
Setelah perdebatan kecil dengan Moza,Yano masuk kedalam kamarnya,begitupula dengan Moza dia diantar oleh seorang pelayan yang diperintahkan oleh Yano,untuk membawanya kekamar yang dia tempati saat diculik.Moza memasuki kamar itu dengan balutan baju kebaya pernikahannya.Dia memandang ruangan itu dengan sendu,bila pernikahan bagi semua orang mendatangkan kebahagiaan tapi tidak dengan dirinya yang akan menerima penderitaan.
Moza duduk disandaran tempat tidurnya,dirinya menangis terisak-isak,mengapa dihari pernikahannya dia dengan suaminya pisah ranjang.Moza akui pernikahan ini bukan atas dasar cinta,dan sudah jelas sekali didalam dokumen kemarin yg dia tandatangani.Akan tetapi Moza berharap dihari pernikahannya,Yano bersikap manis dengannya.Tapi ekpspetasinya terlalu tinggi,kini Moza hanya menangis tanpa mau beranjak dari tempatnya.
"Ma,pa Moza takut sendirian hadapi semua ini"monolog Moza mengingat hari hari yang akan dia jalani kedepannya.
"Apa aku bisa luluhin hati pria kejam itu ma,pa?"tanyanya.
Disaat Moza bermonolog sendiri Yano masuk tanpa mengetuk pintu,Moza terkejut dengan kedatangan pria yang sudah memakai pakaian formal dan tak mengenakan baju pengantin lagi.
"Kamu mau pake baju itu terus hah"tanyanya melihat Moza yang terdiam dan masih mengusap matanya pelan.
"Emm anu aku akan ganti kok"jawab Moza berdiri dan melangkah kelemari pakaian,tapi tangannya dicekal erat oleh Yano.
"Yan lepasin,sakit tahu"Moza mencoba melepaskan,tapi Yano malah memperkuat cengkramannya.
"Jangan kamu pikir,dengan kita menikah kamu jadi nyonya dirumah ini,ingat satu hal kamu itu sebatas babu"Yano mengingatkan Moza dan menatapnya dengan tajam,mendengar hinaan dari Yano tentu saja membuat hatinya terbakar.Matanya memanas tapi Moza menahannya,agar dia bisa menunjukkan bahwa dirinya bukan wanita lemah.
"Saya ingat itu tuan Yano Dewantara,dan saya memang tahu diri akan posisi saya"kata Moza menatap Yano dengan tajam,dan menghempaskan tangannya Yano dengan kuat.
Lalu Moza melangkah untuk mengambil baju dilemari,tiba-tiba Yano menarik tangannya dan menghempaskannya kekasur.
"Berani sekali kau melawan hah,udah merasa hebat ya sekarang.Ternyata air mata kamu itu hanya bualan saja"Yano mendekat dan lagi lagi mencengkram dagu Moza dengan lebih kuat.
"Memang salah bila aku melawan hah,apa salahku Yan sampai kamu tega lakuin hal ini hah"teriak Moza memberontak untuk meminta Yano melepaskannya.
"Kamu mau tahu apa alasannya hah?"tanya Yano tak kalah lantang,sehingga refleks Moza menutupi telingannya.
"Kamu nggak mau dengarkan"sangka Yano tertawa sinis,Moza melepaskan tangannya dari kupingnya karena Yano mengira dirinya tak mau mendengarnya,padahal karena suaranya yang buat gendang telinga pecah.
"Enggak Yan,maksudnya aku mau dengar"bujuk Moza dengan mulutnya yang dipaksakan untuk bicara,karena masih dicengkram oleh Yano.Melihat tingkah Moza yang seperti itu,malah membuat fokus Yano teralihkan kebibir mungilnya yang begitu imut.Ingin rasany dia melahap habis habisan bibir itu,tapi dia tak mau rencananya gagal.Muka Yano jadi memerah menahan keinginannya untuk mencium gadis didepannya.
"Yan sadar Yan,iblis keluarlah engkau dariku"rutuk Yano menyadarkan dirinya,dia melepaskan cengkramannya dan mengacak rambutnya frustasi,setelah itu keluar tanpa sepatah katapun.
