Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Hari Sial


__ADS_3

Revan yang sudah berhasil kabur dari Yano,kini sedang berada ditaman samping dengan menggendong baby Rein.


"Syukur deh bisa lari dari Yano"dia mengelus dadanya


"Kalo kamu besar baby Rein,jangan seperti papa kamu ya"Revan menoel-noel pipi baby Rein,tapi ada rasa aneh yang menjalar ditubuh Revan,seperti hangat-hangat.


"Jangan bilang kamu kencingin dicelana om ya Rein"tebak Revan mulai meraba celananya,dan benar saja dugaannya,baby Rein mengencingi celananya padahal hari ini adalah hari yang sangat penting baginya.


Untungnya Moza cepat datang menyusulnya.


"Za ini anak kamu tega banget kencing dicelanaku"aduh Revan dengan kesal melihat celananya yang sudah basah.


"Lagian siapa suruh gendongin,kakak sendiri yang mau"Moza tertawa melihat Revan yang frustasi dengan celananya.


"Kenapa harus hari ini sih Rein,kamu tahu om harus pergi dulu"


"Emmm bagaimana kalo kamu pake bajunya mas Yano aja"tawar Moza yang prihatin juga dengan kakaknya karena ulah baby Rein.


"Lagi gosipin aku ya"tiba-tiba Yano muncul dari belakang mereka punggu Moza.


"Ngagetin aja kamu mas"


"Kayaknya ada yang kena musibah nih"kekeh Yano menatap celana Revan yang sudah basah,pasalnya bukan hanya pamannya saja yang dikencingi Rein tetapi Yano juga sering mendapat semburan air kencing Rein.


"Nggak usah ketawa mas,kamu juga sering dikencingin baby Rein"sela Moza membuat tawa Yano langsung menghilang,sedangkan Revan hanya bisa menahan tawanya melihat wajah komuk Yano.


"Ayo Van kamu ikut aku untuk ganti baju"ajak Moza menarik tangan Revan.


"Sayang kamu mungkin salah tarik,ini suami kamu bukan dia"cegat Yano tapi tak digubris Moza


"Kamu tuh nggak diajak"tambah Revan lalu mengikuti langkah Moza,menyisakan Yano yang kesal setengah mati sampai meninju udara.

__ADS_1


"Awas aja kamu Van"rutuk Yano lalu melangkah mengikuti mereka


Dan sekarang Revan dan Moza berada dikamar tamu,Moza memerintahkan pelayan untuk membawakan satu set kemeja dan juga celana milik Yano untuk Revan.


"Makasih ya Za"


"Iya aku kekamar dulu ganti celana baby Rein"pamit Moza dan tinggalah Revan seorang diri dikamar itu,dia tidak langsung membersihkan diri melainkan menyusuri kamar itu.


"Kayaknya ada juga yang pernah tinggal disini"dia melihat ada meja rias disitu,dan masih ada sisa perlengkapan make up disana,dia membuka lemari juga dan isinya baju wanita semua.Revan hanya mengernyitkan dahinya melihat salah satu deretan baju dalam lemari itu.


"Baju ini?"Revan meraihnya dan membalik-balikannya,tak sampai disitu Revan mencari sesuatu didalam laci.


"Sesuai dugaanku"Revan menemukan beberapa lembar foto disana,foto masa lalu Revan dan Jesika,disaat Revan menatap foto foto itu tiba tiba Yano muncul dibalik pintu kebetulan pintunya tidak terkunci.


"Haha lagi mikirin mantan"kata Yano tersenyum sinis


"Ngapain kesini,nggak sopan banget maen masuk saja"sindir Revan lalu memasukan foto itu kedalam saku celananya.


"Ini rumah saya,kamu yang nggak punya sopan santun bongkar lemari orang sembarangan"balas Yano tak mau kalah,membuat Revan menghela napas dari tadi kakak iparnya selalu mencari masalah dengannya.


"Hufffft"


Revan pun tak ambil pusing dengan Yano yang terus mengetuk pintunya.


