Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Pengawal Pribadi


__ADS_3

Moza sudah berhasil memasuki ruang kerja milik papanya,dia melirik cctv yang terpasang disitu dan berpikir sejenak.


Dia menyusuri pandangannya kesegala arah,untuk mencari sesuatu yang bisa menutup celah cctv agar tidak menangkap aksi yang dilakukannya.Lama dia berpikir ,terlintas dibenaknya sebuah ide yaitu mendorong lemari yang tingginya bisa menutupi cctv,dengan susah payah dia mendorongnya hingga lemari tersebut tergeser sempurna menutupi cctv itu.


"Aduh capenya,tulang gue serasa mau patah"desis Moza duduk dikursi papanya.


"Lagi satu lagi Za,tinggal cari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk lo bisa tidur sepuasnya."Seru Moza menyemangati dirinya sendiri.


Lalu Moza membuka setiap laci lemari disitu satu persatu,dia membuka beberapa dokumen namun hasilnya nihil.Hanya dokumen kantor yang dia temukan,Moza tidak menyerah sampai disitu dia kembali membuka laci lemari yang paling bawa yang belum dia sentuh.Perlahan-lahan dia membuka setiap dokumen didalamnya,tiba-tiba sebuah flasdisk terjatuh dengan sebuah tempelan foto kecil yang sudah usang namun masih terlihat jelas.


"Ini foto siapa ya"pikir Moza menatap foto seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang menggendong gadis kecil yang tampak imut,mereka tampak bahagia dengan senyum cerah diwajah mereka.Didetik berikutnya Moza sadar,bahwa gadis kecil dalam foto tersebut adalah dirinya.


"Siapa mereka?"itulah yang ada dibenak Moza saat ini,tak ingin ketahuan dia memasukkan flash dengan foto tersebut kedalam sakunya,bersamaan dengan itu seseorang membuka pintu.


Ceklek.


"Ngapain kamu disini hah"suara tersebut membuyarkan lamunan Moza,sekujur tubuhnya menegang takut ketahuan dan sia sia sudah rencananya.


"Hei kamu dengar saya tidak"langkah orang tersebut semakin mendekat dans suara dapat Moza kenali,dia berbalik dan terkejut mendapati Yano yang sudah ada tepat didepan wajahnya,tatapan tajam dari Yano membuat nyalu Moza menciut.Tapi hal itu berlaku sesaat,karena Moza sudah duluan membeo dengan mulutnya yang cerewet.


"Ngapain bapak kesini hah?dan kenapa bapak bisa masuk kesini?atau jangan-jangan mau maling ya."cecar Moza kepada Yano.


Plakkk.


Yano menjitak kepala Moza dengan keras,sang empunya pun meringis dengan rasa terkejut.


"Apaaan sih pak,maen jitak sembarangan,atau jangan-jangan bapak mau melakukan penganiayaan ya"tuduh Moza tak henti-hentinya.


"kalau kamu tidak mau diam saya bakalan mencium ini."Ancam Yano menunjuk bibir Moza,dengan cepat Moza membekap mulutnya,menatap tajam kearah Yano yang sedang tersenyum karena berhasil membuat Moza bungkam.


Moza bergeser mengambil sapu dan ember yang berisi air sabun.


"Sekarang bapak ngaku ya,ngapain bapak kesini?selagi saya tanya baik-baik,atau saya siram pake air sabun ini"tantang Moza mengambil ancang-ancang untuk menyiram Yano.


"Ok ok saya akan jawab,saya kesini disuruh sama om Alberto untuk menjaga kamu selama mereka tidak ada dirumah."jelas Yano


Moza mendengus kesal mendengar pengakuan Yano,namun tak melepaskan sapu ditangannya.


