Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Setan Lapar


__ADS_3

Setelah membawa koper milik Jesica,Moza kemudian membantu Siti didapur,kini dia sudah pandai memasak setelah diajari oleh Siti berkali-kali.


"Bi Siti masak apa"tanyanya melihat Siti mengaduk-aduk sesuatu.


"Ini sop ayam non,tadi wanita yang tadi itu merengek kayak anak kecil kepada tuan muda hanya untuk meminta sop ayam"jelas Siti dengan jengkel,hal itu membuat Moza bingung.


"Apa tante yang gatal itu Bi?"tebak Moza dianggukan oleh Siti,membuat tangan Moza terkepal erat seperti sedang menahan emosi.


"Betul-betul sih tante kegatalan itu,memang harus dikasih pelajaran supaya nggak lengket sama suami orang"ucap Moza mengahajar udara,seolah olah dirinya sedang menghajar seseorang.Melihat kelakuaan Moza,Siti tersenyum tipis melihat bahwa ada kecemburuan dihati gadis kecil itu.


"Nona Moza cemburu?"tuduh Siti


"Siapa yang cemburu?"elak Moza bersikap biasa.


"Oalaah Siti tahu nona cemburu lihat tuan muda sama wanita itu kan"ejek Siti.


"Emang kelihatan ya bi?"ngaku Moza sembari mendekat ke arah Siti,dan hal itu membuat Siti senyum mendengar pengakuan dari nona mudanya.


"Waah kelihatan banget non,apalagi melihat nona meninju udara sana sini"ungkap Siti membuat pipi Moza memerah menahan malu,karena sudah ketahuan cemburu dan itu artinya dirinya juga menaruh rasa kepada Yano.


"Ohyaa non,mau tahu nggak cara ngerjain perempuan gatel itu"saran Siti mendelik kesal melihat Jesika yang menempel seperti perangko dengan Yano.


"Apann tuh bi?"antusias Moza mendekat,lalu Siti membisikkan sesuatu membuat Moza tersenyum smirk.


"Good idea bi"kata Moza mengancungkan jempolnya.


Sementara Yano dan Jesika berada diruang makan,Jesika tak henti-hentinya menanyakan hal apa saja yang Yano lakukan selama ini,akan tetapi Yano menjawabnya dengan singkat,sebetulnya dia malas sekali menampung Jesika dirumahnya,kalo bukan karena ayahnya mungkin pintu rumahnya takan terbuka untuk wanita dihadapannya.


"Yan mana sih opor ayamnya?"rengek Jesika dengan manja,tapi Yano masih fokus dengan benda pipih ditangannya.


"Yan,kamu kok nggak jawab sih?"Jesika dengan manja bergelayut dilengan Yano,akan tetapi sayang seribu sayang Yano langsung menepisnya dengan keras,dia sungguh risih dengan sikap manja dari Jesika yang tidak tahu diri.

__ADS_1


"Tolong Jesika jaga sikap kamu,kalo kamu mau tinggal lama disini"tutur Yano dengan dingin membuat nyali Jesika menciut melihat sorot tajam dari Yano.


"Ini opor ayamnya tuan muda"Siti datang membawa dua mangkuk opor ayam,Yano kembali bersikap datar begitu pula dengan Jesika yang memilih diam saja,daripada dirinya diusir sama Yano.


Tanpa aba-aba Jesika mengambil mangkok opor ayam yang diberi siti,dan memakannya dengan lahap,sedang Yano memilih meninggalkan wanita itu.Disisi lain Moza dan Siti mengintip Jesika yang lahap memakan opor ayam itu,seperti orang yang tidak makan beberapa hari,dia terlihat rakus tanpa menyadari sesuatu.


"Itu perempuan rakus atau kelaparan,makannya kaya kanibal"cerocos Siti melihat cara makan Jesika yang begitu rakus dan cepat.


"Betul bi,mungkin lagi kemasukan setan lapar"ucap Moza dan keduanya terkekeh pelan.


Jesika yang dengan lahap memakan opor ayam tersebut,sampai menghabiskan 1 mangkok miliknya dan mengambil mangkok milik Yano dan memakan isi mangkok itu,sehingga Siti dan Moza sungguh-sungguh terkejut dengan hal itu,apakah benar Jesika kemasukan setan lapar,itulah mungkin pikiran dari Moza dan Siti yang tengah mengintip.


