Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Pendatang Baru


__ADS_3

Flashback Off


"Begitu ceritanya Van"ucap Ardiansyah lega karena sudah bisa membicarakan semuanya kepada Revan.


"Jadi aku bukan anaknya ayah?"tanya Revan dengan mata berkaca-kaca,mendengar semua hal yang begitu menyakitkan dari ayahnya,lebih tepat ayah angkatnya.


"Van kamu dengerin ayah dulu"kata Ardiansyah menenangkan Revan.


"Ayah mohon kamu jangan salah paham,ayah udah menganggap kamu sebagai anak kandung ayah."tahan Ardiansyah.


"Apa yang ayah jelasin hah,semuanya sudah jelas aku ini hanya anak angkatnya ayah."Ucap Revan menggebu.


"Dan papa udah menyembunyikan identitas adik tiriku,dan apa sekarang yah dia menghilang baru ayah membuka semuanya."Tambah Revan mulai menaikkan suaranya.


"Kamu dengerin ayah dulu,ayah bukan bermaksud untuk nyembunyiin tapi ini demi keselamatannya."ucap Ardiansyah memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.


"Udahlah yah,Revan sadar diri kok,kalo aku ini hanya anak angkat dan tak pantas mengetahui apapun tentang anda."Ungkap Revan meninggalkan Ardiansyah,tapi belum seberapa langkah Ardiansyah jatuh memegangi dadanya,dengan segera Bagas menolong tuan besarnya.


"Tuan besar!"panggi Bagas menepuk pipi Ardiansyah pelan,Revan yang merasa cemas pun menurunkan egonya dan bersama mengangkat ayahnya dengan dibantu beberapa pengawal,dan dilarikan kerumah sakit.


Revan dengan cemas menunggu diluar IGD,bersama Bagas dan beberapa pengawal lainnya.


Ceklek...


Seorang dokter lelaki berperawakan tinggi keluar dari ruangan,dengan segera Revan menghampirinya.


"Bagaimana kondisi ayah saya dok"tanya Revan khawatir.


"Keadaannya cukup baik,dan untuk kedepannya jangan biarkan beliau banyak memikirkan sesuatu yang menimbulkan stres"jelas dokter bername tag Jaya itu kepada Revan.


"Terima kasih banyak dok"ucap Revan dan diangguki dokter tersebut.


"Ayo tuan muda kita lihat kondisi tuan besar"ajak Bagas menatap Revan yang berdiri didepan IGD.


"Om saja yang masuk,kalo ayah nanyain aku bilang saja dia ada urusan."


Revan bergegas meninggalkan ruangan ayahnya,dia pergi ketaman rumah sakit,akan tetapi niatnya diurungkan ketika dipanggil dokter yang menangani ayahnya.


"Tuan Revan!"panggil dokter Jaya.


"Iya dok"

__ADS_1


"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda,tolong ikut keruangan saya sekarang"terang Jaya dianggukan oleh Revan,kemudian keduanya berjalan beriringan.


"Silahkan duduk Tuan Revan"Jaya mempersilahkan Revan untuk duduk,melihat mimik serius dari dokter itu,Revan jadi memikirkan kondisi ayahnya.


"Apa doktee memanggil saya kesini,untuk membicarakan kondisi ayah saya?"tanya Revan dengan cemas.


"Iya betul sekali,Tuan Ardiansyah mengalami depresi akibat terlalu banyak pikiran.Apalagi dia memiliki risiko untuk struk juga."Jelas Jaya dan disimak oleh Revan.


"Depresi dok?,banyak pikiran?"tanya Revan mengulangi,dan dianggukan oleh Jaya.


"Apa anda tahu apa yang sering mengganggu ayah anda,atau apa ada masalah sehingga dia terbebani"tanya Jaya berentet,dan seketika itu pikiran Revan tertuju pada Moza yang hilang.


"Apa ayah memikirkan Moza?"gumam Revan pelan tapi masih didengar oleh Jaya.


"Apa ada sesuatu Tuan Revan?"tanya Jaya mengingat nama yang Revan sebutkan dan sempat dia dengar sepintas.


"Tidak ada dok,saya rasa memang ayah lagi kepikiran mengenai adik saya tinggal di Amerika dok"bohong Revan karena dia tidak mungkin memberitahu kalo ayahnya kepikiran dengan anaknya yang hilang.


"Ooh begitu,tapi saya minta dengan anda supaya melakukan komunikasi rutin dengan beliau agar dia bisa membagi beban itu"saran Jaya dan Revan mengangguk ragu saja.


"Baik dok akan saya usahakan,kalo begitu saya pamit dulu dok,"ucap Revan berlalu dari situ,dan Jaya hanya menatap kepergian pria itu.


"Apa gue salah dengar kali ya,kalo dia tadi nyebutin Moza,itu kan nama istri dari Yano"pikir Jaya mengetuk jarinya dimeja.


