Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Bertemu Lagi


__ADS_3

Setelah suasana haru diantara Revan dan ayahnya,keduanya saling hening kembali berkelana dengan pikiran masing masing.


"Apa kamu mau menyampaikan sesuatu?"tanya Ardiansyah yang melihat kegelisahan dimuka anaknya itu.


"Sebenarnya Revan mau minta bantuan sama ayah"


"Bantuan apa?nanti ayah akan membantu kamu selagi ayah mampu"


Revan menatap dalam manik mata ayahnya,dengan nafas yang panjang lalu menggenggam tangan ayahnya.


"Sekarang Jesika dalam bahaya,begitupun juga cucu ayah aku mau minta bantuan ijinkan Jesika tinggal disini untuk keamanannya"


Ardiansyah tertawa kecil mendengar ucapan Revan.


"Kamu bikin ayah tertawa saja,lagian kamu nggak perlu ijin dari ayah karena rumah ini sudah menjadi milik kamu"


"Ayah pasti bercanda"kekehnya merasa terkejut sekaligus tak percaya dengan ocehan ayahnya.


Ardiansyah terdiam sejenak lalu memgang bahu Revan.


"Hidup ayah sudah tak lama lagi,dan saatnya kamu yang menjadi penerus ayah atas rumah ini dan juga perusahaan"tuturnya membuat mata Revan memerah.


"Ayah nggak boleh ngomong gitu,aku mau kita bersama sama sampai cucu dan anak ayah ada semua disini"


"Heumm ayah juga berharap begitu,nanti ayah akan usahakan dengan segenap kekuatan untuk menjaga cucuku dan menantuku"


Revan tersenyum senang karena Ardiansyah mengakui Jesika sebagai menantunya dengan tulus.Kini setelah menceritakan semua bebannya kepada ayahnya,dia merasa sangat lega kemudian dia pamit dari kamar ayahnya.


"Van tunggu dulu"


"Kenapa lagi yah?"


"Temui ayah saat makan malam bersama menantuku"


Revan menggangguk tanda setuju,sepanjang jalan pria itu tak henti hentinya tersenyum karena merasa sangat bahagia,sekarang yang dilakukannya adalah untuk terus berada disamping Jesika.


Cekleek


Revan memasuki kamar yang disiapkan untuk mereka,dia mendapati Jesika yang tertidur disofa dengan wajah pucat.


Walau merasa panik dengan mukanya yang pucat,Revan tak membangunnkannya tapi memindahkannya diatas ranjang.


Setelah itu dia mengeluarkan ponselnya.


"Hallo"


"Bagas tolong jemput dokter keluarga kerumah sekarang juga tapi jangan laki laki"


"Ada apa dengan tuan besar?"


"Bukan ayah yang sakit,nanti kamu tahu sendiri"


"Baik tuan muda"


Tutt...

__ADS_1


Revan duduk ditepi ranjang,mengelus dengan perlahan wajah cantik itu namun sangat pucat.


"Kamu kenapa sih sayang?"cemasnya takut Jesika kenapa kenapa.


Karena ulah Revan yang mengelus wajahnya,Jesika jadi terbangun dia berusaha untuk bangun namun kepalanya sangat pusing.


Aww


"Sayang kamu istirahat saja muka kamu pucat banget"Revan menyelimutinya dan memperbaiki posisi tidurnya,walaupun wanita itu kekeh untuk berdiri.


"Aku nggak apa apa ko..uekkk ueeeek"baru saja Jesika bolak balik kamar mandi saat Revan tidak ada,kini rasa mual itu kembali menyerangnya.


Dengan sigap Revan menggendong Jesika kekamar mandi,Revan membantu memijit punggung Jesika setelah rasa mualnya berhenti dia kembali menggendongnya keranjang.


"Kamu tahan dulu ya sayang sebentar lagi dokter datang"


"Aku baik baik saja Van"


"No kamu lagi sakit,aku nggak akan biarin kamu kenapa-kenapa"


Tak butuh waktu lama,seorang wanita berjas putih masuk kekamar mereka.


"Akhirnya dokter datang juga"


"Iya tuan say harus menyelesaikan operasi dulu"


Sementara Jesika terkejut dengan kesigapan Revan sampai harus memanggil dokter utnumnya,padahal hanya mual biasa saja yang dialaminya.


"Dok tolong periksa istri saya"


Revan memilih duduk disofa untuk menunggu hasilnya,dia memainkan ponselnya sambil melirik lirik kearah Jesika.


"Bagaimana kondisinya dok"kayaknya Revan sungguh tak sabaran dengan hasil pemeriksaannya.


Dokter itu tersenyum kecil saja,sesudah selesai barulah dia menjawab pertanyaan Revan.


