
Sementara itu Jesika yang ngambek karena masalah pintu kemarin tidak bisa dibuka,hingga sampai sekarang dirinya masih terjebak diapartemen Revan.
Tokk...tokkk
"Jes,mau sampai kapan kamu begini hah"Revan berulang kali mengetuk kamar yang ditempatj Jesika,dia khawatir dengan kondisi wanita itu yang terus mengurung diri dikamar.Awalnya niatnya ingin memancing Yano dengan menahan Jesika,akan tetapi sampai sekarang tak ada tanda-tanda pria itu datang mencari Jesika.
"Gue cuman mau balik kerumah Yano!"teriak Jesika dari dalam,dia juga bingung harus melakukan apa,jadi dia mengurung diri dan tak mau bicara sama Revan,supaya membuat lelaki itu menyerah agar memulangkannya kerumah Yano.Karena dia yakin Revan memiliki sifat mudah mengalah,buktinya pada saat keduanya menjalin hubungan,Revan selalu
"Huftt apa iya gue harus mulangin Jesika"gumam Yano sambil bersandar,pikirannya berkecamuk antara dia memulangkan Jesika atau terus menahannya dengan alasan yang nggak jelas.
Revan memilih mengerjakan urusan kantornya,bentar lagi Jesika pasti keluar kalo dia lapar,tapi dengan wajah yang dingin dan tak mau menyapa Revan bila ditegur,setelah itu dia masuk kekamar lagi.
Sedang Jaya sudah tak kelihatan lagi di apartemen Revan,dan bagaimana caranya dia keluar itu hanya rahasia Revan dan Jaya dan tentunya Jesika belum menyadarinya.
Sedang ditempat lain Yano nampak bahagia sekali dengan berita kehamilan Moza,walaupun hubungannya dengan Moza belum bisa dikatakan membaik,karena semalam Yano yang begitu riang karena Moza tak memberontak saat dipeluk bahkan tidur berdua dengannya,harus menelan pil pahit saat dirinya menawarkan diri untuk menemani Moza tidur tapi istrinya itu menolak dengan keras.
Dan terpaksa dirinya harus meluk guling dulu,dan mengungsi kembali kekamarnya.Dan hari ini dia akan berangkat kekantor lagi,dengan wajah sumriah dia berdiri dengan gagah didepan cermin,dan menatap pantulan dirinya.
"Apa sudah cocok ya,udah wangi atau belum?"monolognya dengan cermin,entah berapa kalinya dia sudah berkaca didepan cermin,dia merasa ingin memberi penampilan terbaik untuk istrinya.
"Kok gue gugup banget sih,padahal setiap hari pun ketemu Moza melulu"
Setelah memakan waktu yang begitu lama,akhirnya Yano keluar juga dari kamarnya dan langsung berbelok arah menuju kamar Moza.
Tok...tok..
Yano mengetuk pelan pintunya,tidak seperti biasanya dia yang langsung masuk sesuka hatinya.Lama Yano menunggu belum ada jawaban,membuat jantungnya semakin berdebar,apa mungkin Moza tak ada niatan untuk menemuinya.Itulah yang menghantui pikiran Yano.
"Za"panggil Yano sembari mengetuk pintunya lagi,membuat perasaan Yano berganti menjadi cemas takut kenapa-kenapa dengan Moza.
Dia berinisiatif membuka gagang pintunya,tapi belum sempat dia membukanya.Ternyata Moza muncul dibalik pintu,dan terkejut dengan Yano yang sudah berpakaian rapi tepat dihadapannya.
"Kamu nggak apa-apa kan?"tanya Yano cemas,dan dibalas anggukan kepala sama Moza.
"Huftt syukurlah,"
__ADS_1
"Kenapa mas belum pergi kekantor?"Moza balik bertanya kepada suaminya,yang begitu cemas dengan kondisinya,sikap yang dari dulu diharapkan oleh Moza.
"Emm sebetulnya,aku mau jenguk baby dulu,ayo mending kita masuk dulu"usul Yano menuntun Moza kedalam kamarnya.
Setelah keduanya masuk,Yano mendudukan Moza diranjangnya,dan kemudian dia duduk disebelahnya.
Keduanya saling merasa canggung,terlebih Moza yang sedari tadi mengharapkan kedatangan suaminya,entah mengapa selama beberapa hari ini dia ingin terus didekat Yano.Tapi dia takut pria itu menolak,disisi lain dia juga merasa gengsi.
"Mas!"panggil Moza pelan
"Iya,ada apa?,kamu butuh sesuatu?"Yano menatap Moza yang kelihatan ingin bicara tapi ragu-ragu.
