Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Ibu Ayuning


__ADS_3

"Kenapa ibu sampai tahu rumah saya?"tanya Yano ramah setelah duduk disofa ruang tamu bersama wanita paruh baya itu,yang tengah memandangi seisi rumahnya.


"Ehhh sebetulnya saya pernah lewat disini,dan pernah melihat kamu memasuki rumah ini,makanya ibu tahu"jelasnya dengan sedikit ragu-ragu.


"Ooh begitu,ngomong-ngomong nama ibu siapa?"Yano merasa nyaman dan dekat saat kembali bertemu dengan wanita paruh baya itu.


"Kamu bisa panggil saya ibu Ayuning nak,kalo nama kamu siapa ya?"ibu itu menatap sendu Yano,ada sebuah tatapan kerinduan yang bisa Yano baca.


"Nama saya Yano Dewantara bu,ibu bisa panggil Yano saja"ucap Yano tersenyum ramah,tapi agak sedikit bingung dengan tatapan wanita paruh baya yang bernama Ayuning itu.


"Ibu mau bicara sesuatu sama kamu nak Yano,tapi tidak disini"ucap ibu Ayuning dengan serius.


"Mau bicara apa ya bu?"bingung Yano melihat ada raut gelisah diwajah ibu Ayuning.


"Ini soal keselamatan kamu nak,tolong beri ibu waktu untuk bicara sama kamu"mohon ibu Ayuning kepada Yano,membuat dia mengiyakan hal tersebut,dan mengajak ibu Ayuning keruang kerjanya.


Setelah Yano mengunci pintu ruang kerjanya,dia mempersilahkan ibu Ayuning duduk,dan kini keduanya saling berhadapan.


"Apa yang ingin ibu bicarakan?"Yano melipat kedua tangannya menunggu wanita paruh baya itu bersuara.


"Sebenarnya ibu takut dan khawatir menceritakannya nak,tapi kamu harus tahu sebelum kamu melangkah lebih jauh"jelasnya dengan mengatur napasnya untuk melanjutkan ucapannya.


"Maksud ibu?"tanya Yano tak mengerti.


"Ayahmu Agusto hanya memperalat kamu untuk mencapai tujuannya,dan satu hal yang harus kamu ingat nak ibumu masih hidup."Jelasnya lagi dengan penuh penekanan,tanpa sadar air matanya meluruh begitu saja,mendengar hal itu membuat Yano terperangah,apakah betul apa yang dikatakan wanita yang tengah ada dihadapannya?.Apakah dia mengenal Agusto?,mungkin itulah seputar pertanyaan yang tengah hinggap dikepala Yano.


"Darimana ibu tahu ayah saya?"Yano ingin menggal8 informasi dari ibu Ayuning,agar bisa mendapat jawaban dengan pertanyaan yang ada dibenaknya.


"Kamu tidak perlu tahu,yang pasti dia berbahaya buat kamu,dan juga istri kamu"lagi-lagi Yano terkejut dengan wanita yang mengetahui dirinya sudah menikah.


"Kamu harus melindungi wanitamu,jangan lakukan apa yang Agusto katakan!"ingatnya dengan menggenggam tangan Yano.


"Tapi darimana ibu tahu semua itu?"tanya Yano kembali dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Akan ada waktunya nanti kamu tahu,kamu harus janji untuk melindungi istrimu dan juga kamu sendiri dari Agusto"ibu Ayuning mengeratkan genggaman tangannya dengan Yano,dengan tangisan yang terisak,membuat Yano tak tega melihatnya,dan entah dorongan darimana dia beranjak dari duduknya dan memeluk ibu Ayuning.


Ibu Ayuning juga merasa terkejut dengan pelukan Yano yang tiba-tiba,tapi itu hanya sesaat karena sesungguhnya hati sangat bahagia sekaligus terharu dengan moment ini.


"Andaikan kamu tahu nak,aku ini ibu kamu"lirihnya dalam hati,membalas pelukan Yano dengan erat,menumpahkan rasa rindu yang selama ini dia pendam.


"Saya rindu dengan ibu saya,jikalau dia masih hidup apa ibu tahu dimana dia?"Yano melonggarkan pelukannya menatap ibu Ayuning dengan intens.


"Emm ibu nggak tahu nak Yano"bohongnya.


Membuat Yano nampak kecewa dengan mata yang sudah berkaca-kaca,dan pecahlah tangisnya sehingga membuat ibu Ayuning pun ikut bersedih melihat putra semata wayanganya itu.