"Rupanya anda akan menjadi seorang ayah,nanti saya akan memberi tespack untuk memastikannya dan obat untuk meredakan mual"


"Kenapa dokter tahu saya hamil?"tanya Jesika dengan pelan


"Hemm kebetulan saya dokter kandungan"


Mendengar hal itu,Revan berlari memeluk Jesika menghujaninya dengan ciuman sampai tak sadar kalo dokternya masih disitu.


"Akhh Van sudah dong aku malu banget"


"Biarin aku senang banget sayang,terima kasih banyak honeyku"


Karena hanya jadi nyamuk disitu,dokter itupun memilih untuk keluar dengan hati yang dongkol melihat kemesraan dua insan tadi.


"Hufttt sungguh hari yang sial,kesana sini melihat kemesraan orang lain dengan pasangannya,nasib jomblo terlalu lama"rutuknya sepanjang jalan,hingga tak menyadari ada orang yang sejak tadi mendengarnya.


"Dok!"panggil seseorang dokter cantik yang memakai name tag Amanda itu menoleh keasal suara.


"Om Bagas!"wanita itu merasa terkejut dengan seorang pria yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Bagas yang tadinya memasang ekspresi datar,berubah jadi bingung bagaimana wanita itu bisa mengenalinya padahal seingatnya dia baru pertama kali bertemu dengan wanita itu.


"Ekhem maaf apa anda mengenali saya"


"Om masa udah lupa sama saya,Manda sahabatnya Moza sudah berapa tahun kita nggak bertemu pantas Om Bagas tidak mengenali saya"celoteh Manda panjang lebar


"Ohh"jawab Bagas dengan datar tanpa mempedulikan wajah Manda yang kesal,masa dia sudah bicara panjang lebar namun tanggapan Bagas diluar nalar banget.


"Memang susah sekali ngomong dengan batu"rutuknya namun bisa didengar sama Bagas.


"Kamu bilang apa?"


"Ooh tidak om,ngomong-ngomong apa Moza sudah ditemukan om.Saya sangat merindukannya om,dia sudah lama menghilang namun saya belum mendapat kabarnya sampai saat ini"wajah Manda berubah menjadi sendu,dulu dia dan Moza bercita cita untuk bersama-sama kuliah kedokteran,namun takdir berkata lain saat sahabatnya diculik beberapa tahun silam.


"Mending anda pulang,mari saya antar"


"Om ngusir saya ya"


"Bukan begitu,anda sudah melakukan tugas anda disini jadi anda pulang saja"


"Tapi saya nggak mau pulang sebelum saya tahu Moza dimana"


Bagas yang malas menghadapi wanita didepannya ini tak tahu harus berbuat apa karena Manda sangat keras kepala.Saat ini dia bahkan dengan santainya duduk disofa.


"Jadi anda tidak mau pulang"Bagas melonggarkan dasinya,tidak ada cara lain untuk melawan wanita itu selain dengan cara yang ada diotakknya sekarang.


"Mau ngapain?"tanya Manda yang heran karena Bagas mendekatinya dan duduk disampingnya,lalu tatapan mereka bertemu hingga tak ada jarak diantaranya membuat Manda bisa memandang wajah tampan itu dari dekat jantungnya kembali berdetak tak tentu.


Namun detik berikutnya dia berteriak histeris mendapati dirinya sudah berada dalam gendongan Bagas.


"Hey om turunkan aku!"teriaknya namun tak digubris Bagas.


"Dasar om mesum turunkan aku,woyyy penjaga tolongin saya dari duda gila ini"rancau Manda sembarangan,pipinya serasa terbakar entah mengapa dia merasa malu bercampur suka digendong sama Bagas.


Dengan segala umpatannya,dia sudah berada didalam mobil bersama Bagas.


"Kamu bisa diam nggak"teriak Bagas dengan tegas,berhasil membuat Manda diam.


Namun detik berikutnya dia mengumpat lagi.


"Om ini memang pria yang tak punya hati,memperlakukan wanita dengan kasar pantesan tak ada wanita yang mau sama om Bagas"


Sepanjang jalan Manda tak henti-hentinya menghina Bagas dengan segala umpatan mautnya.Namun pria itu hanya diam saja walau telinganya terasa panas.


Merasa jengah dengan Manda yang berisik banget,Bagas menepikan mobilnya karena fokusnya terganggu saat menyetir.


"Wahhh apalagi ini om mau turunin aku disini"sangka Jesika karena tiba tiba Bagas menepikan mobilnya dekat sebuah taman.


"Aku lama lama kehabisan oksigen berduaan dengan ba.."


Manda tak melanjutkan ucapannya,saat sebuah benda kenyal menempel dibibirnya.Ternyata Bagas menciumnya,dia ingin memberontak namun pria itu menciumnya dengan lembut hingga dirinya terbuai dan membalas ciuman itu.


Setelah kehabisan oksigen barulah tautan bibir mereka terlepas,ciuman itu membuat Manda benar benar diam membeku.


"Sekarang kamu tidak kehabisan oksigen lagi kan"kata Bagas lalu melajukan mobilnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2