
"Huaaam aku ngantuk banget Van"Jesika memejamkan matanya dalam pelukan Revan.
Revan mengelus rambut Jesika supaya wanita itu tertidur.
Ting..
Sebuah pesan masuk dihp Revan,dengan segera pria itu meraih benda pipih dimejanya.
"Besok kalian harus menikah,aku sudah urus semuanya"begitu pesan singkat Yano untu Revan membuat Revan membelalakan matanya.
"Apa"kaget Revan refleks berteriak,Jesika juga ikut terkejut.
"Kamu kenapa Van?"Jesika menatap Revan yang masih syok.
"Siapa yang mengirimi kamu pesan hah?,sampai kamu syok begini?"Jesika ingin meraih hp ditangan Revan namun pria itu segera mematikan ponselnya dan menyembunyikannya.
"Nggak ada apa apa kok Jes,mendingan kita pulang saja ini sudah malam"bohong Revan untuk mengalihkan Jesika,wanita itupun hanya menggangguk setuju walau merasa ada yang disembunyikan Revan.
Kemudia Jesika dan Revan meninggalkan kediaman Yano,walau tanpa pamit dengan tuan rumah.Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam,Revan menyetir mobilnya sambil berkelana dengan pesan dari Yano yang menyuruhnya untuk menikah,sementara Jesika juga tenggelam dalam pikirannya Revan membawanya kemana pulanh kerumah mereka kah atau diapartemen?.
Kedua insan itu hanya saling hening,tak ada yang berani membuka suara.Hingga akhirnya mobil mereka berhenti disebuah gedung yang tinggi dan mewah.Jesika ingat betul tempat ini,itu adalah apartemen milik Revan,yang dia ingat dia sering menghabiskan waktunya dengan Revan diapartemen tersebut.
"Ayo Jes kita sudah sampai"ajak Revan yang duluan keluar mobil,Jesika ikut keluar dan mengikuti Revan dari belakang.
Sampailah keduanya dilantai 4 yang merupakan apartemen Revan,pria itu laku menekan tombol pintunya dan pintu terbuka keduanya lalu masuk.
Jesika memandangi seluruh isi ruangan itu,sementara Revan sibuk menyalakan lampu untuk menerangi mereka.
"Tak ada yang berubah"gumam Jesika menyusuri tempat itu dengan senyum yang terukir dibibirnya,hanya kenangan pacaran bersama Revan saja yang ada didalam memori Jesika sehingga dia merasa senang dan bahagia melihat isi apartemen Revan yang penuh dengan foto foto mereka berdua.
"Jes!malam ini kamu tidur disini"panggil Yano membuka sebuah pintu kamar,namun yang dipanggil sibuk menengoki foto foto yabg tertata rapi disebuah lemari.Revan yang melihat apa yabg Jesika lakukan,ikut tertegun dan juga merasa bahagia melihat senyuman Jesika malam ini.
Dia melangkah mendekati Jesika yang membelakanginya,lalu tangannya melingkar diperut langsing wanita itu membenamkan wajahnya dipundak Jesika,membuat wanita itu tersentak tapi akhirnya dia membiarkan Revan memeluknya.Keduanya seperti orang yang baru bertemu,merasakan rindu yang teramat dalam dan dicurahkan dibawah rembulan malam.
"Aku mencintaimu Jes"bisik Revan sambil terus menghirup aroma tubuh wanita yang selalu dia rindukan.
"Aku juga sangat mencintaimu Van"balas Jesika lalu membalikan tubuhnya,sehingga keduanya saling bertatapan ada rasa yang menjalar dihati keduanya.Perlahan Revan mendekatkan wajahnya dan Jesika memejamkan matanya,bibir keduanya saling bertatut Revan mencium Jesika dengan lembut dan semakin menuntun begitupula Jesika menikmati setiap sentuhan Revan.Kini tangan Revan tak bisa diam,terlebih Jesika mulai melingkarkan tangannya dilehernya.
