Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Jesika Menikah


__ADS_3

Kebahagiaan keluarga kecil Yano dan juga Moza sudah lengkap dengan kehadiran buah hati mereka.


Setelah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu,kini Yano dan Moza sudah menempati rumah mereka kembali.Meskipun Ardiansyah membujuk Moza untuk tinggal dengannya,namun Yano menolak nya dengan halus karena dia ingin membangun rumah tangga mereka secara mandiri.Keputusan mereka pun diterima dengan baik oleh Ardiansyah.


Disisi lain,tepatnya disebuah ruangan Revan tengah merenung sendirian diruang kerjanya.


"Akhhh"dia mengacak rambutnya frustasi setelah sekian menit terdiam.


Dreetttt.....dretttt


Ponselnya bergetar mengalihkan Revan yang tengah frustasi.Dia menggapai ponselnya yang ada diatas meja dengan tergesa gesa.


"Hallo ini bagaimana keadaan Jesika"


"Ini tuan saya mendapat info baru"


"Info apa cepat katakan"


"Itu tuan,nona Jesika akan..."


"Akan apa cepat katakan"teriak Revan menggema dengan ponsel ditangannya.


"Nona Jesika akan menikah besok tuan"


Bruuuk


Revan menggebrak meja dengan keras setelah mendengar kalimat terakhir dari pengawalnya yang berbicara dengannya ditelepon.Revan terlihat geram dari raut wajahnya sudah merah padam,dia meraih jasnya lalu dengan langkah tegap dan ekspresi dinginnya berjalan keluar ruangan.


"Kamu mau kemana Van?"tanya Ardiansyah yang melihat putranya keluar dengan muka yang masam,ditambah dia terlihat buru buru.


"Ada urusan penting yah"


Tanpa berpamitan Revan langsung keluar rumah tanpa menjelaskannya kepada Ardiansyah yang tengah keheranan melihat sikapnya.


Ardiansyah lalu memberi kode kepada Bagas yang tengah berdiri untuk mengikuti Revan.


Disepanjang perjalanan,Revan kelihatan gelisah dan terlihat emosi karena sekali kali dia meninju stirnya,dia sengaja mengemudi sendiri supaya tidak ada yang mengetahui tujuannya.


Ditengah kegalauannya,tiba tiba dering ponselnya membuat dia mengalihkan pandangannya pada benda pipih disampingnya,dan terteran nama disana yaitu kakak ipar.


"Hallo"


"Ngapain menelpon?"tanya Revan ketus


"Ooh sudah mulai jurang ajar lo sama kakak ipar sendiri"


"To the point aja,saya lagi nggak mood dengar suara kakak ipar"jawab Revan malas

__ADS_1


"Saya mau ketemuan sama kamu sekarang juga"


"Nggak bisa,saya lagi ada urusan penting"tolak Revan dengan gegabah


"Ini tentang Jesika,kamu serius nggak mau ketemu"


"Ok sharelock sekarang juga"


Tutt...tuttt


"Dasar adik ipar luknat,giliran bahas cewek langsung gercep"kesal Yano karena Revan mematikan teleponnya sepihak.


"Kenapa sayang?"tanya Moza yang barusan selesai mandi


"Biasa,ngurusin jomblo dinegara ini"canda Yano yang membuat Moza bingung.


"Jomblo?,memang siapa yang kamu urusin"Moza berjalan kemeja riasnya.


"Kamu nggak perlu tahu,mending kamu mikirin aku aja"Yano meraih handuk ditangan Moza lalu membantu mengeringkan rambut istrinya itu.


"Gombal lagi,sini biar aku keringin sendiri"Moza ingin mengeringkan rambutnya sendiri,karena ujung ujungnya Yano pasti akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"No,aku mau memanjakan kamu dulu sebelum pergi"tolak Yano lalu mencium pucuk kepala Yano,dia akan merindukan buah hati dan istri tercintanya karena harus berangkat keAmerika hari ini.


Moza pun pasrah dengan kebucinan suaminya yang semakin hari semakin meningkat,malahan dia lagi berlomba lomba untuk mendapatkan perhatian dari Moza disaat istrinya mengurus baby Rein.


Setelah beberapa menit kemudian,Revan baru saja sampai dikediaman Yano lalu masuk dengan tergesa gesa mencari sosok yang ingin ditemuinya.


"Tuan muda masih belum turun"


"Akhh pasti lagi romantisan,kayak abg aja"Revan mendengus kesal.


Dia memilih duduk diruang tamu sambil menunggu Yano dia terus mengotak atik handphonenya,sesekali menatap kearah anak tangga berharap Yano cepat turun.


1 jam berlalu Revan sudah menunggu dengan rasa penasaran tentang kabar Jesika dari Yano.


