Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Kedatangan Agusto


__ADS_3

Setelah memakan waktu untuk menyuapi Moza,kini Yano harus berangkat kekantor.Anton sang asisten sudah lam menunggu tuannya yang tak kunjung muncul.


Akhirnya Yano pun terpaksa meninggalkan Moza sendiri,walaupun dalam hati dia ingin sekali terus menemani istrinya tapi pekerjaan kantor sudah menumpuk.


"Aku pergi kantor dulu,kamu jaga diri baik-baik dirumah,jangan lakukan pekerjaan yang dulu aku lakukan"pesan Yano mencium pucuk kepala Moza,lalu memeluk wanita itu dengan erat,sedang Moza hanya terpaku dengan perlakuan Yano,dia tidak bisa menolak karena masih terlalu terkejut.


"Heyy jagoan daddy,jagain mommy ya daddy kekantor dulu"Yano kini beralih keperut datar Moza,dan menciumnya dengan tulus,membuat Moza tersenyum tipis ada perasaan terharu melihat perhatian Yano dengan kandungannya.


"Mommy siapa mas?"Moza baru menyadari ucapan Yano barusan yang menyebut mommy,membuat Moza bingung.


"Emm,mommynya ini"tunjuk Yano dengan mencolek hidung Moza dengan gemas,saat Moza lengah dia mencuri ciuman singkat dibibir Moza.


"Aku pergi dulu sayang"Yano dengan cepat kabur,karena sudah mencium Moza tanpa ijin,sedang yang dicium,pipinya sudah kayak tomat merah.


"Mas Yano ternyata romantis juga"gumamnya tersenyum sendiri.


Sepeninggalan Yano,Moza hanya uring-uringan dikamar,karena merasa bosan dia beranjak menuju balkon kamarnya,dan menghirup udara hang segar,memejamkan matanya mengingat semua perjalanan hidupnya dari awal diculik,dipaksa menikah,jadi istri tak dianggap,berpisah dengan orangtuanya,hingga suaminya menjadi berubah.


"Kira-kira Mama sama papa dimana ya,"wajah Moza berubah jadi murung,mengingat kedua orangtuanya yang tak tahu dimana rimbanya.Akibat terlalu asik diromantisiin Yano,dia jadi lupa bertanya tentang keberadaan orangtuanya.


Suara sebuah mobil hitam yang memasuki gerbang,membuyarkan lamunan Moza.Dia menatap dari balkon siapa yang datang pagi pagi begini.


"Itu kan Om Agusto"dia melihat seorang lelaki paruh baya,yang keluar dari mobil itu dengan beberapa pengawalnya.


"Apa dia mau bertemu Yano lagi,atau si tanta rempong itu"pikir Moza berkecamuk.


Sementara itu Agusto melangkah tergesa-gesa kedalam rumah Yano,dari wajahnya dia terlihat antusias.


"Dimana orang dirumah ini?"tanyanya kepada salah satu pengawal diruang tamu.


"Kalo tuan muda sudah berangkat kerja tuan,dan nona Moza_"


"Saya tidak tanya gadis itu,dimana Jesika"sela Agusto dan duduk bersila di sebuah sofa dengan datar.


"Emm nona Jesika beberapa hari ini tidak ada dirumah tuan"jawab pengawal itu kembali.

__ADS_1


"Apa?,nggak dirumah?"Agusto menggebrak meja didepannya,dan mendekat kepangawal itu.


"Iye tuan"pengawal itu menunduk ketakutan.


"Kalian memang nggak becus hah,dan sekarang kalian malah diam saja saat dia menghilang hah"Agusto meninju perut pengawal itu untuk melampiaskan amarahnya,hingga suasana menjadi mencengkam.


"Apa ini ulah bocah itu"dia tersenyum sinis,dan melirik kepengawalnya.


Siti yang berada didapur mendengar teriakan dari Agusto,langsung berinisiatif mengintip apa yang sedang terjadi.Dia menutup mulut melihat bagaimana aura dingin dari Agusto,apalagi mendengar dia sedang mencari Jesika.


"Ini nggak salah lagi,dokter Jaya salah nyulik"Siti menepuk jidatnya,karena akibat rencananya yang gagal dengan dokter Jaya,hingga membuat Agusto mengamuk.


"Aku harus menelpon dokter Jaya"Siti merogoh sakunya mengeluarkan ponselnya.


"Cari gadis muda itu,dan bawa dia bersama kita!"perintah Agusto lantang kepada pengawalnya,dan didengar oleh Siti sehingga dia pun tak jadi menghubungi Jaya.


