
Setelah selesai bersiap,Yano dan Moza turun menemui Albertoo dan Emilia yang sudah menunggu mereka.
"Ma maaf ya jadi nungu lama"ucap Moza mendekat kepada Emilia,karena merasa tak enak hati kepada orangtuanya.
"Nggak apa-apa kok sayang,ayo kita kemobil"ajak Emilia menuntun Moza kemobil.
"Ma biar Yano aja,mama sama papa aja ya"cegat Yano merangkul pinggang Moza dengan posesif,dia khawatir kalo harus berbeda mobil dengan istrinya.
Emilia dan Albertoo tersenyum melihat betapa Yano sangat menjaga Moza dan cucunya,ternyata mereka tidak salah mempercayakan Moza kepadanya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,dua mobil mewah itu sampai disebuah rumah sakit besar.Kemudian mereka turun bersamaan.
"Tuan ayo ikut saya"pinta Anton membawa Yano beserta mertua dan istrinya masuk kedalam.
Beberapa pengawal siap siaga dibelakang mereka,kedatangan mereka membuat semua mata tertuju pada mereka semua.
Setelah naik dilantai 2,Anton mengarahkan mereka kesebuah ruangan VIP yang ditempati Ardiansyah.Mereka disambut oleh seorang perawat yang sudah disiapkan oleh Jaya.
Yano memerintahkan Anton untuk tetap siaga didepan pintu,agar tidak ada yabg mengganggu mereka,sedang Moza masih dengan rasa penasarannya menjenguk keluarga dari suaminya itu.
Perlahan Yano membuka pintu itu,Emilia dan Albertoo mengekor dari belakang dengan perasaan tak karuan.
Didalam ruangan itu nampak seorang pria paruh baya yang berbaring lemah diranjangnya,Albertoo dengan spontan mendekat.
"Tuan besar!,tuan ini saya Albertoo"panggil Albertoo dengan sendu,Emilia pun ikut mendekat dengan berderai air mata.
"Iya tuan kami ada disini,Aisyah baik-baik saja hiks hikss"tangis Emilia pecah seketika,selama ini dia menahan beban yang begitu besar sampai mereka lupa Moza nampak menatap mereka dengan bingung.
"Mas apa mama dan papa kenal dengan kerabat lama papamu?"tanya Moza terheran-heran.
__ADS_1
"Iya mereka semua dulunya sahabat dekat,tapi keadaan membuat mereka berpisah"alibi Yano agar Moza tak curiga.
"Ohhh begitu ya"balas Moza mempercayainya.
"Ayo kamu harus lihat juga!"Yano menggandeng tangan Moza dan memberinya kursi untuk duduk ditepi ranjang Ardiansyah,sehingga dia dapat melihat jelas wajahnya.
"Sayang!"panggil Emilia menyadari Moza berada disampingnya,dengan cepat dia menghapus jejak air matanya.
"Mama sama papa jangan sedih,nanti sahabat papa juga bakalan sedih"ucap Moza menirukan suara anak kecil,agar suasananya mencair.
Membuat Yano dan juga orangtuanya terkekeh,Moza menatap pria baya itu dengan intens dan tiba tiba dia teringat sesuatu.
"Wajahnya kok kayak nggak asing,apa aku pernah bertemu dengan bapak ini"gumamnya sambil mengingat ingat wajahnya.
"Kamu kenapa yank?"tanya Yano yang melihat Moza terdiam.
"Hem aku?,nggak ada apa apa aku cuman kasihan lihat bapak ini"elak Moza menatap Ardiansyah kembali.
Dan kini tinggalah Moza seorang diri disana,dia juga bingung harus berbuat apa.Menatap pria paruh baya didepannya ini,membuat hatinya perih seakan ada ikatan antara mereka.
"Kok perasaan ku jadi sedih gini sih,apa iya ini cuman karena kasihan"monolognya
"Mungkin ini cuman bawaan baby doang"ucapnya mengusap perutnya yang membuncit.
Lama Moza menatap Ardiansyah,entah keberanian darimana dia menggenggam tangannya dan mengelusnya lembut.
"Om harus kuat ya,banyak orang yang menyayangi anda,jadi anda harus segera sadar"Moza seolah mengajak Ardiansyah untuk mengobrol.