"Masa sih pak,pasti bapak modus nih mau deketin aku"


"Ew bocil jangan kepedean ya,mana mau saya sama anak manja kayak kamu,ditambah lagi body kaya pohon kelapa,lurus keatas"sindir Yano


Moza tak terima dengan penghinaan Yano,dia memukul Yano dengan sapu ajaibnya.


puk puk puk


Tiga pukulan mendarat dibokong Yano,dia meringis kesakitan tapi Moza tetap saja memukulnya tanpa ampun,Tanpa Moza sadari Yano menangkap sapu ditangan Moza dan mengunci gerakannya sehingga Moza terhimpit oleh tubuh kekar Yano.Dia memberontak karena takut dengan tatapan tajam dari Yano yang begitu menghunus nadinya,bahkan Moza sampai merinding dibuatnya.Belum lagi jantungnya sudah berdetak kencang,begitupun sebaliknya Yano sedari tadi menatap Moza tak berkedip dengan jantung yang masih berirama.Dia kagum dengan kecantikan alami dari gadis dihadapannya,jujur dia sangat kagum dengan kecantikan Moza walau hanya diakui dalam hati.


"Sial kenapa gue suka menatap bocah tengil ini"rutuk Yano pada dirinya


Beberapa kali Moza memberontak tapi tidak kunjung berhasil karena tenaga Yano lebih kuat darinya.Satu hal yang membuat dia tidak nyaman dengan posisi tersebut karena jujur jantungnya serasa mau keluar dari tempatnya.


"Sekarang tatap mata saya Moza."Perintah Yano dengan aura dinginnya,namun Moza tak kunjung menatapnya.


"Enggak mau"tolak Moza


"Ohh jadi nggak mau disuruh secara halus ya,ok terpaksa saya harus memakai cara yang ekstrem."Kata Yano berhasil membuat Moza menatapnya dengan tangannya membekap mulutnya.


"Kayaknya kamu minta dicium ya?"tanya Yano


"Bapak apaan sih,mesum banget deh"kesal Moza mengerucutkan bibirnya,hal itu membuat Yano gemas dengan tingkahnya,namun segera menepisnya.


"Saya mau bertanya serius sama kamu,kamu ngapain berada di ruangan ini."


"Bapak itu nggak lihat apa?,saya itu lagi bersih bersih."


"Bersih-bersih?tapi harus bongkar semua dokumen dokumen itu"tunjuk Yano kepada beberapa berkas yang tercecer dilantai.


"Bapak itu nggak tahu dunia kebersihan ya,dokumen itu sudah berdebu makanya saya bersihin"elak Moza namun Yano belum puas dengan jawabannya.


"Tapi biasanya Bi Asih yang sering bersih-bersih disini,hayoo ngaku kamu lagi cari sesuatu kan?"cecar Yano mendekatkan wajahnya dengan Moza sehingga keduanya saling bersitatap,momen itu membuat keduanya canggung.Karena merasa sudah mendapat celah Moza menggigit tangan Yano hingga membekas,dia berlari kearah pintu namun sayangnya dia menabrak ember yang berisi air sabun sehingga tubuhnya terpeleset.Untung saja Yano dengan sigap menangkap tubuh mungil Moza,sedangkan Moza tidak merasakan sakit dia masih setia menutup matanya karena terlalu syok.


"Apa gue udah mati ya,kenapa nggak sakit ya"rancaunya dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Eee dasar bocah kebanyakan nonton drama"sindir Yano


Reflek Moza membuka matanya,dia terbelalak mendapati dirinya dipelukan Yano.Bukannya terima kasih dia malah mendorong tubuh Yano dan melenggang keluar,karena mukanya sudah merah kaya tomat menahan malu dihadapan Yano.Sedang Yano menatap punggung Moza dengan senyum kecil membuat dia lupa akan tujuan utamanya untuk mencari tahu apa saja yang Moza buat diruang kerja papanya.


Moza yang sudah berada didalam kamarnya bernapas lega karena bisa lari dari rasa curiga Yano,dia merogoh sakunya memeriksa apa barang yang dia ambil masih aman.


"Masih aman Za"tuturnya memegang flash kecil ditangannya


Dia beralih kemeja belajarnya dan mengeluarkan laptop andalannya,jari lentik miliknya bermain lihai diatas deretan tombol didepannya,dengan tidak sabar di menancapkan flashnya,dan memulai mencari tahu isinya.


