
Keesokan harinya....
Sinar mentari pagi menyinari wajah wanita cantik yang terlelap dalam selimut,matanya perlahan mengerjab berusaha mengumpulkan nyawanya.
Huammm..
"Hmm kok aku bisa disini,apa Revan yang gendong aku tadi malam"pikir Jesika karena seingatnya dia tertidur disofa tadi malam.
Tak mau larut dalam pikirannya,Jesika pun bangun dari tidurnya dan meraba kasur,mungkin dia mencari Revan namun tidak ada.Akhirnya Jesika memilih bangun kini dia sudah sadar sepenuhnya,lalu duduk dipinggir ranjang.
"Apa Revan tidur diluar"Jesika yang penasaran keluar dari kamarzm,dan benar saja pria tampan yang dia cari tertidur pulas diatas sofa.
"Kenapa Revan tidur disini,apa dia marah karena kejadian tadi malam"
Jesika masih tak mengerti kenapa Revan tidak tidur dengannya tadi malam,ada rasa tak nyaman dihatinya namun sebisa mungkin dia menepis perasaan itu.Kemudian Jesika melangkah menuju dapur untuk memeriksa kulkas milik Revan,dia mau memasak sarapan spesial untuk Revan.
Dibukannya kulkas empat pintu tersebut,walaupun banyak isi makanan dan sayuran segar disana.Namun Jesika kelihatan geram melihat barisan minuman keras disana.Ingin rasanya Jesika memarahi pria yang tengah tertidur pulas itu,karena dia tak pernah berubah sedikitpun dari dulu suka menyetok miras sebagai pelampiasan saat dia mengalami masalah.
"Kamu memang nggak berubah Van,pasti banyak hal sulit yang sudah kamu lewatin"
Jesika melanjutkan acara memasaknya,dia membuat nasi goreng kesukaan Revan yang masih membekas diingatannya dan juga telur mata sapi.
Revan yang mulai terganggu dengan suara dari dapur,akhirnya terbangun dari tidurnya dia mencium aroma yang tak asing baginya.
Dengan setengah sadar,Revan melangkah menuju kedapur dan dia disuguhi pemandangan yang sangat indah.Nampak Jesika masoh sibuk memasak seperti seorang istri yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya.Revan membayangkan betapa bahagianya keluarga kecil mereka nantinya kalo ditambah dengan anak mereka.Tapi lagi lagi dia khawatir kalo Jesika tahu kebohongannya.
Jesika tak menyadari kalo sejak tadi Revan memperhatikannya dengan intens.Setelah beberapa menit Jesika sudah selesai memasak,dia segera menyajikan nasi gorengnya kemangkok,dengan lihai Jesika membuat sedikit hiasan untuk menambah kecantikan nasi gorengnya.
"Akhirnya selesai juga,semoga Revan suka"Jesika berbalik dengan membawa dua mangkok nasi goreng,namun dia dikejutkan dengan kehadiran Revan didepannya,hampir saja piring ditangannya jatuh untuk saja Revan dengan sigap memegang tangan Jesika.
"Ee..eemm Van ..ka.mu udah bangun?"tanya Jesika dengan gagap,karena Revan terus menatapnya sambil memegang tangannya.
"Iya sayang,kamu sudah dari tadi bangunnya ya"
__ADS_1
Entah mengapa Revan yang memanggil sayang kepada Jesika,membuat jantung wanita itu berdetak tak menentu kini wajahnya memanas dan merah seperti tomat.
Dia tak menjawab Revan,saking malunya dia segera menuju kemeja makan.Sementara Revan terkekeh melihat tingkah Jesika,dia segera menyusul wanita yang kini tengah sibuk menata makanannya dimeja.Revan menarik kursi sambil menatap Jesika yang terus menunduk sambil mengambil makanan untuknya.
"Ayo Van kamu cobain nasi gorengnya,kalo nggak enak nggak usah dimakan aja"
"Kamu nggak ikut makan?"tanya Revan yang melihat Jesika berbalik badan menuju kearah kamar.
"Kamu duluan aja,aku mau mandi dulu"bohong Jesika padahal dirinya mau menetralkan jantungnya karena setiap didekat Revan dia merasa jantungnya selalu berdetak kencang.
"Ya udah aku mending sarapan dikantor saja kalo kamu nggak ikut nemenin aku"ancam Revan sambil berdiri untuk membuat Jesika menemaninya,benar saja wanita itu langsung menghadang Revan.
"Ya udah kita sarapan bersama"
Revan tersenyum penuh kemenangan,lalu keduanya menikmati sarapan tanpa suara.Jesika hanya diam sesekali melirik kearah Revan yang selalu menatapnya.
