Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Pacaran


__ADS_3

Moza sangat kesal dengan tingkah Revan akhir-akhir ini.Tidak biasanya dia cuek jika Moza menelpon.Dia merasa kesepian liburannya kurang menyenangkan,ditambah tidak ada kabar lagi dari Manda.Sehingga dia merasa sepi tak bisa jalan jalan,pergi shopping.Liburan kali ini benar-benar membuat Moza tersiksa,baru saja dia berharap bisa bebas karena orangtuanya lagi pergi ke Singapura.Namun kini tinggal angan-angan,karena kenyataannya tidak sesuai ekspetasi.


Moza tidur telentang dilantai ruang keluarga,sambil memakan snack menatap langit-langit rumahnya.Dia meratapi nasibnya yang begitu kesepian,Yano yang baru saja mau jogging melihat Moza yang kelihatan lemas.


"Kenapa tuh muka"tanya Yano bersandar disalah sati sofa.


"Hikks...hikss pak aku lagi sedih nih,nggak ada teman mau jalan-jalan padahal bosan banget dirumah hiks..hiks"Moza menangis sekencanganya,Yano menutup telinganya mendengar suara cempreng milik Moza.


"Daripada kamu uring-uringan nggak jelas kayak gini,mending ikut jogging sama saya"tawar Yano menarik tubuh Moza agar berdiri,bukannya berdiri Moza kembali meluruh kelantai.


"Bapak nggak ngerti sama perasaan saya"tutur Moza kembali berguling dilantai.


Karena Yano tak tega melihat Moza bersedih,dia menggendong Moza dengan paksa untuk jogging bersamanya meskipun Moza memberontak,tapi dia tetap menggendongnya keluar rumah.Sehingga orang-orang disekitar mereka menatap iri dengan dua orang tersebut,karena merasa malu dengan tatapan orang-orang,Moza menyembunyikan wajahnya didada bidang Yano.


"Pak turunin aku dong,aku malu banget loh."Bisik Moza tapi Yano tetap berjalan tanpa mempedulikan Moza yang terus merengek untuk diturunin.


"Walaah suaminya begitu sayang sama istrinya,masa pergi jogging aja digendong"


"Waah bu aku iri banget loh sama pasangan muda itu,terlihat mesra banget ya"


Begitulah pujian-pujian dari ibu-ibu dikompleks perumahan Moza,melihat Moza yang terus digendong oleh Yano dengan posesifnya.


*


*


Yano baru menurunkan Moza ketika mereka disebuah taman.Moza sudah tidak protes lagi sama Yano,karena jujur moodnya menjadi baik ketika digendong sama Yano walaupun masih malu-malu.


"Nih minum dulu"kata Yano menyodorkan sebotol minum untuk Moza,dia menerimanya dengan canggung.


"Ngapain ketaman pak?"tanya Moza melirik Yano yang duduk disebelahnya,membuat jantungnya terus berdetak tak menentu.


"Emm lagi pengen ngajak kamu refresing lah,kan katanya bosan"


Moza tersenyum kecil, mendapat perhatian kecil dari Yano mampu mengubah pandangannya kepada Yano.


"Ternyata bapak orangnya perhatian juga ya,nggak seperti yang saya pikirkan"ngaku Moza dan Yano menaikkan satu alisnya.


"Emang apa yang kamu pikirkan tentang saya?"tanyanya melirik Moza kemudian fokus menatap pemandangan sekitar.


"Emm saya pikir bapak itu orangnya itu kaku,nyebelin,sombong,terus...."Moza menjeda ucapannya lalu bergeser menjauh dari dekat Yano.


"Terus.."pinta Yano mendekat kearah Moza


"Terus nggak tertarik sama perempuan"setelah mengatakan itu Moz berlari sekencangnya,untuk menghindari amukan Yano.Bukan nya marah Yano malah terkekeh dengan sindiran Moza,dia mengejar Moza yang berlari sambil tertawa lepas,dengan rambut panjangnya yang tergerai diterpa angin,walaupun sedikit terikat kebelakang.Membuat Yano terpana dengan sang bidadari yang berada tak jauh darinya,Yano ikut tersenyum melihat Moza sudah ceria lagi.