Keduanya saling menyalurkan kerinduan lewat ciuman itu,tanpa mau melepaskannya Revan mulai terbuah dan menggendong wanitanya laku merebahkannya disofa.Keduanya saling bercumbu lewat ciuman,tangan Revan mulai berkelana sungguh dia tak bisa menahannya hingga hilang kesadaran.Namun aksinya terhenti karena Jesika batuk kehabisan oksigen keduanya terlalu menikmati ciuman.
"Maaf"itu saja yang mampu Revan katakan,setelah itu dia bangkit berdiri merutuki kebodohannya meninggalkan Jesika yang masih tenganga dengan sikapnya itu.
"Van!"panggil Jesika menatapa punggung pria itu yang masuk kedalam kamar.
Bukhhhhh.....
Revan menonjok dinding kamar mandi dengan keras,sungguh dirinya kehilangan akal sehatnya sudah mencumbui wanita itu tanpa sadar akan statusnya.Ini sudah menjadi masalah besar untuknya,karena kedepannya Jesika dan dirinya pasti akan tinggal bersama karena dia sudah mengaku sebagai suami Jesika.
"Apa yang harus aku lakukan"Revan mengacak rambutnya dengan frustasi,dia takut tak bisa mengendalikan dirinya jika berada didekat Jesika terus.
Kemudian Revan memilih membersihkan dir8nya dahulu,sebelum memikirkan caranya supaya Jedika tidak curiga kalo sebenarnya mereka bukan suami istri.
"Tapi kami sudah punya anak,Rein.."pikir Revan yang sudah lupa mencari tahu tentang anaknya,dia hanya fokus kepada Jesika.
Disisi lain Jesika merenung mengapa Revan meninggalkan nya begitu saja,padahal dirinya juga sudah ikut terbuai dengan permainan Revan.
__ADS_1
"Apa aku melakukan kesalahan"gumamnya
Dia menatap pintu kamar yang masih tertutup,ada rasa gelisah dalam hatinya takut Revan marah kepadanya,namun kenapa harus marah pria itu yang memulai ciumannya lagian mereka juga suami istri sudah hal yang biasa bagi mereka untuk melakukan hal itu.Itu lah yang Jesika pikirkan,namun dia masih saja gelisah namun rasa ngantuk sudah mulai menyerangnya.Walaupun Jesika memaksa untuk membuka matanya hanya untuk menunggu Revan keluar kamar,namun dia tak bisa menahan kantuknya akhirnya dia tertidur disofa.
Revan baru keluar kamar dengan rambut yang masih basah dan pakaian santai,menemukan Jesika yang tertidur pulas disofa.Dia menggendong wanita itu kekamarnya dan merebahkannya dikasur,lalu dia menutup pintu dan mengmbil bantal dan tidur disofa.Tidak mungkin dia tidur satu kamar dengan Jesika,dia takut khilaf lagi tak mengapa kalo Jesika curiga dia akan mencari jawabannya besok pagi,karena dia juga sudah lelah dan mengantuk terlebih kondisi tubuhnya yang belum pulih akibat pingsan.
Lain halnya dengan Jaya yang mengoceh dengan kesal karena Revan yang kabur dari rumah sakit,padahal dia sudah menempatkan dua orang suster untuk menjaganya karena ada urusan mendadak namun pria itu bisa kabur dengan mudahnya.
Untungnya Yano menghubunginya kalo Revan ada dirumahnya,jadi Jaya bisa bernapas lega.
Sekarang Jaya juga ada dikediaman Revan,entah apa yang dia lakukan selarut ini dirumah nya orang.Yang pastinya Jaya datang bukan menemui Revan yang kabur dari rumah sakit,melainkan bertemu dengan orang yang terus membuatnya kepikiran sejak tadi karena sudah membatalkan dinner mereka,siapa lagi kalo bukan Siti yang diajak oleh Jaya tadi siang untuk makan malam bersamanya.Namun karena Revan yang pingsan mengharuskan untuk menjaga pria itu dirumah sakit,ditambah lagi pria itu kabur dibawah pengawasannya.Sehingga Jaya harus meminta maaf kepada Siti secara langsung walau pun selarut ini.