"Itu manusia mau nya apa sih?"heran Moza mengelus dagunya yang sangat sakit.Moza memilih mengganti baju pengantinnya dan menggunakan sebuah kimono,dia membersihkan sisa make up nya dimeja rias.Tak disangka-sangka pintu kamar Moza tidak dikunci,Yano dengan sembrononya masuk tanpa mengetuk.
"Auwwwww"teriak Moza berlari mengambil selimut dan berdiri dipojok kamar dengan menyelimuti dirinya,hal itu membuat Yano salah tingkah melihat Moza yang hanya mengenakan kimono saja.Dia mondar mandir melirik lirik Moza.
"Bisa nggak sih kamu ngetuk pintu dulu,eeh ralat bisa nggak sih tuan mengetuk pintu dulu."kesal Moza dengan wajah cemberut,Yano yang mencuri pandang kearah Moza malah emosi mendengar Moza memanggilnya dengan sebutan tuan.Dia mendekat ke Moza,sehingga Moza pun mencari tempat aman untuk menghindari Yano,tapi tak ada celah hanya dinding lah sandaran terakhirnya.Yano mengurung Moza dipojokan,sehingga gadis itu tak bisa lolos,dia mengeratkan selimut yang dia pakai
__ADS_1
"Aku tegaskan sekali lagi,jjka kau masih memanggilku dengan sebutan tuan,aku pastikan nih mulut nggak bakalan bersuara lagi"ancam Yano menunjuk bibir Moza sekejap,hal itu membuat bulu kuduk Moza naik.
"Tua..eh maksudnya Yano mau dipanggil apa?"tanya Moza menatap Yano yang tinggi sehingga Moza harus mendongak,tatapan keduanya bertemu,lama keduanya menatap tak ada suara.
"Kamu mau dipanggil apa hayyo"ucap Moza dengan sedikit imut dengan puppy eyes,dia sengaja melakukan itu sebagai awal untuk menggoyahkan Yano,tapi yang ditanya malah menatap Moza dengan tatapan kosong.
"Atau mau dipanggil sayang?"Moza memberanikan dirinya mengalungkan tangannya dileher Yano,walaupun dalam hatinya dia takut Yano marah karena dirinya bersikap lancang.Tapi demi misinya dia akan terima resikonya,Yano hanya terdiam tanpa melawan,dan detik berikutnya Moza terpental kelantai karena didorong Yano dengan keras.
"Jangan pernah kau sentuh sentuh aku dengan tangan kotormu."ejek Yano semakin membuat Moza terluka,tapi Moza tak mau menjawab dia mencoba berdiri tapi kembali didorong Yano.
"Dan ingat satu hal,jangan pernah bermimpi aku bisa mencintaimu lagi"ingat Yano berlalu pergi meninggalkan Moza yang masih terduduk dilantai.
"Aku akan pegang kata-katamu Yano Dewantara."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang berganti malam dan malam pun berganti pagi,sudah satu hari Moza menjadi istri dari Yano Dewantara.Dan disinilah disebuah kamar,sinar matahari menembus masuk kedalam,tapi tak sanggup membangunkan gadis yang tengah terlelap ini.Gadia itu adalah Moza dia masih nyaman dibawah selimut,hingga tak menyadari sedari tadi Yano menunggu dirinya keluar dari kamar.
Dan saat ini Yano berada di meja makan,dia sudah berpakaian lengkap dengan stelan jasnya.
"Bi Moza belum keluar dari tadi hah?"tanya Yano menatap tangga,tapi tak ada batang hidungnya Moza.
"Belum tuan muda,kayaknya nyonya muda belum bangun"jawab asisten yang sedang menata makanan.
"Hebat kamu ya,bangun kesiangan seperti nyonya besar saja"sindir Yano melipat dua tangannya sambil menatap Moza yang ingin tidur kembali,tapi terhenti karena baru menyadari kehadiran Yano.
"Eumm sejak kapan mas disini?"tanya Moza dengan gamblang menyebut Yano dengan sebutan mas,sedang yang ditanya hanya datar saja,padahal dalam hati Yano merasa geli dipanggil mas sama Moza.Tapi mau di apa dia sendiri nggak mau dipanggil tuan.
"Secepatnya kamu bersihkan air liurmu,dan bersihkan beling-beling ini"perintah Yano membuat Moza melap mulutnya tapi tidak apa-apa,dan dia juga mendongak kelantai melihat beling beling yang tercecer.