"Ayo pak kejar saya kalo bisa!"tantang Moza


Yano dengan semangat menggebu mengejar Moza yang mulai lelah untuk berlari,dengan mudah Yano menyusul langkah Moza ketika mendekati Moza dia memeluk Moza dari belakang.


"Haha dapat kamu"teriak Yano merasa menang


Deg


Jantung Moza seakan berhenti dengan pelukan Yano yang tiba-tiba,sedang Yano masih nyaman memeluk Moza.Dia memejamkan matanya sejenak ada kenyamanan yang dia rasakan dalam saat memeluk Moza.


"Pak Yano"panggil Yano tapi tak ada sahutan


"Pak Yano nggak tidur kan?" Moza menaikkan nadanya,Yano tersentak dari lamunannya melepas pelukannya dengan cepat.


"Maafin saya,saya nggak bermaksud.."


"Nggak usah dibahas,ayo temanin saya beli es krim pak"potong Moza mengalihkan pembicaraan,menyeret Yano kesalah satu kedai es krim yang laki parkir disekitar taman.


"Bang es krimnya dua,satunya rasa coklat"


"Kalo bapak mau rasa apa"tanya Moza kepada Yano.


"Emm terserah kamu aja deh"


"Emm kalo begitu Bang es krimnya dua,rasa coklat semua"


"Sip neng"


*

__ADS_1


*


Moza dan Yano duduk menikmati es krimnya masing-masing,memandangi anak-anak yang lagi bermain beberapa wahana permainan ditaman tersebut.


Es krim milik Moza sudah habis,dia masih belum puas makan es krim tapi penjualnya sudah pulang.Dia menatap es krim yang disantap Moza dengan rasa ingin,Yano yang mengerti dengan arah tatapan Moza sengaja membuat Moza kesal.


"Za es krim nya enak banget ya,saya mau beli lagi nih buat stok dirumah"


"Pak aku mau main wahana itu"kata Moza memelas menunjuk roll coaster yang sedang berputar,Yano mengira Moza mau meminta es krimnya,padahal pengen ngajak dia naik roll coaster.


"Kamu aja deh,saya enggak mau terlihat kekanak-kanakan"tolak Yano


"Pak sekali saja,saya phobia ketinggian tapi sedari kecil saya belum pernah naik roll coaster karena tidak ada yang menemani saya."Curhat Moza menatap sendu roll coaster tersebut,dia mengusap sudut matanya yang berair.Melihat hal itu Yano tidak tega dan mengiyakan keinginan Moza.


Moza dan Yano sudah menaiki rollcoaster tersebut,saat berputar Moza teriak ketakutan hingga tubuhnya bergetar.Lalu Yano memeluknya dengan erat untuk menenangkannya.


"Moza,Moza ada saya disini jangan takut ya"kata Yano memberi ketenangan kepada Yano yang memeluknya dengan erat.


"Saya takut pak"lirih Moza dengan suara bergetar.


"Oke kamu dengarin saya,tatap mata saya secara perlahan-lahan".


"Takut pak"


"Ayo Za kamu pasti bisa,kamu harus lawan ketakutan kamu ada saya disini."Kata Yano meyakinkan Moza,secara perlahan Moza membuka matanya.Pertama-tama yang dia lihat adalah wajah tampan Yano yang tengah menatapnya.


"Ok tatap mata saya,terus kamu pelan-pelan lihat kebawah"Yano memberi arahan kepada Moza,lalu dia mengikutinya dan memandang kerah bawah,sambil memeluk Yano dengan erat.


"Bagus kan?"tanya Yano menatap wajah cantik Moza.Moza mengangguk setuju,dia terus melihat-lihat kebawah dengan rasa bahagia melupakan rasa takutnya.


Hampir beberapa jam mereka menghabiskan waktu diwahana tersebut,hingga matahari sudah terbenam.Dua insan tersebut masih mau menikmati pemandangan sore hari dari atas sana.


"Waw bagus banget pemandangannya kalo sore hari"kata Moza dengan wajah berbinar,Yano hanya diam saja menatap teduh kebahagiaan dari wanita dihadapannya ini.


"Pak ayo lihat kesana,viewnya bagus banget pak"ajak Moza dengan antusias.


