
Sementara Revan yang sedang berada dikantor,terdeny lega setelah menelpon dengan Moza.Pasalnya dia bebas dari ancaman Yano untuk memaksanya menikahi Jesika hari ini juga.
“Akhirnya aku bisa bebas”Revan duduk bersandar dikursi kebesarannya dan kembali berkutat dengan komputernya.
Diapartemen Revan......
Semenjak kepergian Revan,Jesika sedikit murung memikirkan sikap Revan yang agak aneh.Dari tadi Jesika mencoba untuk mencari pekerjaan hanya sekedar mengusir rasa curiganya.Dia mulai membersihkan apartemen Revan,dengan memperhatikan dengan saksama isi apartemen itu,setelah itu Jesika membereskan kamar yang ditempati olehnya.Jesika menatap kamar yang ditempati oleh Revan,awalnya Jesika ragu untuk masuk namun rasa penasarannya mendorongnya masuk kesana.
Dia memegang gagang pintu lalu memutarnya,untunya pintunya tidak terkunci mungkin Revan terburu buru sehingga lupa menguncinya.
Kreek.....
Jesika menatap keruangan yang baru saja dimasukinya,tempat tidurnnya nampak rapi dan sebuah lemari besar dan juga meja kerja terdapat dalam kamar tersebut,dan Jesika menebak itu meja kerja milik Revan.
“Sejak kapan dia serapi ini?”
Jesika menelusuri sudut ruangan itu,ditatapnya setiap sudut ruangan itu hingga mata Jesika tertuju pada sebuah foto yang menggantung dekat meja kerja Revan.
Sebuah foto anak kecil digendong oleh seorang perempuan cantik,namun Jesika mengernyit mentapa bingung foto itu,sepertinya dia tak asing dengan dua orang tersebut,mamun Jesika tak mampu mengingatnya,kepalanya seketika menjadi sakit tubuhnya melorot kelantai dan tak sengaja bertumpu pada laci meja kerja milik Revan.Laci itu jadi terbuka,dengan sekuat tenaga Jesika ingin bangkit berdiri walau kepalanya semakin sakit,namun langkah Jesika terhenti ketika matanya kembali menatap isi laci itu,Jesika perlahan meraih sebuah tas dalam laci dia merasa tak asing lagi dengan tas itu namun dia tak ingat lagi,malah kepalanya jadi semakin sakit sehingga tas itu terjatuh dari tangan Jesika,seluruh isi tas itu tercecer,terdapat handphone,dompet,dan beberapa alat make up.Jesika ingin memungut barang tersebut namun kepalanya tib-tiba pusing sehingga Jesika kehilangan kesimbangan dan detik berikutnya Jesika jatuh pingsan.
Bersamaan dengan itu,Revan yang sedari tadi merasa gelisah terus menengok jam ditangannya.Ada sesuatu yang membuat dirinya gelisah,ada perasaan tak enak dihatinya karena meninggalkan Jesika sendirian diapartemen.
“Apa Jesika baik baik saja?”sejak tadi dia berusaha menelpon Jesika namun ponselnya tak diangkat,dia juga menghubungi telepon rumah namun tak diangkat juga ,membuat Revan semakin khawatir.Padahal masih banyak pekerjaannya dikantor,akan tetapi Revan malah jadi tidak fokus karena mengkhawatirkan wanita yang terus mengusik pikirannya.
“Akhhh.. kamu dimana sih Jesika?”Revan semakin frustasi takut terjadi apa apa dengan Jesika.
__ADS_1
Karens merasa cemas dan tak tahan dengan perasaan yang semakin mengusiknya,akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih awal menginggalkan pekerjaannya tanpa sepengetahuan sekertarisnya,tanpa berpikir panjang Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak butuh waktu lama akhirnya mobil milik Revan meleset didepan parkiran,dia segera berlari dengan terburu buru sampai bertabrakan dengan orang saat hendak memasuki lift,namun Revan acuh karena pikirannya hanya tertuju kepada Jesika.
Beberapa menit kemudian barulah Revan sampai diepan pintu apartemenya dengan degup janutng yang tak berirama,dengan segera menempelkan jarinya dipintu lalu bergegas masuk kedalam.
“Jesika!!”panggilnya namun tak ada sahutan,,Revan mencari dikamarnya namun tak ada,dia menuju kekamar mandi namun tak ada orang.Lalu Revan keluar menuju kedapur,Jesika juga tak ada disana kemudian Revan melihat kamar yang satunya terbuka,dengan cepat berlari kesana dan alangkah terkejutnya mendapati Jesika yang terkapar jatuh pingsan dilantai dengan beberapa barang yang tercecer.