Setelah selesai makan Jesika membereskan meja,sementara Revan langsung sibuk dengan ponselnya karena ada pesan masuk untuknya.
"Kamu nggak lupa kan hari ini,aku akan kirim orang untuk melakukan fitting baju"
"Sial"rutuknya namun didengar oleh Jesika yang sejak tadi melihat perubahan wajah Revan saat membaca pesan tersebut.Namun Jesika tak berani untuk bertanya,dia berlalu kedapur untuk mencuci piring.
Kemudian dengan terburu buru Revan masuk kekamar yang ditempati oleh Jesika,dia akan segera berangkat kekantor dia bergegas masuk kekamar mandi.Hal yang dalam benaknya adalah menuntaskan masalahnya dengan Yano.
"Semoga saja Moza bisa membujuk Yano"harap Revan dengan sungguh-sungguh.
Didapur Jesika sibuk mencuci piring,namun pikiranny masih larut kepada Revan.Banyak hal yang ingin dia tanyakan,tapi kadangkala bibirnya kelu dan suaranya tercekat untuk bertanya.
"Apa Revan punya masalah lagi,kok kayak ada yang nggak beres"curiga Jesika sambil bersandar diwastafel.Beberapa menit Jesika bergelut dengan pikirannya,dia baru tersadar belum merapikan tempat tidurnya,dia berlari menuju kamarnya.
Ceklekkk...
Suara pintu yang dibuka serentak mengangetkan Revan yang baru saja keluar kamar mandi dengan berbalutkan handuk dipingganya,ototnya terlihat kekar dan rambutnya yang masih basah membuat siapa saja terkesima,terutama Jesika yang terkejut dengan pemandangan didepan namun didetik berikutnya.
__ADS_1
"Akhhhhh"teriak Jesika sambil menutup matanya,sedang Revan hanya berdiri mematung ditempatnya tak tahu kenapa Jesika berteriak dengan histeris.
"Jes kamu kenapa hah?Revan berinisiatif mendekat kearah Jesika,namun wanita itu semakin berteriak dan menjauhinya.
"Akhhh jangan mendekat"larang Jesika dengan menggunakan tangannya menyuruh Revan berhenti mendekatinya,dan tangannya yang satu dia gunakan untuk menutup matanya.Dia berjalan mundur namun terperangkap didinding
"Kamu kenapa sih"Revan berjalan mendekat berniat mau memegang tangan Jesika,namun wanita itu malah menonojok wajahnya dengan keras,hingga Revan meringisi memgangi pipinya.
"Dasar pria mesum,masa kamu pake handuk doang"teriak Jesika lalu berlari keluar dari kamar,barulah Revan menyadari dirinya yang masih bertelanjang dada.
"Sial"
Revan merutuki kebodohannya,namun juga tersenyum gemas dengan tingkah Jesika.Maklumlah kalo Jesika seperti itu karena ini menjadi hal baru baginya.
Beberapa menit kemudian Revan sudah rapi dengan stelan jasnya,dia keluar dari kamar dan mendapati Jesika yang duduk disofa sambil menonton.Dia menatap Revan dengan sekilas lalu membuang muka.
"Jes aku minta maa.."
"Nggak usah minta maaf,harusnya aku mengetuk pintu dulu"potong Jesika dengan suara pelan
"Heyy kamu marah sama aku hah?Revan pun duduk disamping Jesika,dan memegang bahu wanita itu agar berbalik menatapnya Revan terkejut menatap mata Jesika yang sembab menandakan dia habis menangis.
"Kamu menangis?"
"Enggak kok cuma kelilipan doang"Jesika menggelengkan kepalanya sambil berpura pura mengucek ucek matanya,namun Revan bukanlah tipe orang yang mudah dibohongi.
"Kamu menangis karena kejadian yang tadi?tanya Revan namun Jesika masih terdiam,diapun tak memaksa untuk bertanya lagi.
Revan menangkup pipi Jesika,dan mengusap lembut pipinya setetes air mata meluruh begitu saja,lagi lagi Revan curiga ada yang disembunyikan Jesika.
"Kamu mau berangkat kerja kan ,ayo aku antar kedepan nanti kamu terlambat"Jesika yang tak mau membuat Revan khwatir,langsung memegang tangan pria itu lalu menyeretnya kedepan pintu,dia berusaha tersenyum agar Revan tak cemas.
"Kamu jaga diri baik baik,kalo ada apa apa telpon saja aku!"setelah didepan pintu Revan melambaikan tangannya,dengan ragu ragu dia melangkah meninggalkan apartemenya,begitupun Jesika yang menatap sendu punggung lelaki yang dia cintai.
__ADS_1
" kamu menyembunyikan sesuatu Van?"gumam Jesika dalam hati.