Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Jesika pingsan


__ADS_3

Dikediaman Revan..


Pria itu sejak tadi sudah berada dikantor,pagi pagi buta dia sudah berangkat kekantor.Banyak hal yang dia urus setelah meninggalkan pekerjaannya kemarin untuk menjemput Jesika di Amerika.Kini dia disibukkan dengan segala urusan proyek yang terbengkalai.


"Untung saja pekerjaanku menumpuk,kalo tidak mana bisa aku menjalani hukuman ini dengan tenang"pikir Revan disela pekerjaannya,dia tak keberatan dengan banyaknya pekerjaan,karena dengan itu dia bisa mengalihkan pikirannya dari Jesika selama satu minggu kedepan.


"Aku haru menahan diri,tahan Van satu minggu doang"


Jika Revan sibuk dengan pekerjaannya dikantor,dikediaman Yano nampak ada kegaduhan kecil karena Jesika pingsan.


Tadi pagi Moza disuruh untuk melihat kondisi wanita itu,karena sejak semalamam Jesika tak kunjung sadar karena pengaruh obat bius.Akan tetapi Moza terkejut mendapati Jesika tersungkur didepan pintu,saat dia membuka pintu kamar nya dari luar.


"Mas!,mas Yano!"teriak Moza menggema membuat Yano yang hendak masuk kamar mandi,langsung turun kebawah mengarah kesuara istrinya.


"Ada apa sayang?"tanya Yano dengan panik,tanpa sadar dia berlari dengan bertelanjang dada hanya berbalut handuk dipingganganya.


"Jesika pingsan mas!"teriak Moza memangku kepal Jesika,,lalu Yano juga ikut terkejut dengan kondisi Jesika dapat dia lihat wanita itu terlihat pucat.Dia memerintahkan pengawalnya untuk mengangkat Jesika dan dia segera menghubungi dokter.


"Mas kenapa kondisi nya sampai begini?"Moza nampak panik dengan Jesika yang pingsan.


"Kamu tenang dulu,mungkin kondisinya lemah karena obat bius"


"Obat bius?,jadi ini ulah kamu mas?"tuduh Moza melototi Yano


"Bukan begitu sayang,ini bagian dari rencana kami.Kalo tidak begitu mana mungkin kami bisa nolongin Jesika"ucap Yano menepis rasa curiga Moza,setelah mengatakan itu Moza pun percaya kalo suaminya itu takan mungkin membahayakan nyawa Jesika.


Karena tadi malam Yano sudah menceritakan semua rentetan kronologi mengapa Jesika sampai ada dirumah mereka.Serta maksud utama Yano keAmerika juga,awalnya Yano hanya mengatakan dia akan menghadiri pernikahan dari sahabatnya,ternyata dia ingin menolong Jesika yang terjebak oleh perbuatan orangtuanya.


Sehingga Moza ikut prihatin dengan kisah Jesika,walau dulu Jesika pernah jahat kepadanya namun sesama wanita dia tahu banget bagaimana perjuangan Jesika selama ini.Setelah Yano memberitahu bahwa Jesika hanya sebagai umpan dari orangtuanya untuk memenuhi keinginan mereka,termasuk memaksa Jesika untuk merusak rumah tangganya dengan Yano karena Agusto menekan orangtuanya yang sudah berhutang banyak kepada ayah angkat dari suaminya Yano.


"Kasihan banget Jesika,dia harus menanggung beban yang banyak"Moza menatap sendu wanita yang masih berbaring sambil menutup mata,dia kagum kepada Jesika ternyata sifat Jesika yang dia kenal dulu bukanlah sifat aslinya.Ternyata dia adalah wanita tangguh,Moza lebih tercenngang dengan cerita Yano bahwa Jesika sudah punya anak dan dia berjuang merawat ankanya seorang diri saja.

__ADS_1


"Iya sayang aku juga kagum dengannya bisa mengambil resiko untuk menanggung masalah orangtuanya"jawab Yano merangkul Moza.


"Mas aku kok merasa ada yang aneh sama kamu?"


"Aneh kenapa sayang"


Moza menatap Yano mulai dari mukanya hingga ujung kaki,dia terkejut ternyata suaminya tak memakai baju hanya berbalut kan handuk dipinggangnya.


"Mas kenapa kamu nggak pake baju sih"ringis Moza dengan panik,sungguh dirinya tak rela roti sobek milik suaminya dilihat oleh para pelayan.


"Ohh astaga aku lupa sayang,karena kamu teriak memanggil aku"Yano menutupi dadanya dengan kedua tangannya,untung tidak ada pelayan wanita disitu,kalo tidak bisa panjang urusannya dengan istrinya.


Moza pun mencari sesuatu untuk menutupi tubub Yano,dia mendapati sebuah jas disofa lalu memakaikannya kepada Yano.