Tak ingin Moza didapat duluan oleh pengawal Agusto,Siti dengan gerak cepat berlari menuju kamar Moza untuk segera bersembunyi sebelum didapat duluan oleh Agusto.


Moza yang masih penasaran dengan kedatangan Agusto,tersentak dengan Siti yang muncul dengan panik dan napas memburu.


"Non sebaiknya jangan tanya dulu,sekarang nona harus sembunyi,Tuan Agusto ingin menculik nona"Siti melirik keluar dengan gelisah takut ketawan sama mereka.


"Hah nyulik saya,terus bi saya harus gimana?"Moza jadi ikutan panik,apalagi dia sedang mengandung.


"Sekarang nona ikut saya"Siti menggandeng Moza,dan membawanya kekamar Yano,untungnya ada kunci cadangan di Siti yang sering dititipkan oleh Yano bila pergi kantor.


"Bi kok kekamar Yano?"


"Ini tempat aman non,ada ruangan didalam sini,jadi nona tenang-tenang aja disini,nona kunci dari dalam aja"Siti menuntun Moza kesebuah ruangan dibelakang lemari Yano,kemudian dia menyerahkan kunci kamar Yano keMoza,dan bergegas keluar.


Moza pun kembali mengunci pintunya kembali,lalu menuju ke sebuah ruangan yang ditunjuk Siti tadi.


Sementara para pengawal hilir mudik menyusuri setiap ruangan dilantai bawah,setelah itu baru cari di kamar atas tepatnya lantai dua,untung saja Siti bergerak cepat,kalo tidak bisa ketahuan sama mereka.


Beberapa pengawal mendobrak pintu kamar Moza,dan menyusuri seluruh isi ruangan tapi tidak ada orangnya,kini sisa kamar Yano yang belum diperiksa.

__ADS_1


Kedua pengawal yang ingin memeriksa kamar Yano,merasa enggan karena merasa segan.


"Apa kita harus memeriksa kamar tuan muda?"tanya salah seorang kepada temannya.


"Kamu aja deh yang dobrak"


"Kamu aja deh,saya nggak berani"


"Nanti kita dimarahi oleh tuan besar"keluh pengawal yang satunya.


"Katakan saja kita sudah periksa semuanya,tapi nggak ketemu"


"Betul juga ya,lagian itu perempuan nggak mungkin sembunyi dikamar tuan muda"pikir temannya dan mereka pun bergegas kembali kebawah menemui Agusto,yang tampak dingin dengan aura suram.


"Bagaimana,apa sudah ketemu?"tanya Agusto melihat satu persatu anak buahnya kembali berkumpul.


"Maaf bos,gadis itu tidak ada dikamarnya"sahut salah seorang pengawal atau anak buah Agusto.


"Iya tuan besar,kami sudah memeriksa seluruh ruangan dan juga semua isinya,tapi tidak ada"tambah seorang yang lain lagi.


Brakkk


Agusto melempar vas bunga diatas meja,hingga pecah berserakan dilantai.Semua anak buahnya menunduk tak mau bersuara.


Begitupula penjaga dirumah Yano tak berkutik,karena takut berhadapan dengan Agusto.


"Sialan dimana dia sembunyikan wanita itu"Agusto mengepalkan tangannya,raut wajahnya tampak menyimpan amarah yang berkobar.


Untung saja Agusto tak memperpanjang urusannya,dia langsung pergi dengan memendam amarah yang besar.Karena harus menemukan Jesika yang hilang entah kemana.


Melihat kepergian Agusto,Siti yang sedari tadi bersembunyi dibawah tangga,keluar dengan bernapas lega,karena Moza bisa aman dari Agusto.


"Syukurlah pria tua itu sudah pergi"Siti mendelik kesal,dia memang tidak suka dengan Agusto sejak bekerja dirumah Yano.Karena dia terkadang mengendalikan semua kehidupan Yano,termasuk membenci Moza.


"Apa aku harus beritahu non Moza kalo tuan Agusto sudah pergi"

__ADS_1


"Ahh tidak-tidak,ini moment yang bagus kalo tuan muda dan nona muda bisa tidur sekamar"monolog Siti sambil memikirkan bagaimana reaksi Yano mendapati Moza berada dikamarnya,tentunya dia memanfaatkan situasi agar Moza mau menetap di kamar Yano,untuk menjamin keselamatannya.


__ADS_2