Sedang disisi lain Yano didatangi oleh ayahnya dirumahnya,Agusto datang tiba-tiba dikediaman Yano.


Dan saat ini dia duduk berhadapan dengan Yano diruang tengah.


"Ayah kok datang nggak bilang-bilang?"tanya Yano bingung melihat ayahnya sudah rapi datang kerumahnya.


"Ayah mau ngasih tahu kamu,kalo Jesika hari ini sudah tiba dibandara,kamu yang jemput"ucap Agusto menatap putranya yang nampak tak bersemangat.


"Kenapa harus Yano sih yah"tolak Yano


"Nggak ada tapi-tapian,dia akan menetap disini juga,jadi suruh gadis itu menyiapkan kamar untuj Jesika"tegas Agusto tak ingin dibantah.


"Ayah apa-apaan sih,kenapa dia harus tinggal disini lagi"bukannya menolak tapi dia tak mau ada orang lain menetap dirumahnya.


"Pokoknya itu sudah keputusan ayah,jangan bilang kamu ingin menjaga gadis itu.Ingat tujuan mu menikahinya Yano"ucap Agusto tak ingin dibantah,dan meinggalkan Yano yang terdiam,sedang dibalik tembok ada seseorang yang menahan sesak didadanya,melihat raut kebencian yang terpancar dari mertuanya.


*

__ADS_1


*


*


Akhirnya mau tak mau Yano menjemput Jesika,yang merupakan anak dari rekan bisnis ayahnya,yang kenal dengan Yano sejak dulu dan dia menjadi model diluar negeri.


"Moza!!!"panggil Yano menggema,dan muncullah batang hidungnya Moza.


"Kenapa mas?"tanya Moza


"Bersihkan kamar tamu,ada orang baru yang akan tinggal disini"kata Yano dengan datar,dan Moza mengangguk patuh dan menjalankan tugasnya,kini dia terbiasa diperlakukan seperti pembantu oleh suaminya sendiri,tapi dia ingin bertahan karena tak ingin Yano menyakiti keduaorangtuanya juga.


Walaupun terkadang dia harus mendapat tamparan hinaan dari Yano,tapi tak pernah membuatnya menyerah.


"Siapa sih yang datang?"ucap Moza berjalan kekamar tamu dengan alat kebersihannya,sambil berpikir siapakah yang datang.


Beberapa jam kemudian,suara mobil menderu didepan gerbang,seorang wanita cantik dengan body seperti model dia adalah Jesika yang dimaksud.


Yano yang mengetahui siapa yang datang,segera menyuruh Moza untuk membuka pintu.


Dengan langkah kecilnya Moza membuka pintu,dan tampaklah seorang wanita cantik dengan postur seperti model,dia adalah Jesika.Melihat wanita itu,Moza cukup kagum dengan kecantikannya tapu hanya sesaat setelah pikirannya mengarah pada penghuni baru yang dibilang suaminya.


"Apa tante ini penghuni barunya"guman Moza dalam hati menatap Jesika dari atas sampai bawah.


"Silahkan masuk tante"ucap Moza dan tentu saja membuat Jesika membelalakan matanya,mendengar panggilan tante dari Moza.


"Wait,kamu manggil saya tante?"tanya Jesika tak percaya menatap gadis mungil dihadapannya,Moza pun mengangguk polos.


"Enak saja kamu manggil tante,panggil gue nyonya Jesika"ucap Jesika angkuh,mendengar suara ribut-ribut Yano yang sedari tadi menunggu di ruang tengah berjalan kedepan.


"Kenapa ribut-ribut?"Yano datang menghampiri Jesika dan Moza,melihat Yano Jesika langsung berlari memeluk pria itu,hal itu tak luput dari pandangan Moza.


"Yano gue rindu banget sama kamu,kok bukan kamu yang jemput aku sih"rajuk Jesika memeluk Yano mesra,membuat Yano risih tapi dia tak melepaskannya,dengan sengaja dia membalas pelukan Jesika untuk melihat reaksi dari istri kecilnya,tapi Moza memasang wajah datar saja dan pura-pura melihat kearah lain.Padahal dalam hatinya memanas melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain dihadapannya.


"Nih bocah nggak cemburu apa,lihat suaminya dipeluk wanita lain"kesal Yano melihat ekspresi Moza.


"Nih tante kegatalan banget sih"umpat Moza kesal.


"Ya udah Jes mending kamu masuk dulu"ucap Yano melepas pelukannya,Jesika menatap sinis kearah Moza.


"Tolong ya bibi,bawaain koper aku masuk" perintah Jesika menggandeng Yano masuk,sedangkan Moza sungguh kesal dengan wanita itu.

__ADS_1


Dengan hati yang dongkol Moza menyeret koper milik Jesika yang begitu berat.


"Ini isinya apaan sih,itu tante gatal mungkin bawa batu kali ya"rutuk Moza tertatih menarik koper tersebut.


__ADS_2