"Kamu nggak takut"tanya Yano yang melihat Moza nampak lebih santai padahal awal-awal naik,dia kayaknya ketakutan banget.


"Kan ada bapak disini"


Yano tersenyum simpul merasa tersentuh dengan ucapan Moza,dia mendekat kearah Moza dan berdiri disebelahnya.


"Maksudnya bapak?"


"Supaya kita terlihat akrab,saya cape ribut mulu sama kamu"jujur Yano


"Saya juga mau begitu pak"balas Moza tapi mendapat cubitan dari Yano dihidungnya


"Yano bukan bapak,emang aku terlihat tua hah"ralat Yano berpura-pura ngambek.


"Iya Yano,puas sekarang hah"Moz balas mecubit gemas pipi Yano,sehingga keduanya saling bertatapan menciptakan sebuah keheningan.


Yano menatap bibir Moza yang begitu ranum dan menggoda,perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium Moza dengan lembut.Mendapat ciuman tiba-tiba dari Yano membuat dirinya sempat terkejut,tapi dia terlena dengan ciuman Yano yang lembut.Langit sore yang begitu indah menjadi saksi bisu kedua insan manusia yang tengah berciuman mesra diatas roll coaster tersebut.


**


Yano perlahan melepaskan tautan bibir mereka,memberi oksigen untuk wanita dihadapannya yang perlahan membuka matanya.


"Terima kasih"ucap Yano mencium kening Moza,pipi Moza terasa panas karena salah tingkah.Perubahan Yano yang begitu perhatian dan lembut mampu membuat dia melayang.


Ditambah lagi keberanian Yano yang sudah mencuri ciuman pertamanya,ingin protes namun dirinya tak mampu berkata kata karena dirinya juga sama terlena dengan ciuman itu.


"Za kamu dengar saya"Yano mengguncang tubuh Moza sehingga sang empunya tersadar.


"Emm udah sore pak turun yuk"ajak Moza tak ingin membahas insiden tadi.


"Sekali lagi kamu panggil saya pak pak itu,kejadian tadi bakalan terulang"ancam Yano membuat Moza mengatupkan tangannya sebagai tanda minta maaf.


...----------------...


Setelah semalaman menghabiskan waktu bersama dengan Yano,Moza masih setia berada dibawah selimut.Dia tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam.


"Apa gue jatuh cinta sama Yano?"tanyanya memegang dadanya yang berdetak.


"Ahhh masa sih"tambahnya memutar ulang memori semalam yang begitu indah,pipi Moza jadi terasa panas.


*


*

__ADS_1


Sedangkan dilain tempat Yano sibuk dengan berkas-berkas didepannya.Yano berangkat pagi-pagi kekantor untuk mengerjakan beberapa dokumen yang tertumpuk beberapa hari lalu.Dia fokus dengan layar komputer didepannyae,ditemani secangkir kopi hitam yang menjadi candunya.


Sama halnya Moza,Yano juga teringat dengan kejadian semalam dimana dia berani mencium Moza.Itu juga merupakan ciuman pertamanya.Dia mengeluarkan benda pipih dari sakunya,dan menatap walpaper gadis cantik yang terseyum cerah.


Tadi malam Yano diam-diam mengambil beberapa gambar Moza,dan menyimpannya diponselnya.


"Cantik"gumamnya tersenyum.


Pukul 09.00


Moza baru menyelesaikan ritual mandinya,dia memoleskan make up tipis kewajahnya disertai lipstik pink menambah kecantikan nya.


"Perfect"pujinya menatal pantulan dirinya didepan cermin.


Kemudian perlahan menuruni anak tangga,melirik kiri kanan mencari seseorang yang dihindarinya.Karena dia masih merasa malu dengan kejadian kemarin,sehingga dia berencana untuk menghindari Yano.


Moza menyantap beberapa sandwich yang sudah Bi Asih siapkan dimeja.


"Emm non Moza udah bangun"tanya Bi Asih


"Iya Bi,ngomong-ngomong pak Yano kemana ya bi"tanya Moza


"Den Yano sudah berangkat tadi pagi non,dia juga yang nyiapin sandwich buat non sebelum berangkat."


