
Sudah 30 menit Moza berdiri diambang pintu,sedangkan Yano sengaja mengunyah makanannya dengan perlahan untuk mengerjai Moza yang sudah tak nyaman berdiri.
"Mas,kakiku udah kesemutan nih"lirih Moza menghentakkan kakinya,tapi Yano tak menggubris dia malah menatap ponselnya sambik mengunyah makanannya.
"Mas!,aku boleh duduk nggak?"Moza tak bisa menahan kakinya yang sudah merasa kesemutan.
"Kamu bicara sama saya?"tanya Yano menengok Moza yang terlihat gusar karena kakinya sakit.
"Aku bicara sama tembok mas"jawab Moza asal dengan nada kesal,hampir saja Yano tertawa melihat ekspresi istri kecilnya itu,tapi dengan cepat dia menetralkan mimik mukanya.
"Lagi sejam lagi,nggak boleh protes!"kecam Yano membuat Moza frustasi dengan tambahan waktu dari Yano.
"Tapi mas"Moza ingin protes tapi Yano memberi kode untuk tidak bersuara.
Sementara Jesika yang entah berapa kali keluar masuk toilet,kini sudah merasa sedikit baikan.Dan sekang dia ingin mencari kamar Yano,dia menyusuri tangga menuju lantai dua.
"Dimana sih kamarnya Yano?"Jesika bingung melihat dua kamar yang bersebelahan,akhirnya dia membuka salah satu pintu kamar itu dan medorong pintunya kedalam,saar Jesika mendorong pintu yang ternyata betul itu kamar milik Yano,dimana didalam nya ada Moza yang berada dibalik pintu ikut didorong oleh pintu itu hingga dirinya terhuyung kedepan.
"Auwwwww"teriak Moza merasa terkejut dengan pintu yang tiba-tiba didorong dari luar.Hingga tubuhnya terhuyung kedepan,akan tetapi dia tidak merasakan sakit.Moza masih setia menutup matanya, perlahan dia mengerjap dan nampaklah wajah suaminya tepat didepannya dan menatapnya dengan intens.
Keduanya bersitatap,hingga suara teriakan seorang wanita membuyarkan keduanya.
"Om my god"teriak Jesika mendapati pemandangan didepannya,Yano yang tengah menahan tubuh Moza dengan posisi yang begitu intim,ditambah lagi keduanya saling menatap satu sama lain.
"Emm maaf mas"ucap Moza kembali berdiri dengan tegak,sungguh dirinya terkejut kalo Yano yang sudah menolongnya,itulah mengapa dirinya tak terjatuh kelantai.
"Ngapain kamu kesini Jesika?"tanya Yano tak suka melihat kehadiran Jesika,ditambah sikap cerobohnya yang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Aku yang harus nanya,ngapain pembantu ini dikamar kamu"jawab Jesika balik bertanya,dan menatap sinis kearah Moza.
__ADS_1
"Saya ada disini karena dia sua.."belum sempat Moza meneruskan perkataannya,tapi sudah dipotong oleh Yano.
"Karena dia adalah asisten pribadi aku,lagian kamu tidak usah ikut campur urusan saya"Yano mengingatkan posisi Jesika yang seolah olah berhak atas dirinya.Sementara itu Moza merasa kecewa dengan jawaban Yano,yang mengaku kalo dia hanya asisten pribadinya,tadinya dia pikir kalo Yano mengakui bahwa dirinya adalah istrinya,tapi nyatanya hal itu jauh sekali dari harapan.
"Tapi Yan aku kan cuman nggak mau kamu kena pelet dari gadis kampung seperti dia"ejek Jesika menatap penampilan Moza dari atas hingga bawah,tapi Moza tak mau melawan walaupun dalam hati dia ingi menyumpel mulut Jesika yang seenaknya mengatai dirinya.
"Tahan Za,ingat kamu harus sabar"ucap Moza dalam hati.
"Kalo hanya itu yang mau kau bicarakan,mending kamu keluar"usir Yano kepada Jesika.
"Eeh tunggu dulu Yan,aku mau ngaduin pembantu kamu nih,dia udah ngeracunin aku sehingga aku sakit perut"tuduh Jesika menunjuk Moza.
"Maksud kamu apa?"tanya Yano mengerutkan dahinya.
"Maksud aku gadis kampung ini yang udah bikin aku sakit perut"ucap Jesika menatap Moza dengan tajam,begitupun dengan Yano menatap istri kecilnya yang menggelengkan kepalanya.