Beberapa menit lamanya dia menunggu flash itu tersambung,tapu sayang seribu sayang Moza harus menelan pil pahit karena lagi-lagi dirinya mengalami kendala dia tidak mengetahui password nya.


"Sial"umpatnya


Dia mengambil ponselnya dan mencari nama kontak yang tertera nama Revan.


Tutt.tutt


"Ayo dong Van angkat,giliran hal penting gini nggak diangkat lagi"kesal Moza melempar ponselnya kesembarang tempat.


Dia memilih menghempaskan tubuhnya dikasur,dia masih berpikir keras untuk meretas passwordnya namun dia tidak ahli dalam bidang tersebut.Tidak ada cara lain selain menemui Revan dirumahnya.Tapi dia tidak tahu alamatnya,ditambah lagi pengawal pribadi yang membuat dia tidak bisa bebas.


"Awwwwww"teriak Moza mengacak rambutnya frustasi,akhirnya mau tidak mau dia memilih untuk tidur saja.


...****************...


Keesokan paginya Moza mengerjabkan matanya,sembari mengumpulkan nyawanya karena baru terbangun.Dia beranjak dari kasurnya dan meregangkan otot-ototnya.


Dia keluar dari kamarnya menuruni anak tangga,belum sempat dia sampai di meja makan dia berpapasan dengan Yano yang baru saja pulang lari pagi,masih terlihat keringat yang membahasi tubuh kekar Yano dan Moza terkesima dengan pemandangan pagi ini.Yano tak mempedulikan tatapan dari Moza,dia berlalu begitu saja.


Seketika Moza tersadar dari lamunannya dan mengejar langkah Yano yang hampir mendudukan bokongnya diruang makan.


"Eitss pak ngapain masih disini hah?"tanya Moza kesal


Yano tak menggubris pertanyaan Moza,dia malah santai memakan sandwich yang disediakan Bi Asih,Moza tambah naik pitam.


"Woii budek ya"teriak Moza ditelingannya Yano.


"Saya disuruh papa kamu untuk tinggal sementara disini sambil menjaga kamu,emang kamu pikir saya mau jagain kamu hah"balas Yano tak kalah lantang membuat Moza mematung dan gugup.


"Tidak boleh"bukan Bi Asih yang menjawab melainkan Yano.


"Bi siapa yang jawab ya?"tanya Moza pura-pura dan Bi Asih hanya diam.


"Kalo mau keluar nanti saya yang kawal,mulai hari ini dan seterusnya"tegas Yano


Uhuk..uhuk..


Moza sampai tersedak mendengar kata-kata Yano barusan,serempak Bi Asih dan Yano memberi Moza minum.Itu membuat Moza heran dengan sikap Yano yang tiba-tiba perhatian,padahal dia yang membuat Moza tersedak.Jadi Moza memilih air yang diberi Bi Asih dan mengacuhkan Yano


"Non nggak apa-apa"


"Nggak apa-apa bi"


"Kamu nggak apa-apa Za?"tanya Yano dengan datar.


"Nggak apa-apa bagaimana,orang hampir mati begini masih ditanya lagi"sindir Moza.


"Lagian kamu nggak bisa diam sih,mau ngajak berantem mulu"kata Yano tersenyum


Moza dan Bi Asih merasa terkejut dengan sikap Yano,baru pertama kali dia melihat Yano yang begitu kaku dan dingin tersenyum manis sehingga ketampanannya sangat terlihat jelas.


"Nggak salah lihat gue"Moza sampai mengucek ucek matanya,merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.


"Es balok tersenyum bi"kata Moza meminta pendapat Bi Asih.


"Es batu non"kata Bi Asih membenarkan


"Maksudnya Es batu"cengir Moza


Yano malah asik tersenyum,bahkan dia tertawa dengan ekspresi dari Moza dan Bi Asih.


"Kok Moza merinding ya bi"

__ADS_1


"Iya non sama bibi juga"


Moza tak melanjutkan makannya dan lari terbirit-birit kekamarnya,dia tak menggubris panggilan Yano.


"Hei bocah tengil kenapa kabur"teriaknya


"Ada hantu pak"teriak Moza sambil berlari.