"Heyy katakan kamu mau apa,supaya aku ambiliin"Yano mengangkat dagu Moza dan menatap wanita itu,matanya sudah berkaca-kaca.
"Hiksss..hiks"bukannya menjawab Moza malah menangis,membua Yano cemas sekaligus bingung dengan kemauan wanita itu.
"Za,apa ada yang sakit?"Yano mengecek suhu badannya tapi tetap normal,dia sungguh takut terjadi apa-apa dengan istri dan kandungannya.
"Hiks aku pengen dipe..luk"jawab Moza disela tangisnya,Yano yang sempat bingung tersenyum simpul dengan Moza yang hanya ingin minta dipeluk sampai menangis.
Moza menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya,tak ada lagi isak tangis yang dikeluarkannya tadi posisi itu terasa nyaman baginya,serasa tak ingin lepas inginnya berada dekat Yano melulu.
"Bagaimana kamu suka dipeluk hem?"Yano mengelus puncak kepala Moza,menciumi wangi rambut istri kecilnya itu.
"Hemm"Moza menjawab dengan deheman saja,
Yano pun tak ingin melewatkan moment ini,dia terus memeluk Moza dengan erat.Sungguh dirinya ingin sekali memiliki hati Moza sepenuhnya,tapi apalah dayanya semua sudah berlalu,dan janjinya akan membahagiakan wanita itu.
Drett..dreet
Dering ponsel Yano,mengganggu keduanya yang sedang berpelukan.Reflek Moza pun mengendurkan pelukannya walaupun merasa tak rela,tapi Yano mendekapnya kembali tak menggubris dering ponselnya.
"Mas kenapa nggak diangkat?"Moza mendongak menatap Yano yang tengah menatapnya.
"Aku tak ingin melewatkan moment ini"ucap Yano,tatapannya berfokus dibibir ranum istrinya yang nampak menggoda.
__ADS_1
Drett..dreet..
Kedua kalinya ponsel itu berdering,tapi Yano lagi lagi tak menghiraukannya,dia terus menatap bibir Moza.
"Mas,mungkin ada hal yang penting"Moza kembali menatap pria yang terus menatap nya tak berkedip,bukannya menjawab Yano mendekatkan wajahnya ke Moza dan hampir saja bibir keduanya bertemu.
Cekleek
"Non ini sarapannya..jan_"Siti berbalik arah melihat pemandangan didepannya,hal yang sama pun membuat Yano dan Moza terkejut dan melepas pelukannya dengan perasaan canggung.
"Maaf non,tuan,Siti nggak berma_."
"Ya udah sini makanannya"Yano merutuki Siti yang menerobos masuk saja,membuat misinya gagal.Dengan perasaan dongkol Siti pun memilih keluar,dapat dia lihat raut kesal dari wajah tuannya itu.
Yano meletakkan napan makanannya dimeja,Moza pun berinisiatif untuk beranjak dari ranjang.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau sarapan dulu mas"
"Eitts kamu tunggu disitu aja,biar aku yang suapin"Yano membuka jasnya,dan mengambil makananya mengambil tempat disebelah Moza.
"Mas aku bisa makan sendiri"tolak Moza merasa malu,dan juga tak enak hati dengan Yano.
"Nggak ada tapi-tapian,malah kamu muntah kalo makan sendiri,mungkin si jagoanku mau disuapin daddynya"Yano mengusap perut datar Moza dengan senyum bahagia,hati Moza ikut menghangat merasakan perhatian tulus dari Yano.Walaupun kenyataannya seluruh perhatian dari Yano semata-mata karena anak yang dikandungnya adalah darah daging Yano.
"Kok malah ngelamun,lagi mikirin sesuatu"tegur Yano menatap Moza yang diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Haah enggak kok mas"bohong Moza,tapi Yano malah curiga ada hal yang mengganggu pikiran istrinya.Tapi dia tak mau menanyakan hal itu,takut Moza malah tak mau jujur.
Dan akhirnya Yano menyuapi Moza,benar saja Moza tak merasakan mual atau muntah sedikitpun seperti kejadian kemarin.Begitupula Yano merasa senang kalo ternyata anaknya itu ingin dimanja daddynya.
"Waah ini kesempatan emas buat gue,memang jagoan daddy sangat mendukung daddynya,agar bisa mendapatkan hati mommynya"monolog Yano sambil tersenyum-senyum sendiri,dia semakin yakin kalo perubahan Moza memang pembawaan bayi dalam kandungannya.
"Kok aneh ya,gue nggak muntah disuapin mas Yano"gumam Moza dalam hati.
__ADS_1