Siti sudah menunggu Jaya didepan gerbang dengan sebuah gaun hitam dibawah lutut ditambah polesan make up menambah kecantikan Siti malam ini,walau hanya sebagai seorang Art namun Siti sangat cantik walau tanpa make up terlebih usianya terbilang masih gadis.Mungkin dengan penampilannya malam ini,orang mengira dia anak orang kaya,padahal hanya seorang Art sampai sampai para security terpesona dengan kecantikannya.
Lama Siti menunggu,akhirnya sebuah mobil pun meluncur didepannya.Rupanya itu mobil milik Jaya,Siti sedikit ragu untuk masuk kemobil karena jantungnya berdebar tak menentu,entah mengapa setiap kali dekat dengan Jaya jantungnya berdebar tak menentu.
"Ayo Sit silahkan masuk!"Jaya menurunkan kaca mobilnya menyuruh Siti untuk masuk dia tanpa menengok kearah wanita itu karena dia lagi menyimpan sesuatu dikursi belakang,wanita itu pun bergegas masuk takut Jaya menunggu dan mobil meluncur membelah jalanan malam yang sepi.
"Ada apa dok,kenapa mengajak saya keluar selarut ini?"tanya Siti dengan ragu ragu,karena daritadi Jaya terus memaksanya lewat telepon untuk bertemu dengannya,hanya untuk meminta maaf karena sudah membatalkan janji makan malam mereka.
"Aku nggak enak sama kamu Sit,makanya aku mau mengajak kamu kesuatu tempat untuk mengganti makan malamnya jadi.."jelas Jaya menatap Siti,dia terkesima menatap wanita cantik disebelahnya,Jaya baru menyadari penampilan Siti yang begitu mempesona malam ini.Dia sampai tak berkedip melirik Siti yang menunduk karena malu dengan tatapan Jaya.
"Tidak apa apa kok dok,Siti nggak marah kok lagian saya hanya Art kenapa dokter berlebihan sekali"ucap Siti merendah sambil terus menunduk karena malu Jaya terus melirik kearahnya,dia juga merasa Jaya terlalu berlebihan masa minta maaf sampai harus keluar malam begini kan masih ada hari esok.
"Panggil saja Jaya,nggak usah pake dak dok dik gitu"telinga Jaya terasa nggak nyaman dipanggil pake embel embel begitu"Jaya mendengua kesal sambil menyetir
"Tapi.."
"Nggak ada tapi tapian,atau saya bakal cium kamu"ancam Jaya refleks Siti memegangi bibirnya.Jaya hanya tersenyum kecil melihat kepolososan dan wajah takut Siti.
Ditengah gelapnya malam mobil Jaya membelah jalanan yang sepi,kalo dipikir pikir semua orang pasri sudah tidur lain halnya dengan kedua manusia itu yang masih berkeliaran.Setelah beberapa menit,mobil Jaya berhenti disebuah gedung besar dan Siti meyakini ini sebuah kafe yang mahal,Jaya membuka kan pintu mobil untuknya dia diperlakukan bak seorang majikan oleh Jaya.
"Aldara Cafe"gumam Siti langkahnya terhenti,dia merasa takut dan gugup tiba-tiba menyerangnya.
"Ada apa Sit?"Jaya juga berhenti karena Siti,dia merasa aneh kenapa Siti tiba tiba berhenti saat mereka memasuki Cafe.
"Akhh tidak apa apa aku cuman nggak pantas aja jalan sama orang kaya"alibi Siti mencari alasan
"Heyy aku nggak pernah bahas soal status kita,kamu jangan mikir yang aneh aneh meskipun kamu art,mau apa kek aku nggak peduli"Jaya memegang tangan Siti dengan lembut,namun wanita itu ingin menolaknya tapi perkataan Jaya barusan sangat menyentuhnya.
