
Pagi harinya........
Seorang lelaki menggeliat pelan,kala mentari pagi menyapa dibalik tirai.Lelaki tampan itu adalah Yano yang sudah bengun dari alam mimpinya.
"Hoaaaam"Yano mengerjapkan matanya,dan meregangkan otot-ototnya,setelah nyawanya terkumpul barulah dia ingin beranjak membersihkan diri,akan tetapi dia baru menyadari kondisinya yang hanya berbalut selimut saja.
"Apa yang terjadi semalam?"pikir Yano mulai mengingat kepingan-kepingan kejadian tadi malam.Saat dirinya terpengaruh oleh obat perangsang,dan dia diantar oleh Anton kerumah,kemudian dia dibantu oleh seorang wanita,setelah itu dia tak ingat apa apa lagi.
Untuk mencari tahu hal itu,Yano beranjak dari tempat tidurnya,lalu dengan terburu-buru mendekati laptop yang ada dimejanya.
Dia membukanya dengan cekatan jari-jarinya bermain diatas keyboardnya.
Ternyata dia memeriksa dalam kamarnya untuk mengetahui kebenaran dengan kejadian yang dialaminya semalam.
Setelah tampil lah rekaman cctv yang ada dihadapannya,Yano membelalakan matanya menatap layar didepannya,ada rasa yang tak karuan menjalar dalam tubunya,seketika detak jantung nya meletap-letup.
"Jadi wanita itu ada..lah Moza"Yano merasa bersalah melihat aksinya yang tak bisa membendung hasratnya,nampak dilayar bagaimana usaha dari wanita itu untuk keluar dari jeratannya.
"Brengsek kamu Yano"dia memukul meja dengan keras,merasa frustasi dengan perbuatannya.
Dia tak tahu harus bersikap seperti apa kepada Moza,setelah dia melecehkan wanita itu,apakah hubungan mereka akan membaik atau malah sebaliknya.
Kemudian dia memilih untuk menemui Moza,meminta kejujuran dari mulut wanita itu,walaupun dia sudah mengetahui kebenarannya.
Tok...tok
Yano mengetuk pintu kamar Moza dengan pelan,dia takut wanita itu mengalami trauma akibat perbuatannya,sedangkan Moza sendiri baru selesai mandi,dan sekarang dia tengah mengenakan sebuah kimono,dan tak sengaja dia mendengar ketukan pintu dari luar.
"Kayak ada yang ngetuk pintu,apa bi Siti ya"pikir Moza karena hanya Siti yang mengetuk pintunya dengan pelan,tak seperti Yano yang ngetuk kayak ngajak perang,tanpa pikir panjang pun dia membukakan wanita itu,
__ADS_1
"Ada apa bi?"Moza membuka pintu dan mengira itu Siti,ternyata dugaannya salah
"Ma..s Yano"Moza menatap lelaki yang ada dihadapannya dengan rasa terkejut,sehingga timbul kembali rasa takut yang menyelimuti nya dengan kejadian semalam,dia menutup kembali pintunya tapi dia kalah cepat dengan Yano yang tenaganya lebih kuat.
Yano berhasil menerobos pintu itu dan mengambil alih mengunci pintunya,sementara Moza berlari menghindari Yano,dia takut Yano akan mengulangi hal yang sama dengannya seperti semalam.
"Jangan mendekat mas,jangan lakukan itu"teriak Moza dengan nanar hingga air matanya menetes begitu saja,dia mengkode dengan tangannya agar Yano tidak mendekat,melihat ketakutan dari istri kecilnya itu membuat Yano semakin merasa bersalah,hingga dadanya terasa sesak melihat gadis itu yang tak sudi melihat wajahnya.
"Aku sungguh minta maaf Za,aku mohon maafkan aku,ini memang diluar kendaliku karena lagi mabuk"Yano menahan langkahnya dia tetap berdiri dipintu,dengan rasa bersalah dia meminta maaf atas perbuatannya.
"Aku tahu aku memang lelaki brengsek,tapi kamu harus tahu satu hal jika aku tidak akan berani melakukan hal itu?"Yano menatap netra mata gadis polos itu,yang merengkuh tubuhnya dengan gemetar.