Dia kemudian merangkul Yano kedalam pelukannya,memberikan ketenangan lewat pelukan.


"Apa kamu tidak akan membenci ibu,jika kamu tahu kalo saya adalah ibu kandungmu"monolog ibu Ayuning dalam hatinya,mengingat dirinya yang sudah berbohong kepada Yano.


"Kamu harus janji untuk waspada dengan Agusto nak!"ingatnya sekali lagi,setelah itu dia memutuskan untuk pulang,dan Yano meminta pengawalnya untuk mengantar ibu Ayuning,tapi dia menolak,mau tak mau Yano membiarkannya pergi begitu saja.


Setelah mengantar Ibu Ayuning kedepan,Yano memutuskan untuk masuk kekamarnya untuk membersihkan diri,ada hal yang harus dia selidiki.


"Kamu mau kemana?"tanyanya kepada Moza yang membuang muka,dan ingin menghindarinya.


"Bukan urusanmu"ketus Moza melangkah lagi.


"Itu semua sudah menjadi urusanku mulai hari ini"tegas Yano menahan tangan Moza,tapi gadis itu menepis nya dengan cepat,rasa takut dan kecewanya masih belum menghilang.Dia berjalan dengan langkah tertatih,membuat Yano menatapnya dengan rasa bersalah.Dia ingin membantunya,tapi gadis itu pasti takut disentuhnya.


"Hufttt"Yano hanya bisa menghela napasnya menatap punggung wanita yang berubah sembilan puluh derajat kepadanya.Setelah kejadian kemarin Moza berubah dingin dan acuh ketika bertemu dengannya.


Didapur..


Siti sedang asik memasak,sambil bersenandung ria,sampai tak menyadari Moza yang melihat kekonyolannya itu.


"Bibi lagi ngapain?"tegur Moza sontak membuat Siti berbalik badan,dia menatap Moza dengan rasa terkejut.

__ADS_1


"Nona kok bisa ada disini?"tanyanya mengerutkan keningnya,


"Aku mau ambil minum lah bibi,kenapa sih bibi kayak bingung gitu"Moza memilih melanjutkan acara mengambil minumannya.


"Non bibi serius nih,kenapa non Moza bisa sampai kembali kerumah hah"kini Siti menarik Moza untuk duduk,menyelidiki mengapa Moza yang sudah dibawa pergi oleh Jaya bisa ada dirumah lagi.


"Bibi ngawur deh,Moza nggak kemana-mana,semalam Moza dikamar aja"bohongnya sambil menutupi kesedihan yang menderanya setelah kejadian kemarin,dia tak ingin orang lain tahu hal itu,biar ini menjadi rahasianya dengan Yano.


"Tapi semalam non diculik loh"ceplos Siti,dengan reflek menutup mulutnya.Membuat Moza merasa aneh dengan sikap Siti.


"Maksud bibi?"tanya Moza dengan kening berkerut.


"Emm maksud bibi,tadi malam tuh bibi mimpi nona Moza diculik"alibi Siti menghindari rasa curiga dari nona mudanya.


"Ahh bi Siti ngaawur banget deh."Moza memilih pergi dari dapur,ingin beristirahat kembali,dengan langkah yangs sedikit tidak nyaman.


"Non Moza baik-baik saja?"tanya Siti melihat cara jalan Moza yang sedikit aneh,dengan cepat Moza menganggukan kepalanya sebagai tanda dia baik-baik saja.


"Saya baik-baik saja,kamu nggak usah khawatir"ucapnya dan terus berjalan.


Diapartemen Revan,terjadi keributan besar karena Revan dan Jaya yang masih molor akibat mabuk-mabukan semalam,tak menyadari Jesika yang sudah sadar dari pingsannya.


"Eummm,wanita itu menggeliat mengerjabkan matanya perlahan,menatap sekelilingnya,sebuah kamar yang nampak tak asing baginya.


"Gue dimana ya?"pikirnya menatap kamar itu,dan mencoba mengingatnya.


Detik berikutnya.....


"Whattttt"teriaknya meloncat dari kasur,hingga kakinya terbentur lantai.


"Auwww"ringis nya lagi.


Jesika mencoba bangun lagi dan mencubit pipinya,berharap ini hanya sebuah mimpi.Tapi dia juga meringis kesakitan,yang artinya hal itu nyata.

__ADS_1


"Kok gue bisa ada diapartemen Revan"monolognya dalam diam.


__ADS_2