
Akhirnya Moza yang sedari tadi menangis,kini terlelap dengan matanya yang masih terlihat bengkak.Tengah malam Yano masuk lagi kekamar tersebut dan mendapati gadis itu tengah tertidur lelap,dengan jejak air mata yang membekas dipipinya.Perlahan tapi pasti Yano mendekat pelan dan membungkuk menatap wajah yang sedang terlelap itu.
"Hufttt,mengapa harus kamu Za?"tanya Yano dengan suara serak,Yano perlahan membelai lembut pipi Moza dan menyisipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik itu dengan mata yang sudah bengkak.
Dia membelai lembut wajah Moza,perlahan di mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir mungil itu dengan lembut,dan setetes air mata Moza luruh begitu saja,hal itu membuat Yano melepaskan ciumannya dan mendadak berdiri seraya mengacak rambut frustasi.
"Apa sih yang kamu lakukan Yan"rutuk Yano melirik Moza yang tertidur sambil mengeluarkan air mata,sebelum dia keluar dari kamar itu dia mendekati Moza.
"Maafkan aku Za jika nanti kamu akan tersakiti,perlu kamu tahu satu hal aku mencintaimu tapi juga membencimu."Setelah mengatakan itu Yano keluar dan mengunci pintu tersebut.Ternyata sejak tadi Moza pura-pura tertidur,saat Yano membuka pintu dan saat Yano mengecup bibirnya lembut dia teringat kenangan manis dengan pria itu dulu sehingga dia meneteskan air mata.
Hingga ucapan terakhir Yano,yang sungguh membuatnya terluka sekaligus bahagia,karena dirinya pikir Yano sudah tak mencintainya lagi.Dan Moza bertekad untuk menerima pernikahan tersebut,dia merelakan semua angan-angannya karena dengan menikah dia juga bisa menyelamatkan kedua orangtuanya.
Walaupun itu hanya sebuah pernikahan karena rasa benci atau tepatnya balas dendam,Moza ingin meluluhkan dan memadamkan kebencian di hati Yano,Moza mengambil dokumen yang ada diatas nakas dan membuhi tanda tangannya.Dia menutup dokumen itu dan tersenyum kecil,senggahnya masih ada setitik cinta dihati Yano yang akan menjadi celah bagi Moza untuk menggoyahkan hati pria tersebut.Meskipun sulit karena syarat di kontrak pernikahan tidak menjadikan mereka pasutri pada umumnya.
...****************...
Keesokkan harinya Moza bangun lebih awal,badannya terasa lengket karena sejak kemarin dirinya diculik dan dikurung kerjaannya hanyalah menangis.Kini dia turun dari kasur dan menyusuri sebuah lemari besar dengan meja rias kecil disebelahnya tapi dia lebih tertarik dengan isi lemari besar tersebut dan membukanya,deretan pakaian wanita dan juga dress yang terpampang nyata berjejer dihadapannya.Moza memberanikan dirinya mengambil sebuah dress pink dan berdiri didepan kaca,dia memandang pantulan dirinya yang terlihat cocok dengan dress yang pas sekali dibadannya.
"Apa Yano yang menyiapkan semua ini?"tanya Moza menerka-nerka.
"Tapi mana mungkin lah,secara dia udah benci sama gue"Moza mendengus kesal,mengharapkan sesuatu yang mustahil,Moza tak mau ambil pusing,entah baju milik siapakah itu dia tidak peduli,yang penting dirinya bisa mandi untuk menyegarkan pikirannya.Akhirnya dia memilih masuk kamar mandi,setelah selesai Moza memakai dress yang dia pilih tadi,kemudian Moza mendekati meja rias yang dia lihat tadi.
__ADS_1
"Waw make up nya lengkap banget"kagum Moza melihat berbagai macam alat kecantikan yang tersusun rapi di meja tersebut,memang diriny tak suka memoles make up tapi melihat pemandangan didepan matanya,sontak membuat jiwa penasaran Moza meluap begitu saja,dia perlahan memoles sedikit demi sedikit wajahnya,hingga akhirnya perfect karena memang hasilnya membuat Moza terpukau dengan kecantikannya.Memang dia sempat belajar make up dari Manda.
"Waw ini beneran lu Za"Moza terpukau melihat kecantikannya dicermin,dia tak menyangka dirinya akan secantik itu.Dia mengambil sebuah lipstik dan memoleskan sedikit demi sedikit dibibir mungilnya,tapi tiba-tiba pintunya dibuka serentak membuat Moza terkejut,alhasil lipstiknya membentuk garis kepipi Moza.Dan Yano yang serentak membuka pintu pu mematung melihat Moza diambang pintu.
"Mampus lo Za"ucap Moza dalam hati.
"Yan ini nggak seperti yang lo pikirin,gue soalnya mau mandi gue nggak tahu harus pake baju yang mana terus.."Moza takut dimarahi Yano karena sudah lancang memakai pakaian tersebut tanpa seijinnya.Dia melihat Yano menatapnya tak berkedip.