"Nggak mau ngaku kamu gadis kampung"cecar Jesika mendorong Moza,hal itu membuat Moza tak terima.
"Nggak usah ngeles deh kamu,jelas jelas saya sakit perut sehabis makan opor ayam,dan tolong ya gadis kampung nggak usah panggil saya pake embel embel tante"tuduh Jesika dengan menggebu,tapi tak membuat Moza mengaku.
"Saya tanya sama tante ehh ralat,maksud saya kak Jesika"ucap Moza dramatis
"Emang gue kakak kamu hah,panggil nyonya Jesika"ralat Jesika dengan angkuh,sedang Yano memilih diam saja,dia ingin melihat Sejauh mana istri kecilnya melawan Jesika.
"Yang makan dua piring opor ayam itu siapa?,lalu saya harus kasih tahu juga kalo makan opor ayam berlebihan bisa sakir perut akut"jelas Moza menatap Jesika yang menatap dirinya tak suka.
"Masa sih,kamu jangan ngarang ya"Jesika tak percaya dengan apa yang barusan Moza katakan.
"Nyonya nggak percaya,kandungan dari lemak ayam itu bisa menyebabkan cacing dalam tubuh bereaksi loh,sehingga menyebabkan sakit perut"Moza berjalan mengelilingi Jesika dengan wajah serius.
__ADS_1
"Berarti aku sakit perut gara-gara kelebihan makan opor ayam?"tanya Jesika mencari kebenaran ,dan dianggukan oleh Moza.Dengan mudahnya dia percaya dengan kebohongan Moza,sehingga Moza hanya bisa tertawa dalam hati.
"Ini orang lulusan apa sih,gampang banget gue bodohi"tutur Moza dalam hati
Preeeett
Disaat itu juga angin jahat dari Jesika mulai keluar lagi,Jesika merasakan perutnya melilit lagi,akhirnya dia berlari ke toilet lagi,sehingga tinggallab Moza dan Yano.
"Hufttt"Moza menghela napasnya karena bisa terlepas dari tuduhan Jesika
"Apa yang kamu lakukan ke Jesika?"tanya Yano mengagetkan Moza.
"Emm anu nggak ada apa-apa"alibi Moza
"Jawab nggak atau mau berdiri sampai besok disini"ancam Yano menatap Moza dengan tajam dan mendorongnya kedinding.
"Mas aku cuman..kasih obat sakit perut"ngaku Moza menutup matanya,dia pasrah kalo Yano mau memukulnya atas perbuatannya.
"Ngapain kamu nutup mata hah?"Yano menjitak kepala Moza dengan keras sehingga sang empunya meringis kesakitan.Moza membuka matanya dan netra mata keduanya kembali bertemu.Lama keduanya bersitatap dan larut dalam pikirannya masing-masing.
"Apa tidak ada ruang dihatimu untuk aku mas?"tanya Moza spontan dengan sendu,menunjuk dada bidang suaminya,sedang Yano menatap intens netra mata wanita yang ada dihadapannya,dia melihat guratan sedih dimatanya.
"Apa segitu bencinya dirimu sama aku mas,sehingga kamu membuat aku tersiksa begini?"teriak Moza menggebu dan loloslah air mata dari pipinya,entah mengapa dia ingin menumpahkan segala isi hatinya.
"Jika kamu tersiksa,ada orang yang jauh lebih tersiksa dari kamu"jawab Yani dengan mengepalkan erat tangannya,dan seketika emosinya meluap begitu saja.
"Yan jika memang begitu,katakan alasan kamu membuat aku seperti ini,hidup dalam pernikahan paksa ini?"Moza mengguncang tubuh Yano
"Kamu tak perlu tahu akan hal itu,tunggu tiba saatnya saja"jawab Yano mencengkram dagu Moza dengan kuat,Moza hanya bisa meringis kesakitan mendapat perlakuan dari suaminya.Karena hal itu biasa dilakukan Yano bila sudah berdebat.
__ADS_1
"Kalo kamu ingin aku mati,kenapa nggak sekalian kau bunuh saja aku hah,hiks..hikss"teriak Moza dengan linangan air mata,dirinya sudah cape harus mengharapkan perubahan dari Yano.
"Jangan harap kamu bisa lolos begitu saja"ingat Yano menghempaskan dagu Moza dan berjalan menuju balkon kamarnya,dia ingin mengontrol emosinya sekaligus mengindar dari Moza yang sedang menangis ,karena jujur hatinya sakit melihat wanita itu menangis,entah apa yang ada dalam hatinya,hanya dia dan Tuhan yang tahu.