Moza tersenyum mendengar Yano yang menyiapkan sarapan untuknya,Bi Asih memperhatikan raut wajah Moza yang nampak bahagia sekali.


"Non Moza pasti habis ditembak ya sama pak Yano"kata Bi Asih membuat Moza membulatkan matanya.


"Bibi apaan sih,mana mungkin Pak Yano nembak saya.Bibi ada ada aja deh"


"Tapi Den Yano akhir-akhir ini perhatian banget sama non,padahal pertama kali kesini kalian nggak pernah akur"Bi Asih nampak bingung dengan keakraban keduanya yang dirasa tiba-tiba sekali.


"Bi mulai ngada-ngada nih,emang bibi mau kalo kami ribut mulu"


"Bukan gitu juga sih non"


Kemudian Bi Asih kembali kedapur meninggalkan Moza yang bernapas lega,karena Bi Asih yang sempat curiga ada sesuatu yang terjadi antara keduanya.


"Untung nggak ketahuan"ucap Moza bernapas lega.


*


*


*


Sore harinya mobil Yano memasuki garasi rumah Moza,sepasang mata menatap sang pemilik mobil yang baru saja memasuki rumah.Dia itu adalah Moza,sejak tadi dia berada dibalkon kamarnya menunggu kedatangan Yano,dia takut Yano tidak pulang kerumahnya karena sebentar lagi oarangtuanya segera pulang dari Singapura.


Moza berlari menuruni tangga dengan buru-buru,untuk memastikan kalo Yano masih menetap dirumahnya.Namun sayang seribu sayang dia harus menerima kenyataan pahit.


Karena Yano pulang hanya mengemasi barang-barangnya yang ada dirumah Moza,dia menyeret koper dari kamarnya.


"Kamu mau kemana Yano?"tanya Moza menahan air matanya,dia seakan tidak rela kalo Yano pergi dari rumahnya.Baru saja dia bahagia diperlakukan manis oleh Yano,tapi keduanya harus berpisah.Apalagi Yano tidak memberitahu kepulangannya kepada Moza


Yano yang ditanya terpaku menatap Moza yang menghadang jalannya,dengan mata berkaca-kaca.Dia bingung sekaligus merasa bersalah karena tidak sempat memberitahu Moza mengenai kepulangannya.Dikantor dia tiba-tiba disuruh pulang oleh ayahnya,ada sesuatu yang penting yang harus dia kerjakan.


"Sebelumnya saya minta maaf sama kamu"kata Yano memegang kedua bahu Moza,menatap dalam manik mata yang tengah bersedih.


"Jangan bilang kamu mau pergi?"Moza tidak bisa menahan air matanya,Yano memeluk Moza dan mencium pucuk kepalanya.


Dia tak mampu menjelaskan alasan dia pergi,hanya pelukan yang bisa dia berikan sebagai tanda perpisahan dengan Moza.


"Saya harus mengerjakan tugas penting Za."Yano melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata dipipi Moza.


"Kamu jahat nggak beritahu kalo kamu mau pergi"Moza menangis tersedu-sedu serasa berat melepas Yano pergi padahal status keduanya bukan sepasang kekasih.


"Aku janji bakalan balik lagi Za"tawar Yano meyakinkan Moza agar dia juga bisa pergi dengan hati tenang.


"Jaga diri kamu baik-baik"Moza memegang tangan Yano dengan lembut.


"Ya udah aku pergi dulu ya sayang"lagi-lagi Yano mencium kening Moza.


"Sayang?"tanya Moza mengulangi


"Iya mulai hari ini kita resmi pacaran"tutur Yano memeluk Moza.


"Nggak salah nih?ini bukan mimpi kan?"tanya Moza mencubit pipinya.


"Iya kamu nggak lagi bermimpi,ya udah kamu jaga diri baik-baik disini"pamit Yano melepas pelukannya,dan Moza mengantar Yano sampai diparkiran hingga mobil Yano mulai menjauh.

__ADS_1


Meski cara Yano menembak Moza tidak seromantis pasangan lain,tapi Moza merasa bahagia dengan sikap lembut dari Yano.Ditambah lagi keduanya harus berpisah diawal hubungan asmara mereka,namun Moza akan menunggu Yano kembali lagi.


__ADS_2