Akhirnya yang ditunggu sudah nampak batang hidungnya,membuat Revan semakin naik pitam melihat sosok yang berjalan kearahnya itu tersenyum puas tanpa rasa bersalah sedikitpun,telah membuatnya lama menunggu.


"Kamu udah dari tadi Van?"tanyanya basa basi.


"Dari kemarin,sekarang to the point aja kabar apa yang kamu ketahui tentang Jesika.


"Wait bro,jangan buru buru dong minum dulu"Yano menyodorkan segelas minuman untuk Revan,dan diterima dengan muka setengah kesal oleh adik iparnya itu.


"Cepetan Yan,saya masih banyak urusan"Revan sudah tidak sabaran menunggu kalimat yang keluar dari Yano.


Yano mengambil napas dalam dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan,membuat wajah Revan semakin khawatir namun Yano menahan tawanya karena ekspresinya.

__ADS_1


"Jesika akan menikah malam ini juga"


Duaaarr


Bagai disambar petir,hati Revan memanas ternyata yang dibilang anak buahnya itu benar.


"Kalo kamu mau benar benar serius sama Jesika,silahkan ikut denganku hari ini keAmerika karena aku akan menghadiri pernikahan mereka"ajak Yano kepada Revan yang terlihat menahan amarah.


"Ok,tapi tunggu dulu kenapa kamu bisa tahu kalo dia akan menikah?,lalu kenapa baru sekarang kamu memberitahunya?"banyak pertanyaan yang muncul dibenak Revan.


"Nggak usah banyak tanya,mending kamu siap siap sekarang"


"Gue udah siap,kita berangkat sekarang juga kakak ipar"Revan meraih tangan Yano bermaksud melangkah keluar,dan diikuti saja oleh Yano,bertepatan itu Moza berjalan dari tangga dengan menggendong baby Rein langsung disambut pemandangan didepannya.


"Sayang,kak Revan!"panggilnya menghentikan dua lelaki yang masih berpegangan tangan.


Moza mendekati keduanya dengan tatapan tajam sekaligus aneh,membuat keduanya bingung


"Kenapa sayang"Yano mau mendekati Moza,namun tangan ditahan sama Revan,membuat Moza semakin berpikir aneh aneh.


"Kamu kok menatap aku begitu sih sayang,ada yang salah ya atau aku kurang ganteng"celetoh Yano mengusap mukanya,membuat Revan cengar cengir.Namun bukannya dijawab Moza malah duduk disofa.


"Udah nggak usah tanya sama Moza,dia itu cuma aneh kita pegangan tangan"Revan terkekeh sendiri dengan kakak iparnya itu,sejak tadi dia sudah mengetahui kalo Moza berpikir aneh aneh tentang dirinya dan juga Yano.


"Sialan,gue nggak doyan sama jeruk keriput macam lo"kesal Yano menghempaskan tangan Revan yang masih memegang erat tangannya,lalu memeluk Moza yang tengah duduk sambil menyusui baby Rein.


"Sayang kamu jangan ngambek ya,itu nggak seperti yang kamu pikirin"bujuk Yano dengan memelas seperti anak kecil.


"Iya iya aku nggak ngambek kok tapi...."


"Tapi apa?"


"Takut kamu selingkuh disana"ceplos Moza dengan sendu.


"Mana mungkin aku selinguh sayang,udah ada baby Rein lagian ada pengawal baru yang akan mengawasi aku jika dekat sama wanita lain."jelas Yano tersenyum penuh arti menatap Revan yang tengah berdiri memandang kearahnya dengan tatapan tajam.


"Jangan bilang gue pengawalnya,gue remukin lo kakak ipar sialan"rutuk Revan dalam hati.


"Oh masa?,mana pengawalnya?"Moza memandang kearah sekitar tapi cuma ada mereka bertiga.


Revan yang tak mau kena batunya,alih alih dengan cepat mengambil baby Rein dari gendongan Moza lalu kabur darisitu.


"Kalian lanjutkan obrolan dulu,aku rindu banget sama keponakanku"sela Revan lalu lari terbirit birit menggendong baby Rein,sebelum dipanggil sama Yano.


"Sialan lo Van,gue sumpahin baby Rein kencing"umpat Yano tapi masih bisa didengarin oleh Moza.


"Kamu bilang apa sayang?"tanya Moza menatap suami tercintanya itu

__ADS_1


"Nggak kok sayang,mending kita kekamar aja"ajak Yano meraih tangan Moza,tapi langsung ditepis.


"Kamu kan mau pergi,ngapain ajak aku kekamar"ketus Moza dengan kesal karena ajakan absurd suaminya itu padahal ini masih siang,diapun beranjak menyusul baby Rein meninggalkan Yano yang terlihat menyedihkan dengan muka masamnya.


__ADS_2