia mau Revan terbuka dengan dirinya,karena Jesika berpikir mereka sudah menjadi suami istri dan tak perlu ada yang disembunyikan.
Deg
Setelah menunggu beberapa menit kemudian,Jesika keluar dari ruangan itu dengan balutan gaun merah yang memperlihatkan lekukan tubuhnya dengan rambut yang terurai menambah kesan seksi,penampilan yang begitu cantik dengan polesan make natural menyulap Jesika bak seorang bidadari.Revan yang sejak tadi menunggu wanita itu,langsung sigap berdiri dan mematung ditempat karena terkesima dengan penampilan Jesika malam ini.Seketika Revan teringat malam saat Jesika mempersiapkan dinner untuk mereka berdua di apartemen,dia juga berdandan dan memakai gaun seksi.Namun malam ini lebih seksi dan menggoda,dia sampai tak berkedip menatapnya,kalo bukan disadarkan oleh suara yang terus memanggilnya.
“Van!Van!apa aku perlu mengganti baju lagi mungkin ini kurang pas untukku”kata Jesika yang tak nyaman dengan tatapan dari Revan,dia berpikir kalo pria itu mungkin kurang suka dengan penampilannya.
“Akhh enggak kok kamu sangat sangat cantik malam ini”pujinya
Dia mendekati Jesika lalu mereka berdua bergandengan tangan seperti dua pengantin yang berjalan menuju pelaminan,mereka diarahkan oleh seorang pelayan kesebuah ruangan.
Kreekkkk.......
Sebuah ruangan dengan meja dan juga tersaji lengkap dengan makanannya,yang sengaja didekor untuk dinner dan disitu ada sebuah piano.Sungguh sebuah pemandangan yang sangat romantis,Jesika sampai tak bisa berkata kata karena terlalu bahagia dengan persiapan dinner yang dibuat Revan.Tak hanya itu disitu juga terdapat sebuah ranjang yang ditaburi mawar merah,ala ala pengantin baru,lebih tepatnya itu seperti kamar pengantin.Keduanya masuk lalu pelayan itu meninggalkan ruangan itu,dan memberi kunci kepada Revan.
Jesika terkekeh dengan hiasan ranjang itu,karena terkesan keduanya masih pengantin baru,namun dia sangat senang.
“Van kok kita seperti pengantin baru”
“Memang kita masih pengantin baru,dan belum honeymoon”
__ADS_1
“Maksud kamu malam ini...”
“Kamu harus makan banyak malam ini karena kegiatan malam ini akan menguras tenaga”goda Revan dengan tersenyum smirk menarik kursi untuk Jesika.
“Tapi Van...”
“Kamu nggak usah khawatir,kita bakal nginap disini jadi kamu jangan takut kalo kita jalan malam malam ditengah hutan”
“Tapi aku nggak bawa baju ganti,masa aku harus pake baju yang tadi”cemasnya namun Revan malah terkekeh dengan kecemasan wanita itu,dia berjalan menuju sebuah lemari besar,dan membukanya lebar-lebar.Disana semua baju wanita terderet rapi,ada juga lingerie seksi berbaris disana,dilengkapi dengan stelan jas pria dan perlatan make yang lengkap.
“Itu punya siapa Van”dia mendekati Revan dan melihat sederetan baju itu
“Ini milik kita honey”bisik Revan ditelinga Jesika membuat buluk kuduknya serasa bangkit,dia kembali ketempat duduk karena malu dengan Revan.
Kemudian mereka berdua sudah duduk berhadapan untuk dinner,semua menu tersaji didepan mata mereka,dengan lihai Revan mengambil makanan untuk Jesika.Sesekali Revan menyuapi Jesika,walau sedikit malu malu wanita itu masih membuka mulutnya.
Dinner mereka berjalan dengan hening,dengan diselangi oleh suap suap romantis,dilanjutkan dengan Revan yang memainkan piano,Jesika menikmati alunan nada yang dimainkan oleh Revan karena dia duduk disebelah Revan.
Revan berhenti memainkan pianonya,terus mengajak Jesika untuk berdiri dengan uluran tangan seorang pria yang hendak mengajak dansa.Benar saja seketika alunan musik romantis bergema dalam ruangan itu,Revan melingkarkan tangannya dipinggang ramping Jesika,begitupun sebaliknya Jesika melingkarkan tangannya dileher Revan.Keduanya berdansa dengan alulanan musiknya.
Ditengah-tengah alunan musik,Revan mendekatkan wajahnya ke Jesika,perlahan pandangannya turun kebibir merah yang sejak tadi menggodanya.
Lebih dekat lagi,Revan mencium lembut bibir itu tapi masih terus berdansa mengikuti alunan musik.Wanita itu pun membalas,tautan itu berlangsung lama dan sangat memanas,ciuman itu terlepas dan keduanya saling berpandangan.
“Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku”ucap Revan dengan nafas tersengal,detik berikutnya dia berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya,terlihat sebuah cincin berlian yang sangat indah.
“Van....”
“Anggaplah ini menjadi janji kita berdua untuk sehidup semati”Revan memakaikan cincin itu dijari manis Jesika,lalu menciumnya dengan mesra dia kembali berdiri dan menggenggan tangan Jesika.
“Apa kamu mau mendampingiku seumur hidupmu,dan tak akan meninggalkanku?”tanyanya dengan gemetar,mata Revan mulai memerah begitupun Jesika yang masih terpaku dalam diam,cairan bening meluruh tanpa ijin dipipinya.
“Iya aku mau Van”suara Jesika pelan langsung memeluk Revan,dia menangis sesegukan dalam pelukan pria itu.
“Maaf aku baru memberi cincin itu,nanti kita akan buat pesta untuk pernikahan kita”ucap Revan mengelus rambut Jesika,sebelumnya Revan pernah menunjukan buku nikah yang dipalsukannya agar Jesika percaya bahwa mereka sudah menikah.Jadi dia menjanjikan sebuah pernikahan mewah yang nantinya akan mengikat mereka berdua secara sah.
Setelah lama berpelukan,Revan mengusap jejak air mata Jesika lalu mengusap bibir merah itu lagi lagi dia mencium bibir itu dengan lembut,kali ini semakin menuntun hingga Revan menggendong Jesika dan merebahkannya diranjang.
Begitulah akhir dinner romantis dua insan itu dengan berakhir diatas ranjang lagi.
__ADS_1