
Keesokan harinya Moza bangun dengan cepat,karena hari ini dia akan masuk sekolah lagi.Dia sudah cantik dengan balutan seragam SMA nya melangkah menuruni anak tangga.Menghampiri kedua orangtuanya yang sedang sarapan.
"Moza berangkat dulu ya ma,pa"ucap Moza menyalami tangan keduaorangtuanya.
"Mulai hari ini kamu tidak usah menyetir kesekolah"kata Alberto menyambar kunci mobil ditangan Moza.
Moza mengerutkan dahinya,merasa bingung dengan keputusan papanya"Maksud papa?"tanya Moza tak terima.
"Maksudnya kamu akan diantar sama pengawal pribadi kamu"
"Whaat,secepat itu papa nyariin aku bodyguard?"tanya Moza menggema diseluruh ruangan tersebut.
"Sayang ini menjaga resiko agar kamu tidak kenapa" Za."Timpal Emilia membuat Moza melemah karena baik papa dan mamanya saling mendukung untuk menjaga dirinnya dengan seorang bodyguard.
"Bagas"panggil Alberto dan Moza sontak mengedarkan pandangannya kesudut ruangan,dan muncullah seorang pria gagah berjas hitam,dan memiliki postur tubuh yang tinggi dengan wajah yang simetris dan kulitnya yang putih.
"Iya tuan"tunduk Bagas kepada Alberto,Moza memandangi Bagas dari ujung kakinya hingga kepalanya tanpa berkedip.Emilia ikut bingung dengan sikap Moza,tapi dia pikir mungkin Moza terpana dengan ketampanan dari Bagas.
"Kayanya aku pernah lihat bapak deh"pikir Moza menatap Bagas,yang ditatap hanya menampilkan eksepresi datarnya,walaupun dalam hati Bagas sangat kesal dipanggil bapak oleh Moza.
"Sialan bocil bau kencur nih,emang gue terlihat tua apa?"gerutu Bagas dalam hati.
"Tapi dimana ya,ooh aku ingat"tebak Moza
"Sudah sudah ,sekarang kamu berangkat nanti terlambat lagi"potong Albertoo
"Bagas antar dia sampe disekolahnya,kalo dia macam-macam telpon saya"tambah Alberto tak ingin dibantah,Moza hanya menghela napasnya dengan jengah dan melangkah lemah keluar rumah.Karena mulai hari ini hari-hari pasti sangat membosankan.
"Silahkan non"Bagas membukakan pintu untuk Moza,tapi Moza malah melewati Bagas dan membuka pintu sebelahnya.Bagas hanya menghela napasnya karena menghadapi bocil pasti sangat ribet.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan didalam mobil,keduanya berkelana dalam pikiran masing-masing.
"Stop pak,gue ingin tanya sesuatu sama bapak dulu."teriak Moza membuat Bagas menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Nona bisa nggak sih nggak teriak-teriak hah,hampir saja kita celaka"bentak Bagas
__ADS_1
"Dan ralat panggilan nona,panggil saya Bagas bukan bapak"ralat Bagas tapi Moza mendengus kesal pasalnya dia pikir Bagas orangnya pendiam ternyata jauh dari ekspetasinya.
"Terus saya harus gimana pak,masa harus bisik-bisik,lagian siapa suruh jadi bodyguard padahal sekarang bapak seharusnya menikmati masa tua bapak sekarang"Moza sengaja memanasi Bagas dengan menyebutnya bapak.
"Bagas bukan bapak,lagian kalo bukan tua besar yang suruh siapa juga yang mau menjaga bocil prik seperti kamu hah."Bagas sudah mulai menaikan nada satu oktaf nya.
"Tuan besar"tanya Moza bingung membuat Bagas gagap karena barusan keceplosan.
"Tuan besar itu papanya nona Moza"
"Ooh,tapi tunggu dulu pak saya belum tanya,kenapa bapak bisa tiba-tiba jadi bodyguardnya saya,padahal bapak kemarin yang nolongin saya waktu saya pingsan di restaurant?"tanya Moza mengintimidasi.
Sudah Bagas duga mengenai apa yang ingin Moza katakan.
"Kalo soal itu,papa kamu yang nawarin saya bekerja karena takut kamu pingsan kayak kemarin,kebetulan saya juga baru dipecat"elak Bagas seolah merasa sedih.
"Ooh begitu ya,tapi aneh sih"
"Aneh apanya hah?"
"Kok bapak itu sampe dipecat"pikir Moza menopang dagunya menatap Bagas yang berada dikursi pengemudi,keduanya sudah larut dalam pembicaraan konyol hingga lupa waktu Moza masuk sekolah.
"Salah pak,pasti bapak sudah tua makanya dipecat"sindir Moza dan seketika tawanya pecah melihat reaksi dari Bagas,karena sudah berkali-kali Moza memnaggilnya dengan sebutan bapak.
"Sabar Gas ini demi tugas lo,jangan terpancing."Bagas menyemangati dirinya agar tidak emosi,padahal mukanya sudah terlihat masam.
