
Beberapa minggu kemudian,dilain tempat tepatnya dikediaman Ardiansyah atau Revan,tepatnya disebuah kamar seorang pria tua yang tak lain dan tak bukan adalah Ardiansyah sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
Beberapa hari yang lalu,setelah kondisinya yang drop dan dirawat dirumah sakit,kini perlahan membaik dan beliau di rawat dikediamannya sendiri.Sehingga dokter Jaya selalu pergi mengecek kondisinya setiap hari,bahkan dokter Jaya dan Revan sudah akrab satu sama lain,karena Jaya yang menjadi jembatan bagi Revan untuk memantau kondisi ayahnya.
Karena sampai saat ini,Revan tak mau menjenguk atau melihat ayahnya,karena masih kecewa dengan kebohongan ayahnya.
Dan hari ini Jaya kembali untuk memeriksa kondisi Ardiansyah,dan Revan hanya menunggu didepan pintu kamar ayahnya.
Setelah beberapa menit kemudian,Jaya keluar dari kamar Ardiansyah dan disambut oleh Revan.
"Bagiamana kondisinya Jay?"tanya Revan
"Kondisi fisiknya sudah membaik,tapi psikisnya itu masih menjadi hal yang harus dipantau"jelas Jaya menatap Revan.
"Maksudnya?"tanya Revan tak mengerti.
"Mending kita bicara diluar saja"saran Jaya san dianggukan oleh Revan,dan keduanya memilih mengobrol ditaman belakang kediaman Revan.
"Gue mau tanya sekali lagi sama lo Van,tapi gue mau kali ini lo jujur sama gue"tanya Jaya dengan serius.
"Tanya apa Jay?"balas Revan
"Apa yang dipikirkan tuan Ardiansyah,dan ada masalah apa anatara kalian berdua."Tanya Jaya menatap Revan yang terdiam.
"Sebenarnya ayah lagi memikirkan adik tiri saya yang hilang."Revan mulai menceritakannya,dan semoga jika dia cerita juga Jaya bisa membantu untuk pemulihan psikis ayahnya.
"Emang kamu punya saudara,setahu saya kamu anak tunggal?"kata Jaya dibalas gelengan kepala dari Revan.
"Gue punya adik perempuan,tapi adik tiri"kata Revan,dan kening Jaya nampak berkerut.Melihat kebingungan Jaya,Revan menceritakan se- kejadian dulu hingga dirinya menjadi seperti sekarang,termasuk dengan hilangnya adik tirinya,serta hubungan antara ayahnya dengan Revan.
"Tapi kalo boleh tahu Van nama adik lo yang mana,setahu gue tuan Ardiansyah memiliki putra tunggal yaitu lo?"tanya Jaya sambil menggaruk jidatnya.
"Sebetulnya ini hal yang menjadi kekecewaan gue sama ayah"jawab Revan menatap lurus kedepan.
"Maksudnya?"tanya Jaya mengerutkan dahinya.
"Sebenarnya ayah menyembunyikan keberadaan adik tiri gue"jelas Revan sendu,dan mulai menceritakan semuanya kepada Jaya,dari awal sampai akhir.
"Jadi begitu ceritanya,tapi yang jadi masalahnya dia diculik "ucap Jaya manggut-manggut,dan dianggukan oleh Revan.
"Tapi kalian masih nggak bisa melacak keberadaannya sampe sekarang?"tanya Jaya dan lagi-lagi Revan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Keduanya terdiam dan larut dengan pikirannya masing-masing.
"Gue sekarang lagi berusaha untuk mencari tahu petunjuk untuk mencarinya"sela Revan membuka suara.
"Tapi kalo boleh tahu siapa nama adik lo"tanya Jaya dengan serius.
"Namanya Moza Clarisa Putri,dia juga sebetulnya adalah sahabat dekat gue,tapi gue sama sekali nggak tahu kalo dia adalah adik tiri gue"lirih Revan dengan sedih mengetahui sahabat nya adalah saudari tirinya.
"Moza Clarisa Putri,kayanya namanya nggak asing deh"pikir Jaya sehingga Revan menatap Jaya dengan wajah cerah,berharap Jaya bisa membawa petunjuk.
"Beneran lo Jay?"tanya Revan antusias
"Iya tapi tunggu dulu"tahan Jaya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas,dan Revan hanya memandangi apa yang Jaya lakukan.
"Ternyata benar dugaan gue"gumam Jaya pelan.
"Gimana Jay,lo tahu sesuatu"Revan sudah tak sabaran mendengar suara dari Jaya,dia meyakini bahwa Jaya mengetahui sesuatu,tapi Jaya malah menatapnya dengan gusar.
"Sebetulnya gue ragu mengatakannya Rev"tutur Jaya menghela napasnya.
"Ragu kenapa Jay,gue mohon sama lo kasih tahu gue kalo lo tahu dimana keberadaan adik gue"Revan memohon dengan sungguh-sungguh,membuat Jaya tak tega melihatnya.