Dreet..drett


Belum juga Moza mengatur nafasnya sehabis berlari,ponselnya berdering tertera nama sang penelpon adalah Revan.


"Hallo"


"Darimana aja sih lo Van?dari tadi gue nelpon nggak diangkat angkat?."


"Elu yang kemana Za,hampir ratusan kali gue nelpon nggak diangkat angkat"


"Ah sudahlah nggak penting bahas itu,sekarang gue mau kita bertemu di kafe Arinda"


"Lo dapat sesuatu Za?"


"Yapp,tapi lo harus ikutin rencana gue karena ada pengawal pribadi buat gue yang ditugasin sama bokap Van"


"Wah keren lo Za pake dikawal segala"


"Keren pala lo,gue aja dipenjara sama dia"


"Emang rencana lo apaan"


"ada deh,gue kasih tahunya sebentar aja"kata Moza menutup sambungan telponnya bergegas untuk siap siap bertemu Revan.


Moza menuruni anak tangga secara perlahan,tapi langsung terhenti karena deheman seseorang.


"Ehem....ehem, mau kemana hah?"


"Mau hang out sama pacarku pak,biasa anak muda"ucap Moza melangkah keluar menyambut Revan yang baru saja datang.


"Hai sayang kamu udah datang"sapanya bergelayut manja dengan Revan.


Revan bingung harus apa,terpaksa dia mengikuti skenario dari Moza saja.


"Iya sayang,langsung jalan nih?"tanya Revan


Moza mengangguk pelan dengan ekspresi imut,hal itu membuat Revan enek dan geli.Sedangkan Yano menatap aneh dua insan yang lagi mabuk asmara tersebut,bagaimana tidak sih cewek nya lengket macam permen karet.


"Kalo mau keluar saya yang temanin,apalagi keluar sama laki-laki"kata Yano melangkah ditengah tengah mereka sehingga gandengan tangan Moza dan Revan terlepas.


"Apaan sih pak,iri ya maklum sih mana mau perempuan sama kulkas enam pintu"sindir Moza.


"Jadi nggak kita pergi"tanya Revan berbisik.


"Ya jadilah sayang,ayo lets go my honey"teriak Moza agar didengar Yano.


Mobil Revan sudah keluar dari gerbang utama,dengan cepat Yano menyusulnya agar tidak kehilangan jejak.Bukan dia sengaja membiarkan Moza pergi dengan Revan,takut membuat Moza merasa kepedeaan di perhatiin sama dia.


Moza dan Revan sudah duduk disebuah meja,dari kejauhan sepasang mata memandang mereka dengan rasa tak menentu.Itu adalah Yano sejak tadi dia memperhatikan keakraban mereka.


"Dasar bocil genit,jadi cewek jual mahalan dikit ke"kesal Yano melihat Moza yang asik-asik menyuapi Revan.


"Udah dong Za,gue kenyang banget nih gara gara lo"keluh Revan yang terus dikerjai oleh Moza,tapu Moza malah terus terusan menyuapi Revan.


"Jadi apa yang lo dapat Za?"tanya Revan.


"Emm gue lupa Van"


"Jangan bilang lo lupa sama tujuan kita ketemuan disini"


"Ya enggak dong Van,gue keasikan ngerjain elu sih"cengirnya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya,hal itu tak luput dari pandangan Yano yang berada tak jauh dari keduanya.


"Apa yang dia kasih?jangan-jangan cincin lagi?"pikir Yano.


"Ini Van gue dapat flashdisk ini,tapi gue nggak bisa buka karena ada passwordnya"kata Moza memberi sebuah flash kecil ketangan Revan,dan menggenggamnya.Sehingga dari kejauhan Yano mengira keduanya lagi ajang romantisan.

__ADS_1


"Dasar ABG"kesalnya


Dia tak henti henti memaki dua orang yang dia kira menjalin hubungan asmara,Yano yang kesal memilih ketoilet.Tapi belum sempat dia melangkah dia bertabrakan dengan seorang pelayan yang sedang membawa jus,kemeja yang dikenakan Yano tersiram jus tersebut.


__ADS_2