"Aku tahu hal itu,aku sangat tahu mas dan aku memang merelakan kehormatan ku direnggut karena itu sudah hak kamu,tapi.."Moza tak kuasa menahan air matanya,dia mencoba untuk mengusir rasa takut nya dan juga gemetar yang menyerangnya,dia membalas tatapan suaminya itu.
"Tapi aku kecewa,mengapa suamiku meniduriku karena mabuk bukan karena cinta"lirih Moza dengan rasa sesak didadanya,sungguh dia tak bisa membendung rasa sedih sekaligus rasa takut yang campur aduk,mengingat Yano semalam memperlakukannya secara paksa.
"Kamu ingin jika aku hamil,kamu mau aku mengugurkannya hah,kamu mau itu mas hah?"potong Moza dan berteriak histeris kepada Yano.
"Bukan itu maksud saya Za"Yano juga baru menyadari satu hal,kalo perbuatannya itu akan berdampak gadis itu akan hamil.
"Lalu apa hah?,apa dengan kehamilan ini kamu akan menyuruh aku pergi hah?"teriak Moza dengan napas naik turun.
"Hufttt aku mohon kamu dengerin aku dulu,siapa yang suruh kamu melakukan aborsi,dan siapa yang suruh kamu pergi hah?"suasana menjadi hening pula saat suara Yano meninggi,dan Moza tertunduk tak mampu menatap wajah Yano yang berubah dingin.Menyadari ketakutan dari Moza,dia berusaha untuk tetap tenang.
"Ini bisa kita bicarakan baik-baik,jangan pake emosi tapi dengan kepala dingin"ucap Yano pelan agar Moza tidak semakin ketakutan.
Moza tertawa sinis,mendengar kata-kata Yano.
"Apa kamu pernah memecahkan masalah dengab kepala dingin hah,apa kamu menikahi aku secara paksa karena rasa benci,bisa kamu bicarakan dengan kepala dingin apa kesalahan ku hah?"Moza menatap lelaki yang terdiam itu dengan tajam.
__ADS_1
"Coba kamu pikir mas,aku berulang kali minta penjelasan apa salahku kekamu,tapi nyatanya hanyalah tamparan hinaan yang kudapat"lirih Moza dengan sendu sambil berlinangan air mata.
"Kamu tenangkan diri dulu,nanti kita bicarakan hal ini lagi"putus Yano tak ingin emosinya keluar mendapat tuntutan dari Moza.
"Kamu perlu ingat satu hal mas,aku takan pernah mau mengugurkannya bila Tuhan menitipkannya kepadaku"tekan Moza menghentikan langkah Yano yang bersiap membuka pintu.
"Kamu juga ingat satu hal,apa yang sudah kusentuh akan menjadi milikku selamanya"Yano sudah mematangkan keputusannya untuk bertanggung jawab serta mengubah alur rencananya yang dulu,dan berusaha mencari kebenaran dibalik segala berita-berita yang dilaporkan anak buahnya belakangan ini.
Yano keluar dari kamar wanita itu,dan seorang pengawal tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Ada apa?"tanya Yano menatap pengawal itu.
"Ada seorang ibu-ibu yang ingin bertemu anda dibawah,tapi kami melarangnya masuk tuan tapi dia memberontak dan terus memanggil nama tuan.
"Siapa wanita itu"pikir Yano,kemudian dia pun mengikuti pengawal itu.
Sampailah Yano digerbang mendapati seorang wanita paruh baya itu ,dibawa paksa untuk keluar oleh beberapa pengawal.
"Hentikan!"perintah Yano dengan lantang,sehingga semua pengawal melepaskan wanita paruh baya itu,dan menunduk takut mendapat tatapan tajam dari Yano.
"Nak,kamu masih ingat sama ibu kan"ujar wanita paruh baya itu mendekati Yano.
"Ibu mengenal saya?"tanya Yano dengan bingung,dia mencoba mengingat wajah yangg juga tak asing baginya.
"Iya nak,saya sangat mengenalmu"wanita paruh baya itu menatap Yano dengan intens,sekaligus dengan tatapan sendu.
"Ya saya sudah mengingat ibu,waktu saya kerumah sakit"kini Yano ingat dengan sosok yang ada dihadapannya,dan si ibu itu menganggukan kepalanya.
Karena masih berbicara didepan gerbang,Yano pun mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk masuk.
__ADS_1