Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Trik


__ADS_3

Setelah usai menangis mencurahkan isi hatinya,Moza kini lebih tenang.Dia terus memegang tangan Ardiansyah yang masih belum sadarkan diri,dia tak mau beranjak sedikitpun dari tempatnya karena merasa kasihan dengan kondisi ayahnya.


"Sayang mendingan kamu pulang kerumah dulu,kasihan cucu mama kalo kamu terus begini"bujuk Emilia mengelus pucuk kepala Moza dengan lembut.Dia juga ikut sedih kalo sampai Moza melupakannya karena sudah tahu ayah kandungnya.


"Moza kuat kok ma,lagian mama yang harusnya pulang saja"kekeh Moza membuat Emilia semakin takut akan kehilangan Moza yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Tapi Za.."


"Mama pulang aja,aku mau menjaga ayahku dulu"Moza terus menatap Ardiansyah,sampai tak menyadari mata Emilia yang sudah berkaca-kaca.Tak ingin Moza melihatnya,dia langsung keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang hancur,bagaimana tidak kalo dia yang merawat dari kecil memberi kasih sayang dilupakan begitu saja,sungguh hati ibu mana yang tak sakit.


Albertoo pun yang sudah mengurus Yano dan Revan berpapasan dengan Emilia yang hendak keluar dengan mata sembab.


"Mama kenapa kok menangis?"tanyanya


"Aku nggak apa-apa"Emilia mengusap air matanya agar suaminya tak curiga.


"Jujur saja,aku bisa paham perasaan kamu"pinta Albertoo menahan langkah Emilia untuk tidak pergi.


"Aku takut kehilangan Moza pak,apa dia bakalan ngelupain kita?"tangis Emilia pecah membayangkan saja sudah membuatnya sedih.Albertoo yang memahami situasi nya memeluk istrinya.Dia pun merasakan hal yang sama kalo hal itu terjadi.


"Ya sudah kamu nggak usah menangis lagi,mending kita cari makan saja untuk Moza"ucapnya dan diangguki oleh Emilia.


Dipantai Yano dan Revan duduk agak berjauhan,mereka saling melepas kepenatan dalam hati.


Yano pun beranjak ingin membayar es kelapanya.Kebetulan Revan juga ingin melakukan hal yang sama.


"Berapa semuanya pak?"Yano merogoh saku celananya,mengeluarkan selembar uang seratus ribu.


"10 ribu den"


"Ok sekalian aku yanga bayarin kamu,ambil aja kembaliannya pak"Yano membayar es kelapa Revan juga,namun pria itu tak terima karena merasa diremehkan.Masa seorang CEO Star Group tidak punya uang sepuluh ribu,sungguh menyesakkan dada.Tak mau dinjak-injak oleh Yano dia pun mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dan memberi kepada pedang es tersebut.

__ADS_1


"Ini pak sekalian aku bayarin orang songong itu,ambil aja kembaliannya"sombong Revan dengan emosi.Lalu mereka sama-sama menuju mobil masing-masing.Entah kemana lagi tujuan keduanya.


" Revan tunggu sebentar!Gue mau ngomong baik-baik sama kamu"Yano menahan langkah Revan yang mau masuk kemobilnya.


"Apa lagi"Revan mendongak dengan malas.


"Ikut saja!"


Yano berjalan dengan santai dan diikuti oleh Revan.


"Cepetan gue nggak ada waktu"Revan mulai jengah.


"Gue mau kita berdamai saja,mengenai penculikan Moza itu bagian dari cara melindunginya"tutur Yano serius sedang Revan mengangkat alisnya sebagai tanda tak mengerti.


"Melindunginya dari siapa?"


"Dari musuh ayahmu,Moza jadi incaran sejak dia kecil,makanya dia dititipkan kepada om Albertoo."jelas Yano panjang lebar,dengan disimak oleh Revan.


"Karena aku menyukainya sejak menjadi pengawalnya dulu,dan ternyata ayah angkatku adalah musuhnya Om Ardiansyah..._dan"


"Moza juga adalah musuhmu"potong Revan


"Bukan begitu,ayah angkat ku memperalat aku untuk membalaskan dendamnya kepada Om Ardiansyah lewat Moza.Lalu aku menikahi Moza dengan alasan balas dendam,namun aku tidak bisa membohongi perasaanku"kemudian Yano mengingat lagi bagaimana dirinya harus tersiksa setiap malam,karena sudah membuat Moza menderita diawal pernikahannya.