"Dan satu lagi om,kalo nanti om sadar kita juga bisa bertemu lalu kalo aku melahirkan om juga bisa lihat baby nya Moza"dengan penuh semangat Moza terus mengoceh,hingga tangan Ardiansyah sedikit bergerak.
__ADS_1
Moza yang menyadari hal itu merasa terkejut,dia bingung harus senang atau takut disisi lain dia senang karena pria itu sadar namun disisi lain dia takut karena sendiri disana,dia bingung untuk memanggil dokter tapi dia susah jalan sendiri karena tengah mengandung.
"Aisyah!"ditengah kebingungan Moza,dia dikejutkan lagi dengan pria tua itu yang memanggilnya dengan nama lain.
"Aisyah kamu datang nak"Ardiansyah menyentuh dan menggenggam tangan Moza dengan lembut,Moza pun tak menolak dia justru merasa dekat dengan sosok itu.Tiba tiba Ardiansyah bangun dan memeluknya membuat Moza sangat kaget,dia pun membiarkan nya.
"Aisyah kamu kemana aja selama ini,ayah sangat merindukanmu nak,kamu baik-baik saja kan?"cecar Ardiansyah memeluk Moza dengan perasaan rindu.
"Siapa Aisyah?,ayah?"gumam Moza tak mengerti dengan yang disebut Ardiansyah.Tapi dia tak berani bertanya,dia pikir mungkin pria itu mengira dirinya adalah putrinya.
Setelah melepas rindu,Ardiansyah melepas pelukannya.Meskipun mata Ardiansyah agak kabur,tapi dia bisa mengenal wajah dihadapnnya ini,wajah yang selama ini dia rindukan,bahkan bertahun lamanya untuk pertama kalinya dia bisa menggenggam tangannya.
"Om namaku Moza,bukan Aisyah"ralat Moza tersenyum manis,membuat Ardiansyah sangat terharu sekaligus bahagia.Dia baru tersadar kalo dihadapannya bukan Aisyah melainkan Moza.
Walaupun dia agak kecewa karena Moza memanggilnya dengan sebutan om,tapi dia sadar diri itu merupakan kesalahannya.
"Ooh Moza nama yang sangat cantik secantik orangnya ya"puji Ardiansyah,sambil berusaha untuk bersandar diranjangnya,karena tubuhnya masih lelah karena dia sangat bahagia melihat Moza makanya dia langsung terbangun dan duduk begitu saja tanpa merasa sakit.
"Om nggak usah banyak gerak dulu,kan baru pulih"cegat Moza namun Ardiansyah tetap kekeh,dan dengan dibantu Moza kini dia bersandar diranjangnya dengan terus tersenyum.
Dia menatap Moza dengan tatapan rindu,ingin sekali dia memeluknya dan memberitahu dia adalah ayahnya,tapi apalah dayanya dia takut Moza akan membencinya dan tak mau bertemu dengannya.
"Om baik baik saja kan"Moza melambai lambaikan tangannya didepan Ardiansyah yang tengah melamun.
"Saya baik baik saja"jawab Ardiansyah dengan suara seraknya,menahan air mata yang ingin menetes.
"Kalo begitu om minum dulu ya,supaya pikirannya plong"tawar Moza dan bangkit berdiri dengan hati hati meraih segelas air dimeja sehingga nampak jelas perut buncit itu oleh Ardiansyah,seketika air mata Ardiansyah meluruh seketika.
"Apa dia sudah menikah?,dia sekarang tengah mengandung cucuku."gumam Ardiansyah dalam hati,dia ikut bahagia kalo Moza memang sudah menikah,tapi dia penasaran siapa suaminya selama ini dia terus mencari putri kesayangannya yang hilang,dan tiba-tiba muncul dihadapannya dengan keadaan tengah mengandung.
__ADS_1
Moza berbalik dan mendapati Ardiansyah tengah menghapus jejak air matanya.Moza menyodorkan minumannya dan diteguk habis oleh Ardiansyah.
Moza kembali duduk seperti semula,dia masih berpikiran kalo Ardiansyah pasti merasa kehilangan putrinya yang bernama Aisyah makanya dia sakit sakitan.