Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Suami


__ADS_3

Jesika yang masih diatas kursi merasa kaget dengan kedatangan Yano dan Moza,untung saja dia tidak jatuh dari kursi.


"Siapa kalian?"Jesika menodongkan sendok dan garpu dan tangannya,seolah ingin menyerang mereka.


"Mas Jesika kenapa lupa sama kita?"Moza menepuk lengan Yano dengan pelan.


"Nanti aku jelasin,kamu tunggu disini dulu biar aku yang samperin Jesika"Yano melepas tangan Moza yang menempel dilengannya,istrinya ingin mencegahnya namun Yano menatapnya mencoba meyakinkannya.


"Tenang Jesika,kami bukan orang jahat tapi keluarga kamu"bujuk Yano mendekati Jesika,perlahan dia ingin menenangkan wanita itu.


"Jangan mendekat!,kamu pasti bohong kan"Jesika masih diatas kursi,dia terus menatap Yano dengan tajam takut mereka adalah orang jahat,karena sekarang dia tak mengingat apapun.


"Aku nggak bohong,aku..."Yano jadi bingung bagaimana caranya membujuk Jesika,dia tak mungkin mengaku ngaku sebagai keluarga dari Jesika.


"Aku suamimu"bukan Yano yang menjawab melainkan seorang pria yang baru saja datang dengan pakaian rumah sakit.


"Revan! "semua orang terkejut dengan kedatangan Revan,namun yang lebih terkejutnya dia mengaku sebagai suami Jesika.Yano tak bisa berkata-kata karena terkejut,dia ingin mendekati Revan,namun Jesika langsung melompat dari kursi dan memeluk Revan.


"Van akhirnya kamu datang,mereka siapa Van?"Jesika menyembunyikan kepalanya didada bidang Revan,pria itu pun membalas pelukannya dia tak menyangka apa yang dikatakan oleh Yano dan Jaya ternyata benar.


"Iya kamu tenang dulu,aku ada disini"Revan mengelus punggung Jesika,matanya menatap Yano dengan bingung begitupula dengan Yano yang merasa bingung dengan Jesika yang hanya mengingat Revan saja.


"Kok aneh"gumam Revan


"Siapa mereka Van?"Jesika masih memeluk Revan dengan erat.


"Mereka.."ucapan Revan tersangkut ditenggorokan saat ditatap tajam oleh Yano.


"Ngomong ngomong kamu lagi sakit hah?,kamu bau obat?"Jesika baru tersadar Revan memakai baju rumah sakit,dan baunya seperti obat obatan rumah sakit.


"Aku baik baik saja"Revan melepas pelukannya menatap Jesika dengan lembut.


"baik gimananya,muka kamu pucat banget jangan-jangan kamu kabur dari rumah sakit?"Jesika nampak khawatir dengan kondisi pria itu,tanpa banyak bicara lagi Jesika menyeret tangan Revan menuju ruang tamu lalu keduanya duduk disofa.Tanpa mempedulikan Yano,Moza,dan juga Siti yang masih merasa terkejut dengan situasi tersebut.


"Mas kamu mau kemana?"Moza menghentikan langkah Yano yang kemungkinan menyusul keruang tamu.


"Aku mau nyusul mereka sayang"


"Jelasin semuanya dulu,baru kita sama-sama kedepan"Moza memilih untuk meminta penjelasan Yano dahulu sebelum melihat Revan dan Jesika.Keduanya duduk dikursi makan,sementara Siti masih sembunyi dibalik pintu dapur karena ketakutan dia kira Jesika hantu.Dia sempat mengintip saja daritadi kalo ternyata itu bukan hantu,selanjutnya dia pun hanya mengintip dari sana saat Revan datang tadi,dirinya sempat terkejut mengapa Jesika tak mengenal Moza dan Yano serta dirinya.Padahal dulu dia tinggal disana,dan menyukai Yano juga.

__ADS_1


"Siti ngapain sembunyi disana,itu bukan hantu mending kamu kesini supaya kamu juga nggak penasaran"panggil Moza yang mengetahui Siti sejak tadi hanya mengintip dari balik pintu,kemudian pun Siti ikut bergabung dengan mereka.


"Jadi bagaimana ceritanya mas?"Moza sudah tak sabaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Jesika.


"Sebenarnya Jesika amnesia"ucap Yano membuat Siti dan Moza membekap mulut karena terkejut.


"Kalo kali tanya mengapa sampai amnesia,aku lanjutkan ceritanya dulu"tambah Yano saat Moza hendak bicara,membuat istrinya itu langsung memoyongkna bibirnya,Yano pun gemas sendiri tapi dia tak mau mengumbar kemesraan didepan Siti yang masih jomblo.


Lalu Yano menceritakan semua peristiwa yang mereka lalui dan kenapa Jesika sampai amnesia,Moza dan Siti geram sendiri mendengar cerita Yano.


"Sialan tuh sih Revan,bisa-bisanya dia yang bikin tuh cewek amnesia dia juga yang satu satunya diingat Jesika"Moza kesal sendiri bagaimana tidak,dari antara mereka hanya Revan seorang yang diingat Jesika padahal jelas jelas pria itu yang sudah membuatnya kehilangan ingatan.


"Saya mau tonjok itu tuan Revan non"Siti memasang tampang seramnya,dengan mengepalkan tangannya.


"Hhhhhhh kalian marah?"tanya Yano sambil tertawa,Moza dan Siti mengangguk tapi dengan wajah bingung,karena Yano yang tertawa padahal mereka tidak sedang membicarakan hal yang lucu.


"Aku juga lebih marah"tambah Yano tapi mukanya menjadi dingin dan lebih serem,Moza langsung bergidik ngeri melihat suaminya seperti ini.


"Sayang kamu baik baik saja?"