"Maksud kamu adikku sudah menikah?"tanya Revan menggebu.
"Sebenarnya gue enggak tahu pasti kalo itu adik kamu,karena gue baru bertemu dua kali sama dia ,karena.."ucapan Jaya terjeda,seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Kenapa nggak dilanjutin Jay,terus dimana tempat tinggal sahabat lo itu?"
"Tapi gue nggak jamin kalo kita bisa masuk kesana,untuk menyelidiki apa dia betul adik lo"Jaya mengalihkan pembicaraan dan berhasil menarik perhatian Revan.
"Tolong kasih tahu gue dimana tempatnya,biar gue yang basmiin orang yang culik Moza"ucap Revan dengan tangan terkepal,emosinya meluap membayangkan jika adiknya juga sudah menikah,padahal dia diculik.
"Lo tahan dulu Rev,dia bukan orang sembarangan,lagian gue nggak bisa pastiin itu beneran adik lo atau bukan"saran Jaya menenangkan Revan.
Sesaat Revan bisa tenang,kemudian dia merogoh sakunya mengeluarkan benda pipihnya dan mengotak atiknya,seraya menyodorkan nya kepada Jaya.
"Ini fotonya Jay,"ucap Revan dan Jaya melihat dengan saksama foto Moza dihandphone Revan.
"Mukanya sama persis Rev"balas Jaya terkejut melihat sosok gadis yang sama persis dengan istri sahabatnya yaitu Yano.
"Itu artinya sahabat lo yang udah culik adij gue,tapi gue mohon sama lo tolong bantu gue Jay."Mohon Revan dengan muka memelas.
__ADS_1
"Ok gue bakal bantu lo,tapu kita harus susun rencana dulu,btw gue ada operasi sekarang gue pamit dulu."Setelah mengatakan itu Jaya meninggalkan Revan yang nampak berharap padanya.
*
*
*
Sementara di kediaman Yano,tepatnya diruang tengah,Agusto lagi-lagi datang dadakan kerumah Yano.Hal itu membuat pemilik rumah karena saat ini Yano tengah disuruh untuk menemani Jesika jalan-jalan oleh Agusto.
"Yah lebih baik dia dikawal saja,lagian ada hal yang harus kuurus"tolak Yano tak mau menemani wanita yang sok mencari muka dihadapan ayahnya.
"Betul apa yang Yano katakan om,Jesika biar ditemani pengawal saja"ucap Jesika seolah-olah tak ingin merepotkan Yano padahal dalam hatinya ingin terus menempel dekat Yano.
"Biar Yano saja yang temani,lagian kamu malah tersesat nanti"sela Agusto tak ingin dibantah,membuat Jesika tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya.
Setelah itu Yano dengan terpaksa menemani Jesika untuk jalan-jalan,sedangkan Agusto tetap tinggal.
Bersamaan dengan itu,Moza ingin membersihkan ruang tengah,karena setiap hari sudah menjadi tugas nya untuk membersihkan mansion mewah milik Yano,walaupun dirinya adalah nona dirumah itu,tapi tak dianggap oleh suaminya.
"Heyy gadis muda"panggil Agusto pelan,dan Moza menengok keasal suara,dan mendapati ayah mertuanya yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iya tu..an..eeh om "jawab Moza bingung harus memanggi mertuanya dengan sebutan apa,apalagi dirinya masih menyimpan kekeceaan dengan pria tua yang ada dihadapannya karena sudah menculik dirinya dan orangtuanya.
"Duduk disini!"perintah Agusto menunjuk salah satu sofa diruangan itu,dengan ragu Moza pun mendudukan bokongnya.
"Ada apa om?"tanya Moza datar.
"Hemm kamu ternyata berani juga menatap saya begitu"Agusto tertawa sinis,tapi Moza terlihat diam saja.
"Saya cuman mengingatkan kamu,jangan pernah berharap lebih dari pernikahan kamu dan anak saya,karena bukan cinta yang berjalan tapi benci"tambah Agusto mengingatkan Moza.
"Saya sudah mengetahui itu om,dan saya sadar diri kalo pernikahan ini bukan atas dasar cinta"jawab Moza menegakkan kepalanya menatap lawan bicaranya dengan intens.
"Bagus kalo kamu tahu,dan ingat satu hal lagi jika kamu berani kabur orangtuamu jadi taruhan"ancam Agusto dan berhasil membuat Moza memucat.
Deg
"Om saya mohon jangan sakiti mereka."Seketika Moza menjadi takut terjadi apa-apa dengan orangtuanya.
"Sekali lemah tetap lemah"sindir Agusto berlalu pergi meninggalkan Moza yang berlinangan air mata mengingat kondisi kedua orangtuanya,yang entah dimana dan bagaimana kondisinya.
__ADS_1