"Heyyy Van buka pintunya aku takut kamu nangis ditinggal nikah sama mantan"teriak Yano menggoda Revan sambil mengetuk pintunya.


Moza yang mendengar teriakan Yano langsung turun kebawah,dia turun kebawah dengan tergesa-gesa bukan karena khawatir kalo terjadi apa-apa sama Yano tapi lebih takut kalo baby Rein terbangun,karena dia barusan terlelap.


"Kenapa sih kamu teriak-teriak terus mas"kesal Moza mendekati Yano yang menempel didepan kamar tamu.


"Eeh sayang aku tuh cuman.."

__ADS_1


"Nggak usah ngeles,aku tahu kamu mau gangguin Revan"


"Enggak kok sayang,aku cuman nungguin dia karena kami mau berangkat sama sama ke Amerika"jelas Yano takut Moza salah paham dengannya .


"Tapi nggak usah teriak-teriak,baby Rein lagi tidur,mending kamu nunggu dimobil aja"usir Moza menunjuk arah luar rumah dengan tatapan tajamnya.


"Tapi sayang,aku mau lihay baby Rein dulu"bohong Yano dengan memelas,dia tidak mungkin pergi jika Moza marah dengannya karena sudah pasti dirinya akan tersiksa dinegeri orang jika Moza tak mau mengangkat teleponnya.


"Kamu kan bisa video call kalo baby Rein bangun,cepetan aku mau balik kekamar"ujar Moza tak bisa diganggu gugat.


Mau tak mau Yano mengikuti kata Moza,kalo dia menolak bisa panjang masalahnya dengan langkah gontai dia keluar menuju mobilnya.Hatinya sungguh kesal dengan Revan,karena kedatangannya membuat dirinya dimarahi terus oleh istri tercintanya.


Didalam mobil,muka Yano tak bersemangat sama sekali,mau tidur tapi tidak bisa membjat sang sopir bingung dengan keadaan atasannya itu.


"Tuan muda baik-baik saja?"tanyanya


"Iya saya baik -baik saja,jangan mikirin saya "jawab Yano dengan lesu.


Beberapa menit kemudian,muncullah orang yang membuat Yano kesal,dia memang sengaja tak mau pergi duluan kebandara,karena mau meluapkan kekesalannya kepada Revan.Niat awalnya mau ninggalin Revan,tapi hatinya takan puas kalo belum memarahi Revan


"Akhirnya kamu keluar juga"


"Memangnya kakak ipar nungguin aku?,berapa lama kakak ipar disini?"tanya Revan dengan santai,padahal dirinya tahu kalo Yano lagi kesal karena dimarahi sama Moza,dia masih bisa mendengar cek cok kecil pasutri itu karena tepat didepan pintu kamar yang dia tempati.


Bughhhh


"Itu sebagai hukuman karena udah buat Moza marah sama aku"Yano masuk kemobil setelah memberi tonjokan singkat diwajah tampan Revan.


"Awwww,kakak ipar what happen you pukul my face"Revan memegangi pipinya yang terasa sakit dengan bahasa inggris seadanya,dia tak menyangka Yano akan memukulnya.


"Itu belum seberapa,habis ini kamu harus buat Moza baikkan sama aku,kalo tidak kamu nggak bakal ketemu Jesika"ancam Yano dari jendela mobilnya dengan sedikit menonjolkan mukanya keluar,setelah itu dia langsung menutup kaca mobilnya dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Sialan punya kakak ipar macam harimau kelaparan"Revan pun masuk kemobilnya dengan terus memegangi pipinya,dia segera menyusul Yano kebandara supaya dia tidak ditinggalin sama Yano.Bukan takut ditinggalin sama Yano,lebih tepatnya Revan takut kalo harus kehilangan jejak Jesika disana walaupun sudah ada anak buah yang dia tempatkan disana.Karena dia percaya kalo Yano punya koneksi yang luas,pastinya dia bisa membantu Revan untuk menemui Jesika nantinya.


"Jesika I'm coming honey!"Revan tersenyum devil,sembari membayangkan dirinya akan bertemu dengan wanita yang selalu menghantuinya setiap malam.


__ADS_2