"So kamu nggak usah gugup atau malu,karena bagi aku kamu wanita yang spesial"ngaku Jaya yang sudah sejak lama terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaan Siti.
"Makasih Jay aku beruntung mengenal kamu"ucap Siti dengan tersenyum tulus,setelah itu keduanya masuk menuju lantai 4.
Mereka berdua menaiki lift,sambil berpegangan tangan.Awalnya Siti kekeh untuk melepaskan tangan Jaya,namun pria itu tak mau melepaskannya karena cengkramannya kuat sekali mau tak mau Siti pasrah saja.
Beberapa menit kemudia mereka sampai dilantai 4,Jaya membawa Siti disebuah balkon dimana sudah disiapkan kursi dan hiasan lilin ala ala pasangan romantis.Siti terkejut dengan pemandangan didepannya,bahkan mereka juga bisa menikmati indahnya langit malam dan juga seluruh cahaya lampu kota malam ini.
"Kamu yang siapin semua ini?"Siti mengitari meja yang penuh dengan lilin dan juga hiasan bunga,baru pertama kali dia diistimewakan seperti ini membuat wajahnya jadi sendu dan tanpa sadar buliran cahaya bening meluruh kepipinya.
Jaya hanya memandangi Siti yang sedang membelakanginya,memandangi kejutaanya hari ternyata Siti sedang menangis.
"Sit kamu baik baik saja"Jaya mendekati Siti yang tak bergeming,dia berdiri didekat meja punggungnya bergetar Jaya merasa ada yang tak beres.
"Akhh aku mau ketoilet sebentar"Siti langsung berbalik badan untuk menghindari pertanyaan Jaya.Dia tak mau Jaya melihat dia menangis,jadi dia memilih untuk mengabaikan Jaya dulu untuk menenangkan dirinya yang merasakan kesedihan dihatinya.
__ADS_1
Ditoilet Siti memandangi wajahnya dikaca,dia mengambil tisu dan mengusap wajahnya yang habis menangis.
"Dafa!"Siti menyebut nama itu sambil memegangi dadanya,dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya malam ini.
Setelah dirasa enakan,Siti segera keluar dari toilet supaya tidak membuat Jaya khawatir.
Belum sempat dia menuju balkon dimana Jaya berada,dia melihat seseorang yang dikenalinya.
"Ayah!"Siti langsung berlari lagi ketoilet,dengan wajah panik Siti memutar otaknya supaya bisa kembali kemejanya tanpa diketahui orang lain.Dia lalu mengintip keluar,tidak ada siapa siapa disana,dia pun mengendap keluar namun dari belakangnya seseorang memegangi pundaknya.
Jantung Siti hampir copot,dia tak berani menatap orang tersebut hanya bisa memejamkan matanya untuk mengurangi rasa takutnya.Dia ingin mencoba berlari,namun orang itu membalikan badanya dengan cepat.
"Jaya"gumam Siti bernapas lega,hampir saja dia pingsan kalo orang dihadapannya bukan Jaya.
"Kamu kok sembunyi sembunyi gitu Sit,ngapain sih kamu takut ketawan sama siapa?"heran Jaya dengan tingkah Siti semenjak masuk keCafe ini.
Dia sengaja mencari Siti karena wanita itu tak kunjung muncul dimeja,padahal makanan sudah dia pesan.
"Ya sudah kita percepat saja makannya habis itu kita pulang nanti tuan Yano marah kalo ssaya keluar"
"Nanti aku yang jelasin ke Yano"
Siti berjalan duluan diikuti oleh Jaya dibelakangnya,barulah keduanya sudah duduk berhadapan untuk menyantap makanan mereka.Selama makan tak ada yang bersuara,Jaya sesekali melirik Siti dia merasa ada sebuah keanehan karena Jaya memesan makanan yang serba mentah karena ini adalah salah satu Cafe Jepang terbaik.Wanita itu melahapnya dan tahu cara memanggang dagingnya,tadinya Jaya pikir Siti bakal nggak suka atau muntah muntah namun hal itu berbanding terbalik.Bahkan Jaya kagum dengan Siti yang dengan lihai menggunakan sumpit,Siti didepannya seperti bukan seorang Art melainkan wanita yang berasal dari kalangan kaya.