"Heeem,ternyata kamu memang brengsek"sindir Revan


"Aku memang brengsek,dan aku mengakuinya.Setelah aku sadar bahwa ayah angkatku berniat jahat saat itu juga aku menjaga Moza dan menyesali kesalahanku."Yano lega bisa menceritakan yang sebenarnya kepada Revan,walau dia tidak tahu bagaimana reaksi pria itu yang nampak termenung.


"Bagaimana trikmu untuk memperjuangkannya?"bukannya menyimak penjelasan Yano yang sudah kayak persegi panjang,malah dengan konyolnya Revan bertanya mengenai trik menaklukan wanita.


"Buset ternyata gue ngomong sama buaya"kesal Yano yang merasa diabaikan oleh Revan,padahal dia kira pria itu mendengarkannya namun dugaannya salah karena Revan termenung memikirkan trik yang Yano gunakan untuk menaklukan wanita.

__ADS_1


"Cepetan dong,gue janji kita bakalan damai karena ini sangat penting untuk masa depan gue"cecar Revan dengan tatapan memohon.


"Kan kita sudah jadi ipar,gue mohon bantuiin gue untuk mengejar wanita yang aku cintai"tambanya dengan menggebu membuat Yano ingin sekali tertawa dengan permintaan konyol dari Revan yang tadi mengaku bahwa mereka berdua ipar.


"Ok gue bakal ngabulin nya tapi lo harus janji sama kakak iparmu ini supaya kamu nggak bakal dekat dekat sama Moza!" kata kata Yano bernada peringatan.


"Walaah ternyata kakak iparku orang yang sangat cemburuan,kalo cuma itu syaratnya gampang"cengir Revan karena syaratnya mudah banget.


"Jangan khawatir kakak ipar,karena sebentar lagi aku akan berangkat ke Amerika untuk waktu yang lama juga.Makanya aku butuh trik trik itu sebelum pergi"Revan mengedipkan matanya kepada Yano dengan genit,membuat dia merindinding dengan perubahan Revan yang beberapa waktu lalu selalu menatapnga dengan permusuhan namun berbanding terbalik saat sekarang,seperti seorang anak kecil yang merayu untuk mendapatkan sesuatu.


"Ngapain kamu ke Amerika?"


"Wanitaku ada disana,aku juga mau menghadiri acara pernikahan dari rekan kerjaku Oscar Mark"tuturnya tak sabar ingin bertemu Jesika disana.


"Ooh baguslah,semoga kamu nggak bakal balik lagi kesini"Yano tersenyum samar karena tadinya dia berpikir Revan menyukai Moza tapi dia sudah punya kekasih.


"Doakan saja aku bisa membawa wanitaku kesini untuk bertemu dengan kakak ipar"lagi-lagi Revan mengulang menyebut Yano sebagai kakak ipar membuatnya merasa gelu dengan panggilan pria yang kini berstatus adik iparnya itu.


"Apa wanita itu adalah Jesika?"tebak Yano menerka karena sesuai dengan informasi dari anak buahnya kalo Revan dan Jesika pernah menjalin hubungan spesial walau kandas ditengah jalan.


"Iya wanita itu adalah Jesika,kami pernah menjalin hubungan namun sudah pu.._"


"Aku sudah tahu tentang kalian"celah Yano


"Tapi aku mohon sama kakak ipar kalo aku pergi ke Amerika,tolong jaga ayah sama Moza dan keponakanku"Revan sebenarnya tak mau meninggalkan ayahnya yang masih sakit,namun karena situasi sudah mendukung dengan adanya Yano.Jadi dia bisa pergi dengan leluasa,selain pengawal Yano yang banyak pria itu juga punya koneksi yang luas soal keamanan keluarganya.


"Kamu nggak usah khawatir,tak perlu kamu suruh sudah pasti aku lakukan"Yano menepuk bahu Revan yang tiba-tiba murung.


"Hanya mereka keluarga yang aku punya"


"Nggak usah cengeng,mending kamu cepat ke Amerika sebelum semuanya terlambat"selepas mengatakan itu Yano melenggang pergi dari sana,menyisakan Revan yang meresapi perkataan Yano barusan.

__ADS_1


__ADS_2