"Uhhh kenyangnya"desis Jesika memegangi perutnya yang terasa penuh,akan tetapi detik berikutnya perutnya terasa melilit.


"Auwww perut gue kenapa sakit,auwww"rancau Jesika memegangi perutnya dan segera berlari mencari toilet,Moza dan Siti yang melihat hal itu tertawa lepas sampai memegangi perutnya.


"Rencana kita berhasil bi"ucap Moza tersenyum dan dibalas acungan jempol oleh Siti.


"Siti!"panggil Yano


"Iya tuan muda"jawab Siti menunduk takut melihat Yano yang terlihat dingin.


"Dimana opor ayam buat saya?"tanya Yano menunjuk mangkok kosong yang sudah tak ada isinya.


"Sedari tadi yang makan disini hanya nona Jesika tuan"ngaku Siti membuat Yano mendengus kesal.


"Wanita itu memang menyusahkan"desis Yano menatap sekeliling mencaria Jesika yang tak terlihat.


"Dimana Jesika bi?"tanya Yano menatap Siti,tapi yang ditanya menggelengkan kepalanya yang menandakan dia juga tidak tahu.Disaat itu juga muncullah Jesika yang datang sambil memegangi perutnya,Yano mengerutkan melihat Jesika yang memegangi perutnya.


"Ehh Yano aku cari kamu dari tadi"cengir Jesika mendekat kearah Yano,malah Yano dengan cepat menghindar dan menatap wanita itu dengan tajam.

__ADS_1


"Kenapa kamu makan opor ayam milik saya?"tanya Yano to the point,karena dirinya tengah merasa kelaparan,karena tadinya dia tak ingin makan berdua dengan Jesika,makanya dia menahan rasa laparnya.


"Emmm aku pikir kamu ng....gak mak..an Ya..n"jawab Jesika menahan sesuatu,dengan wajah memerah.


Pretttttttt


Seketika Yano dan Siti menutup hidungnya,karena semprotan angin jahat dari Jesika yang sungguh menyengat diindra penciuman,Jesika yang tak tahan kembali berlaru ketoilet,entah keberapa kalinya dia keluar masuk ruangan itu.Yano tak mau ambil pusing melihat keadaan Jesika,dia memilih mengisi perutnya dulu.


"Hufftttttt,bi suruh Moza buatkan opor ayam untuo saya,dan bawakan kekamar,secepatnya"ucap Yano setelah menghirup napas setelah mencium angin jahat.


"Baik tuan muda"Siti meninggalkan Yano,dan dengan cepat menyuruh Moza untuk mengantarkan makan untuk Yano.


Moza dengan telaten menyiapkan makan untuk Yano,dan tanpa berlama-lama dia berlalu menuju kamar suaminya.


Tok..tok


Moza mengetuk pelan sembari memegang napan,dan setelah mendengar sahutan dari dalam dia pun masuk kedalam mendapati suaminya sedang bersandar di meja kerjanya.


"Ini makanannya mas"Moza menyusun makanannya dihadapan Yano yang terlihat datar saja.


"Lambat banget kaya siput,sudah tahu orang kelaparan" umpat Yano pelan tapi masih didengar oleh Moza,sehingga dia terkekeh pelan mendengar umpatan suaminya.


"Mas ngambek sama aku"goda Moza menunjukkan senyum termanisnya,tapi Yano malah membuang muka.


"Mending kamu jauh-jauh dari hadapan saya,bisa bisa nafsu makan saya menghilang lagi"usir Yano membuat Moza mendesis kesal,dan memilih keluar dari kamar itu.


"Siapa yang menyuruh kamu keluar hah?"sergap Yano menghentikan langkah Moza,


"Kan mas tak mau dekat dekat aku,takut nafsu makanngya hilang,makanya aku memilih keluar aja"ucap Moza dengan lirih,sungguh dirinya ingin menangis dengan sikap suaminya yang tak pernah lembut dengannya,sehingga hubungan keduanya tak ada kemajuan sama sekali.


"Nggak usah banyak ngeles,sekarang kamu berdiri disitu sampai aku selesai makan!"perintah Yano tak ingin dibantah,Moza dengan pasrah mengikuti kemauannya.

__ADS_1


__ADS_2