"Masa sih Siti anak yang terbuang dari keluarga kaya"pikir Jaya dalam hatinya,dia menghentikan makannya dan menatap Siti yang sibuk melahap makananya.
"Aku sudah selesai"Siti membersihkan mulutnya,tapi dia heran dengan Jaya yang menatapnya sementaraa makanannya masih belum habis.
"Jay kamu kok nggak makan"
"Aku udah kenyang"
"Perasaan makanan kamu baru disentuh sedikit,apa aku membuat selera makanmu tidak bagus?."Siti menatap Jaya dengan khawatir,takut Jaya mungkin malu makan didepannya namun dengan cepat Jaya menggeleng.
"Enggak kok Sit,aku cuman lagi nggak enak badan"bohong Jaya
"Astaga mending kita pulang aja,kamu sih maksain untuk keluar kalo nanti kamu sakit siapa nggak bisa kerja lagi"ngomel Siti setengah khawatir,dia membantu Jaya memakaikan jasnya lalu memapah pria itu seperti orang yang mabuk.
Jaya malah ikuti saja yang dilakukan Siti,padahal dirinya hanya bercanda kalo dia sedang tidak enak badan namun wanita itu menganggapnya serius.Jaya menang banyak karena bisa lebih dekat dengan Siti,dengan susah payah Siti memapah tubuh kekar itu namun dia tak mengeluh.
"Maafin aku Sit,kapan lagi kamu bisa perhatian sama aku"pikir Jaya dalam hati dengan senyum terukir diwajahnya.
Setelah sampai didepan pintu keluar Cafe,Jaya berjalan sendiri tanpa dibantu Siti.Kemudian mereka ingin menuju parkiran supaya langsung pulang.Baru saja Siti dan Jaya melangkah,ada sebuah suara yang lagi lagi menghentikan Siti,dan suara itu sangat dia kenal.
"Aldara!"panggil orang itu dengan lantang,membuat Siti berhenti dan tak berani untuk menatap kebelakang.
"Aku harus gimana sekarang,nggak mungkin aku kembali lagi kan"monolog Siti dalam hati,sementara Jaya tak mengetahui kalo Siti tidak ada disampingnya,kebetulan dia yang berjalan didepan dan Siti mengikutinya dari belakang.
"Ayah!"bukan Siti yang menjawab,namun suara seorang wanita yang tepat berjalan dibelakangnya,Siti memutar sedikit kepalanya lalu melihat kearah wanita yang sedang berlari memeluk pria paruh baya dengan jas hitam yang merentangkan tangannya.
"Aku sangat merindukan ayah"imbuh wanita itu memeluk pria paruh baya itu,Siti mematung dengan pemandangan didepannya,hatinya terasa sesak.
"Siapa dia?,kenapa dia mengaku menjadi aku"gumam Siti melihat wanita yang sama persis dengan mukanya tengah berpelukan dengan pria paruh baya itu didepan Cafe.
Akhirnya pria paruh baya dan wanita muda itu masuk kedalam Cafe,namun pria paruh baya itu menengok kearah Siti dengan cepat Siti membuang muka lalu pergi menuju parkiran.
__ADS_1
Disana Jaya ingin mencari Siti lagi karena wanita itu tak mengikuti nya keparkiran,baru saja dia pergi untuk mencarinya,munculah Siti yang langsung menerobos masuk mobil tanpa mengucap sepatah kata apapu kepadanya.
Jaya memilih diam saja melihat mood wanita disampingnya itu berubah ubah,akhirnya makan malam penuh drama itu berakhir begitu saja.Meskipun hati Jaya kecewa karena tak sempat mengobrol lebih lama dengan Siti,karena wanita itu seperti takut kepada seseorang namun Jaya tak apa apa karena itu mungkin cobaan dalam percintaannya.