"Ayo kita kedepan"ajak Yano langsung berdiri tanpa menjawab sang istri.


"Ekhemm"Yano berdehem dengan keras,untuk menegur Revan yang masih tak sadar dengan adanya mereka.


"Ehh kakak ipar,adik Moza ehh ada Siti juga"sapa Revan dengan cengar cengir,berusaha untuk tenang padahal dalan hatinya dia merasakan hawa yang tak baik dari tatapan ketiganya.


"Kamu kenal mereka?"Jesika menunjuk kearah Yano dan Moza.


"Iya kenal dong,ini Yano kakak ipar aku dan ini istrinya Moza dia adikku,dan ini Siti dia ART disini"jelas Revan memperkenalkan mereka satu persatu kepada Jesika,wanita itu hanya manggut manggut saja.


"Aku minta maaf sudah mengira kalian orang jahat"ujar Jesika tak enak sudah curiga sembarangan.


"Tidak apa-apa lagian kamu kan sekarang amne..."Yano membekap mulut Moza supaya tak melanjutkan kata katanya.


"Emmm iya tidak apa apa kok,lagian kamu juga masih baru kenal jadi nggak boleh percaya sembarangan"sambung Yano asal bicara


"Apaan sih mas pake nutupin mulutku segala,sesak tahu"jengkel Moza merutuku suaminya yang tiba tiba membekap mulutnya.


"Masalahnya kamu kalo bicara yang nggak bisa difilter tahu"bisik Yano ditelinga Moza,namun istrinya hanya mendengus kesal dengan memaksakan senyumnya kepada Jesika.

__ADS_1


"Ternyata kalian sangat baik,aku juga minta maaf untuk kejadian yang tadi karena aku sungguh kelaparan"ngaku Jesika mengingat dirinya yang makan tanpa minta ijin.


"Itu mah jangan diungkit lagi,Siti bisa masak lebih banyak lagi kalo tante mau makan lagi"ceplos Siti dengan senyumnya Yano juga tak berdaya untuk mengontrol Siti,Revan hanya kaku mendengar panggilan tante dari Siti.


"Ooh ya terima kasih,tapi kamu boleh panggil aku dengan namaku Je.."


"Jesika"ucap mereka bersamaan membantu Jesika untuk mengingat namanya.


"Ya itulah"


Dreettt...dreet.


Ponsel Siti tiba-tiba berdering,lalu Siti pamit untuk mengangkat teleponnya dulu.Yano bernapas lega melihat Siti yang pergi,takutnya mereka bakalan ngomong sembarangan didepan Jesika yang nantinya mengganggu Jesika.Tinggal Moza yang dia urus,karena istrinya masih ngobrol santai dengan Jesika,lain halnya Revan dan Yano yang tak tahu harus berbuat apa,Yano terus menatap Revan dengan tatapan tajam sementara Revan hanya acuh saja.


"Van aku mau bicara sebentar sama kamu"ucap Yano dengan dingin,Moza yangmelihat aura yang agak aneh dari Yano dan jug tatapan tajamnya kepada Revan mulai was was.


"Mas aku mau tidur,ayo temani aku kekamar"rengek Moza untuk menghindari hal yang tak diinginkan,dia tahu kalo Yano marah besar dengan Revan.Pastinya Yano tidak hanya mengajak Revan untuk bicara,akan tetapi ada gerakan tambahan dari suaminya untuk memberi pelajaran kepada Revan.Moza hanya khawatir kalo sampai itu terjadi,apalagi Revan dalam kondisi sakit,jadi Moza menghindari perkelahian antara keduanya.


"Tapi sayang,aku mau bicara hal penting dengan Revan"


"Mas anakmu mau tidur,masa kamu mentingin urusan kerjaan daripada aku"rengek Moza dengan sengaja ngambek membuang muka dengan Yano.


Yano baru ingat sesuatu yang dikatakan Jaya kali kemungkinan Moza hamil,dia merutuki kebodohannya karena lupa untuk memeriksa didokter kandungan untuk memastikannya.Melihat Moza dalam mode ngambek mau tak mau Yano mengikut saja,daripada urusannya bakal panjang lagi dengan Moza.Bisa bisa dia tidur diluar malam ini,membayangkannya saja Yano tak mau apalagi harus terjadi.


"Ya sudah kita kekamar,aku bisa bicara dengan Revan besok saja"pasrah Yano dan Moza langsung tersenyum penuh kemenangan,lalu merangkul Yano menuju kamar mereka.


Revan tersenyum lega bisa lolos dari amukan Yano,namun bukan berarti Yano tak bisa memberinya pelajaran esok hari.Tapi senggahnya Revan bisa memulihkan tenaganya dulu untuk mengahadapi amukan Yano.


"Terima kasih Za"gumam Revan dalam hati,menatap punggung pasutri yang mulai menghilang dari pandangan.


"Van aku mau tanya sesuatu?"suara Jesika memecahkan lamunan Revan.


"Hah tanya apa Jes?"


"Apa kita sudah menikah?"tanya Jesika dengan ragu ragu,karena dia hanya mengingat masa masa pacaran dulu dengan Revan,selebihnya dia nggak ingat apa-apa.Karena Revan mengaku sebagai suaminya,Jesika pikir mungkin mereka sudah menikah namun dia tak mengingatnya.


"Emmm kita...kita"Revan juga bingung harus menjawab apa,dia terjebak dengan idenya sendiri.Dia tak pikir dahulu apa akibatnya dengan mengaku menjadi suami Jesika,namun nasi ssudah menjadi bubur.


"Kita apa Van?"

__ADS_1


"Yapp kita sudah menikah,dan sekarang kita suami istri"Revan menggenggam tangan Jesika dan membawanya dalam pelukan.


__ADS_2