"Cepat kamu ganti baju,biar aku yang nungguin dokter untuk memeriksa Jesika"usir Moza dengab tampang galak,memang akhir akhir ini dia begitu sensitif pada Yano.Suka cemburuan nggak jelas,suka marah marah nggak jelas sama Yano dan ujung-ujungnya dia sendiri yang manja manja dengan Yano.


Yano pun memilih pergi kekamar sebelum Moza memulai pertengkaran yang tak masuk akal lagi.


"Apa kabar dok,sudah lama nggak bertemu"sapa Moza menyambut Jaya yang sudah diambang pintu


"Kabar baik Za,oohya siapa yang sakit Rein?,atau Yano?"tebak Jaya memasuki kamar itu,karena terakhir kali dia kerumah Yano karena Rein demam.


"Bukan dok,dia yang sakit"tunjuk Moza kepada Jesika yang terbaring diatas ranjang,membuat Jaya melongo sepertinya dia mengenali wanita itu.


"Jesika?"


"Dokter kenal sama dia?"


"Iyaa dulu dia pernah kerumah sakit tempatku bekerja,hanya kebetulan bertemu saja"bohong Jaya karena tidak mungkin dia jujur kalo sebenarnya dia kenal Jesika,apalagi dia yang sudah bersekongkol dengan Revan untuk menculij Jesika dari rumah Yano.Target awalnya adalah Moza malah yang diculik Jesika.


"Ooh begitu ya dok"Moza percaya saja,kemudian mempersilahkan untuk memeriksa Jesika.

__ADS_1


"Ngomong ngomong dia tinggal disini?"tanya Jaya basa basi sambil memeriksa Jesika,karena seingatnya dulu Jesika tinggal dirumah Revan,lalu dia pergi ke Amerika yang membuat hari hari Revan hampa.Jaya tahu hal itu karena dulu dia selalu menemani Revan yang galau memikirkan Jesika yang hilang kabar,semenjak saat itu juga dia jarang bertemu dengan Revan karen kesibukan dirumah sakit.


"Dia baru datang dari Amerika tadi malam,kebetulan dia lagi sakit jadi Yano membawanya kesini"alibi Moza karena tak tahu harus menjelaskannya,karena baginya Jaya juga nggak perlu tahu tentang Jesika.


Beberapa menit kemudian,Jaya sudah selesai memeriksa Jesika.


"Bagaimana dok keadaannya?"tanya Moza harap harap cemas.


"Dia mengalami efek samping obat,jadi kondisinya masih lemah dan butuh nutrisi yang cukup"


Moza bernapas lega dengan penjelasan Jaya,karena tidak ada yang serius dengan sakitnya Jesika.Walau bagaimanapun ini ulah suaminya yang sudah memberi obat bius kepada Jesika,jadi Moza khawatir kalo terjadi apa apa dengan Jesika,meskipun niat Yano juga baik yaitu untuk menolong Jesika.


"Oohya Moza,tolong ambilkan Vitamin dalam tas obat saya dimeja"pinta Jaya dan diangguki oleh Moza,namun baru saja Moza membuka kotak obatnya bau dari obat itu menyeruak kehidungnya membuatnya mual mual


"Huekkk huekkkk"dengan setengah berlari Moza pergi kewastafel,menumpahkan isi perutnya yang tiba-tiba ingin keluar.


"Moza kamu baik-baik saja?"Jaya berniat membantu memijit punggung Moza,namun sudah duluan tangan seseorang yang menepis tangannya.


"Sayang kamu baik baik saja hah?"ternyata itu Yano yang sudah lengkap dengan baiu kantornya,dia ingin melihat kondisi Jesika namun dia mendapati Jaya yang hendak memijit punggung istrinya.


"Aku nggak apa apa kok mas"jawab Moza dengan lemah,karena rasa mual yang tiba tiba menyerangnya.


"Maaf Yan aku tidak bermaksud untuk berbuat lancang"Jaya merasa tak enak dengan kedatangan Yano saat dirinya ingin menbantu Moza yang sedang mual.


"Nggak usah pikirin,aku juva panik lihat dia mual mual,kalo begitu Jay sekalian kamu periksa kondisi Moza"pinta Yano memapah Moza untuk duduk.


"Mas nggak usah repot repot deh,aku baik baik saja kok"tolak Moza akan tetapi baru saja dia duduk rasa mual kembali lagi dan dia berlasi menuju wastafel lagi.


"Sayang kamu nggak usah keras kepala,kondisi kamu nggak baik baik saja"cemas Yano melihat Moza bersusah payah memuntahkan isi perutnya.


Setelah dirasa enakan,Moza ingin duduk melihat kondisi Jesika namun Yano langsung menggendongnya dan membawanya kekamar.Lalu menyuruh Jaya mengikuti mereka untuk memeriksa keadaan Moza.

__ADS_1


__ADS_2