"Cepat siapkan dirimu untuk di rias,hari ini kita menikah"ucap Yano meninggalkan Moza yang terdiam
Deg
Seketika Moza terdiam dan membeku,ternyata ucapan Yano kemarin tidaklah main-main.Kini tak akan lama lagi dirinya akan menyandang status sebagai seorang istri.Akhirnya beberapa orang merias wajah mungil itu dengan hati-hati sesuai pesan dari Yano.Sesekali Moza mengusap sudut matanya,menghapus air mata yang meluruh begitu saja.
"Pasti tuan muda juga terpukau dan beruntung menikahi nona"timpal yang lain ,Moza hanya tersenyum kecut pada takdir yang mempermainkannya.Memang dirinya mengimpikan seoeang pendamping yang mencintainya sepenuh hati,tapi hal itu harus dia kubur dalam-dalam karena mimpi nya takan menjadi kenyataan.Karena dirinya dinikahi oleh pria yang kini dia sebut iblis,walaupun dia adalah cinta pertamanya.Harapan Moza hanyalah satu semoga dia mampu meluluhkan hatinya Yano nanti.
"Waah lihatlah nona sangat cantik seperti bidadari,tuan muda pasti terpukau"tak henti-hentinya mereka memuji Moza,tapi dia hanya diam saja.Kemudia dia memakai kebaya putih dan rok batik saja,karena pada dasarnya pernikahannya bukanlah pernikahan mewah melainkan pernikahan yang tersembunyi dan dihadiri oleh beberapa orang saja.
Kini Moza sudah siap,dan beberapa perias menuntunnya keluar dan membawanya kesebuah ruangan,disana sudah ada Yano yang terlihat tampan dan dingin mengenakan pakaian senada dengan Moza,dan ada Agusto disebelahnya.Dan ada pula keduaorangtuanya Moza,masuklah Moza dengan wajah menunduk,semua pandangan mengarah pada pengantin wanita yang tampil sederhana tapi terlihat elegan dan cantik,Yano pun ikut terpukau dengan kecantikan Moza dia menatapnya tak berkedip,tapi hanya sesaat karena Agusto menyenggol lengannya agar Yano fokus tak terbawa perasaan.
Moza mengangkat kepalanya menatap sekelilingnya,dia ingin mencarinya kedua orangtuanya,dia ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja.Tatapannya berhenti pada sosok yang kini sedang menangis melihatnya tanpa berani mendekat.
__ADS_1
"Mama,papa"panggil Moza menghampiri keduaorangtuanya,beberapa pengawal ingin menghadangnya tapi dengan cepat Yano memberi kode untuk membiarkannya.
"Mama sama papa baik-baik saja kan"tanya Moza memastikan melihat lihat keadaan orangtuanya.
"Mama sama papa nggak apa apa sayang,maafin papa sama mama kamu harus menanggung semuanya."Ucap Emilia terisak memeluk putrinya dengan erat,sedangkan Albertoo mengusap sudut matanya yang berair,sungguh dirinya tak berdaya untuk menolong putrinya.
"Nak kamu nggak usah mikirin kami,yang penting kamu harus jaga diri kamu baik-baik.Nanti papa usahakan untuk keluarin kamu dari sini"bisik Alberto mengusap lembut kepala putrinya,Moza tak kuasa untuk menjawab orangtuanya dia hanya bis manggut manggut saja.
Detik berikutnya Moza dibantu pengawal untuk duduk disamping Yano,para perias membantu membersihkan jejak air mata Moza.Karena akad nikahnya segera dimulai,dan sekarang Moza sudah duduk disamping Yano yang terlihat datar dan dingin.
"Simpan air matamu untuk nanti saja,jangan tunjukkan disini"ancam Yano tanpa mau menatap gadis disebelahnya yang terisak pelan,setelah beberapa jam akhirnya akad nikahnya sudah selesai dan semua tamu menjadu saksi pernikahan paksa ini,Moza semakin sedih saat dirinya harus berpisah dengan kedua orangtuanya.Karena beberapa jam yang lalu dirinya sudah resmi menjadi istri dari Yano.Baik Emilia maupun Albertoo dibawa pergi oleh pengawal,entah mereka dibawa kemana Moza pun tak tahu jawabannya.Kini tinggal Yano dan Moza saling terdiam,suasana menjadi hening.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh melanggar syarat disurat kontrak pernikahan kemarin yang kamu tanda tangani."ungkap Yano membuka suara,Moza menganggukan kepalanya sebagai tanda dia setuju.
"Kamu nggak punya mulut untuk menjawab hah"kesal Yano mendapat respon seperti itu dari Moza.
"Baik tuan"jawab Moza singkat membuat emosi Yano memuncak.
"Aku ini suami kamu,bukan majikanmu"kata Yano menatap Moza dengan tajam.
"Terus saya harus panggil sayang gitu"tanya Moza dengan polosnya,membuat Yano tak menjawab.Dia jadi bingung dengan dirinya yang kadang kalah dengan Moza.
__ADS_1
"Terserah kamu aja deh"putus Yano meninggalkan Moza.