"Ini kenapa bisa pecah mas?"tanya Moza turun dari kasurnya,dan sok-sokaan mau memungut pecahan gelas itu,tak sengaja dirinya menginjak pecahan gelas itu,darah segar mengalir begitu saja hingga membuat Moza menahan sakit saja karena nantinya dia pasti dikatain lebay lagi sama Yano.
Yano yang diam hanya memperhatikan,melihat darah segar yang menempel dilantai,ekor matanya menangkap kaki Moza yang berdarah.
"Dasar ceroboh,baru begitu saja nggak becus banget kamu."Ucap Yano meninggalkan Moza begitu saja,walaupun dalam hati nya merasa khawatir,tapi egonya lebih tinggi sehingga dia terlihat datar saja.
"Auwww sakit banget,mana nggak ada obat lagi disini"ringis Moza setelah Yano keluar dari kamarnya,tadinya dia pikir Yano akan membantunya tapi pria itu malah acuh tak acuh dengannya.Darahnya semakin banyak keluar,Moza mencoba untuk berdiri untuk mencari sesuatu untuk menghentikan darahnya,untungnya seorang pelayan terburu-buru masuk dengan kotak P3K nya.
"Astaga nyonya"teriak pelayan itu melihat darah yang tercecer sana sini dilantai,dia kemudian membantu Moza bersandar didinding.Dan dengan telaten dia membersihkan lukanya Moza.
__ADS_1
"Aduh nyonya muda kenapa sampai terluka begini sih,?"tanya pelayan yang bisa dipanggil siti itu dengan mimik muka cemas.
"Moza nggak apa apa kok bi,cuman kena beling aja"jelas Moza sambil menahan perih dikakinya yang masih diobati.
"Kan nyonya bisa manggil saya atau pelayan yang lain"saran Siti itu tapi Moza menggelengkan kepalanya.
"Ini sudah tugas Moza sebagai istri bi"ucap Moza tersenyum kecut.
Akhirnya darahnya berhenti,dan kaki Moza sudah diperban.Moza ingin berdiri dan membersihkan pecahan beling tadi tapi dilarang oleh Siti.
"Nyonya istirahat saja,biar saya yang bersihin nantinya"ucap Siti memapah Moza naik kekasur,tapi Moza tak mau dan Siti bersikeras untuk menyuruhnya istirahat.
"Nanti mas Yano marahin bibi lagi kalo bantuiin saya bi"takut Moza menatap pelayan itu.
"Soal itu,saya nggak ngaduhin ke tuan muda,ooh ya nyonya panggil saya siti aja"ucap Siti memberi kode aman,seraya memperkenalkan dirinya.
"Makasih ya bi,oohiya lupa maksudnya Siti.Kamu juga nggak usah manggil nyonya panggil saja Moza"jawab Moza menimpali.
"Tapi nyonya kan majikannya Siti"
"Kita ma sama saja Siti,lagian aku baru tamat SMA kok,harusnya aku panggil kak Siti aja karena beda jauhlah kita"
"Wooow Nyonya ternyata muda banget ya,tapi.."
Siti menggantung ucapannya takut Moza tersinggung.
"Tapi Yano nggak cinta sama saya gitu?"Moza menjawabnya,karena hal itulah yang nyatanya terjadi,Siti malah jadi nggak enak dengab Moza.
"Maafin Siti Nyonya muda,bukannya bermaksud menyinggung"Siti menunduk,karena pada dasarnya dia memang mengetahui seluk beluk pernikahan kedua majiakannya,dan mengetahui semua perlkuan kejamnya Yano.
"Moza bukan Nyonya"ralat Moza karena Siti masig canggung memanggil namanya.
"Bagaimana kalo non Moza aja"tawar Siti dengan ragu.
"Ya boleh juga"
"Kita berteman mulai sekarang"ucap Moza mengancungkan tangannya untuk bersalaman dengan Siti,hal itu diterima dengan baik oleh Siti.
"Ya kita berteman,dan Siti harap non Moza bisa meluluhkan hati tuan muda"Siti mencoba menyemangati Moza agar mampu mengahadapi Yano.
__ADS_1
"Saya harap juga begitu,tapi saya nggak terlau berekspetasi tinggi."lirih Moza
"Siti yakin non Moza pasti bisa"Siti menyemangati Moza,dan dibalas senyuman kecil dari Moza.