“Jesika!,jes bangun Jes!!”Revan menepuk pipi Jesika namun tak ada respon,Revan menjadi sangat panik karena Jesika tak bergerak sedikitpu,lalu diangkat nya tubuh Jesika dan merebahkannya diatas kasur,menyelimuti Jesika dengan pelan,ada perasaan bersalah dihati Revan meninggalkan wanita itu sendirian.Revan menyelipkan anak rambut Jesika yang menghalangi wajah cantik itu,Revan merasa sedikit tenang melihat wajah cantik Jesika.Tapi dalam hatinya Revan sangat takut melihat kondisi Jesika saat inu.Dia menatap beberapa barang yang tercecer dilantai,lalu dia segera memungutnya satu perasatu,itu semua adalah barang milik Jesika yang sengaja disimpan oleh Revan saat dia menculik Jesika dulu.
Revan menyimpan kembali semua barang itu didalam lacinya,kemudian dia duduk ditepi ranjang,menatap wanita cantik yang masih menutup matanya,Revan dengan segera menelpon dokter untuk memeriksa kondisi Jesika,dia tidak mau Jesika kenapa kenapa apalagi dia tengah amnesia.
Setelah beberapa menit menunggu,akhirnya dokter yang ditelpon Revan sudah datang,siapa lagi kalo bukan Jaya.
“Siapa yang sakit sih Van,lo bikin buru buru orang aja”ngomel Jaya setelah dibukakan pintu oleh Revan.
“Kamu apakan Jesika hah”bukannya langsung memeriksa malah Jaya langsung melempar tatapan tajam ke Revan.
“Aku nggak ngapa ngapain kok,mending kamu periksa dulu cepetan!”
Jaya langsung memeriksa kondisi Jesika dengan saksama,dengan serius Jaya mengeluarkan beberapa alat medisnya.Tak butuh waktu lama Jaya sudah selesai memeriksa,namun wajahnya berubah menjadi dingin dan seram membuat Revan bergidik ngeri.
“Bagaimana kondisi Je..sika Ja..y?”ucap Revan tergagap karena Jaya memelototinya dengan tajam.
“Kita bicara diluar”Jaya langsung keluar dan disusul oleh Revan.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan kepada Jesika hah?”Jaya menjadi semakin serius,tidak biasanya dia seperti ini membuat Revan merasa ada sesuatu yang sangat penting mengenai kondisi Jesika saat ini.
“Sumpah Jay aku nggak buat apa apa,nyetuh aja aku nggak pernah”
“Bukan begitu bodoh”
“Maksud nya apa kamu nunjukin sesuatu hal terkait masa lalu Jesika?”Jaya memperhatikan Revan yang terlihat sedang berpikir.
“Aku rasa nggak ada kok,tapi....”
“Tapi apa...?”
“Astaga aku baru sadar Jay,tadi Jesika pingsan dikamar itu mungkin dia melihat handphone dan juga tasnya yang sengaja kusimpan”Revan mengacak rambutnya teringat dengan barang yang jatuh tepat disamping Jesika,ketika dia pingsan.
“Pantas saja dia pingsan”
“Memangnya kenapa Jay,apa Jesika baik baik saja”tanya Revan yang masih belum mengetahui kondisi Jesika.
“Sebenarnya dia mengalami kontak dengan masa lalunya lewat barang barang itu,namun dia belum bisa mengingatnya makanya dia pingsan.”
“Tapi Jay,apakah suatu saat nanti dia bisa mengingat masa lalunya?”tanya Revan cemas,dan diangguki oleh Jaya.
“Untuk saat ini Jesika belum mampu mengingatnya sehingga dia akan semakin sakit jika mengingatnya,akan tetapi besar kemungkinan kalo dia bisa mengingat masa lalunya jika ada sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya”
Penjelasan Jaya mampu membuat hati Revan semakin gelisah,dia takut jika Jesika mengingat semua masa lalunya,dan bagaimana status mereka akankah wanita itu terus berada disisinya?,atau mungkinkah Jesika akan semakin menjauh darinya?,hal itu yang paling menakutkan bagi Revan.
__ADS_1
“Van!”Jaya menepuk bahu Revan karena dia sedang melamun,membuantnya sedikit tersentak.
“Mendingan kamu jujur saja kepadanya daripada kamu akan menyesal nantinya”saran Jaya lalu berpamitan untuk pulang,karena dia masih banyak kerjaan dirumah sakit.Revan sendiri masih memikirkan apa yang dikatakan Jaya,haruskah dia jujur kepada Jesika namun rasanya dia tak mampu mengungkapkan segalanya karena Revan takut Jesika akan pergi darinya.