"Betulkan apa yang saya bilang pak,makanya bapak diam kan?"Moza tak henti-hentinya memancing Bagas,mungkin ini menjadi hiburan bagi dirinya selama memiliki pengawal pribadi seperti Bagas.
"Apa nona ingin tertawa seharian"tutur Bagas mellirik jam tangan yang melingkar ditangannya.Dia tersenyum smirk membayangkan reaksi Moza saat tahu dirinya terlambat.
"Maksud bapak?"
"Coba nona melihat jam nona,jika bisa melihat juga ya"sindir Bagas namun bisa didengar Moza,tapi Moza sontak melirik jam tangannya dan benar saja dirinya sudah terlambat kesekolah.
"Pak cepat jalan pak,cepat nggak pake lama"desak Moza kepada Bagas,lalu mobil tersebut melaju begitu kencang karena Moza tak henti-hentinya mengoceh kepada Bagas untuk menaikkan kecepatan mobilnya.
__ADS_1
"Aduhh pak cepat dong,saya harua masuk sekolah hari ini pak"mohon Moza dari belakang tapi Bagas tak menggubrisnya,karena dirinya sedang tersenyum penuh kemenangan karena bisa melihat Moza yang panik.Senggahnya sakit hatinya sedikit terbalas.
Tak lama kemudian mereka sampai digerbang sekolahannya Moza,dan alhasil gerbangnya sudah ditutup.Dengan cepat Moza lari keluar dari mobil,dan diikuti oleh Bagas dari belakangnya.
"Pak saya minta maaf karen terlambat pak,tolong dong pak bukain gerbangnya"ungkap Moza kepada seorang security dengan memohon-mohon.
"Maaf nak,ini sudah lewat jam masuk,sebaiknya kamu pulang saja"saran sang security.
"Tapi pak saya mohon pak,saya pasti dimarahin sama papa saya pak"Moza mulai membawa papanya,Bagas yang melihat interaksi dua orang didepannya hanya diam saja,dia ingin melihat sejauh mana Moza bisa membujuk security tersebut.
"Saya tidak bisa nak,sebaiknya besok kamu datang lebih awal saja"
"Pak saya mohon pak,saya ini sudah berusaha untuk datang cepat pak sampai sampai hampir mengalami kecelakaan pak"Moza tak habis akal untuk membujuk security tersebut,tak ingin Moza semakin menjadi-jadi Bagas memilih turun tangan dan mendekati security tersebut,lalu membisikkan sesuatu.Setelah berbisik dengan Bagas,raut wajah dari security tersebut seperti ketakutan dan dengan segera dia membukakan gerbang untuk Moza.
Moza penasaran sekaligus bingung dengan apa yang Bagas bisikan kepasa security tersebut,sehingga dengan mudahnya dia membolehkan Moza untuk masuk.Tapi dia tak ambil pusing,karena yang terpenting hari ini dia bisa masuk sekolah.Tanpa mengucapkan terima kasih kepada Bagas dia berlalu pergi menuju kelasnya,sedangkan Bagas sedang membicarakan sesuatu yang serius kepada security tersebut.
Moza dengan riang gembira memasuki kelasnya,untungnya tidak ada guru yang masuk.Semua kaget dengan kedatangan Moza padahal jam masuk sudah lewat,dan sudah pasti Moza terlambat.Tapi kenapa sekarang dia bisa masuk kelas,mungkin itulah yang menjadi pertanyaan dari teman sekelasnya Moza.
"Za kok lo baru datang?"tanya Manda melihat Moza yang sudah duduk disampingnya.
"Sabar dulu gue bernapas dulu ya"canda Moza langsung mendapat tabokan dari Manda.
"Apaan sih loh,maen tabok segala hah"kesal Moza
"Ya iyalah gue nanyanya serius,malah lo becanda lagi"
"Ok gue jelasin,gue bisa masuk karena gue dibantu sama om gue"jawab Moza dan Manda bingung om yang mana yang dimaksud Moza,pasalnya dirinya tak pernah mengenal keluarga Moza diluar orangtuanya.
"Om?kok gue baru tahu sih"tanya Manda mengerutkan dahinya.
"Iya Om gue,dia itu tinggal diluar negeri selama ini,dia baru cerai sama istrinya setahun yang lalu"Moza mulai mengarang cerita.
"Oooh pas banget Za"
"Pas apanya?"
__ADS_1
"Pasti om lo duda kan,mumpung gue masih jomblo ya.Mana nomornya dimana hah?"tanya Manda antusias sambil memegang ponselnya bersiap mengetik kontak milik om nya Moza.
"Gila lo,giliran yang begitu semangat amat"sindir Moza tapi Manda menjulurkan lidahnya membuat Moza kesal,tapi mereka menyudahi pembicaraanya karen sudah ada guru yang masuk.Sedangkan ditempat lain Bagas masih setia berada didalam mobil sambil menatap layar ponselnya dengan serius.