
Moza beranjak dari meja makan dan menuju kamarnya,begitupun Yano mengikuti istrinya menaiki tangga,sampailah keduanya di kamar.
"Mas aku pengen makan lagi deh"ucap Moza mengusap perutnya yang sudah nampak membuncit.
"Hah nggak salah yank,kamu sudah habisin tiga piring masa belum kenyang"ujat Yano dengan terkejut,karena barusan Moza sudah tambah sebanyak 2 kali bahkan Yano yang malah merasa lapar karena dari tadi sibuk menyuapi Moza saja.
"Maksud kamu aku rakus hah"Moza menatap tajam ke arah suaminya.
"Bukan gitu maksudku yank,terus kamu mau makan apa"bujuk Yano takut bumil itu merajuk.
"Aku mau makan bubur ayam"rengek Moza.
"Ok aku akan suruh pengawal dulu"Yano meraih ponselnya tapi Moza menahan lengannya.
"Aku tidak mau dipesan,aku mau makan ditempatnya"mohon Moza dengan harapan Yano akan mengabulkannya.
"Sayang mending makan dirumah aja,nanti diluar banyak polusi pasti tempatnya rame lagi,aku nggak mau kamu sampai nggak nyaman lagi"jelas Yano memberi pengertian.
"Tapi aku mau makan diluar,aku juga bosan dikurung dirumah terus"Moza menghempaskan tangan Yano,dan berjalan keranjang,berbaring dan meringkuk.
"Tapi yank ini untuk kebaikan kamu"Yano membujuk Moza dan mengelus punggungnya.
"Tapi kan ini kemauan anak kamu,emang aku pernah minta lain-lain hah"Moza mulai naik pitam.
"Tapi yank ___"
"Ya udah kalo nggak mau,biarin anak kamu ileran karena nggak dipenuhin ngidamnya"kesal Moza dan melempar bantalnya kesembarang arah.
Tak ingin anaknya ileran,dan juga tak tega melihat Moza yang merajuk,Yano akhirnya mengalah.
"Ya sudah aku ganti baju dulu"pasrah Yano membuat Moza kegirangan.
"Yes bubur ayam I,am coming"
Setelah keduanya siap,Yano menuntun Moza keluar dan naik mobil.Sepanjang perjalanan Moza tak henti-hentinya berbicara melihat lihat pemandangan sepanjang jalan dengan begitu antusias,begitupun Yano menjawab semua pertanyaan Moza.Melihat keceriaan istrinya dia sangat bahagia sekaligus merasa bersalah sudah mengurung Moza dirumah terus,ternyata diajak jalan begini sudah membuatnya bahagia sekali.
"Kamu suka jalan-jalan?"tanya Yano sambil menyetir.Dan diangguk8 Moza tanpa mengalihkan tatapannya dari pemandangan disepanjang jalan.
Yano hanya tersenyum melihat keceriaan dari istrinya itu,setelah menempuh waktu cukup lama akhirnya mereka sampai disebuah warung bubur ayam,memang nyatanya disana sangat ramai,Yano mencari tempat yang kosong dan ada dipojokkan,lalu dia menggandeng tangan Moza dengan posesif hingga tatapan orang yang sedang makan disana tertuju pada dua pasutri yang nampak romantis dimata mereka.
__ADS_1
Setelah mereka duduk,Yano memesan dua mangkok untuk dia dan Moza.
Tak berapa lama,pesanan mereka datang,Moza yang sedari tadi sudah sangat ingin makan bubur ayam langsung sergap melahapnya.Membuat Yano menganga dengan nafsu makan istrinya yang semakin hari semakin bertambah.
"Yank pelan-pelan"saran Yano dengan hati-hati.
"Nanggung mas,lapar banget nih"
"Buset nij bini gue kayak orang amnesia,yang ada suamimu ini yang kelaparan"gumam Yano pelan
"Kamu bilang apa"Moza menghentikan makannya lalu menatap Yano.
"Enggak kok sayang,aku cuman bilang kamu makin cantik aja"elak Yano tapi mampu membuat pipi Moza merah merona.
"Kamu bisa aja memang kecantikan ini tak pernah pudar dari dulu"puji Moza memuji dirinya sendiri.
"Mas aku nambah lagi dong"Moza menyodorkan mangkok yang sudah kosong,hingga Yano membelalakan matanya merasa kaget Moza yang dengan cepat melahap satu mangkok bubur ayam dalam beberapa menit saja,padahal dia saja belum habis bahkan masih setengah mangkok.
"Yankk ....kamu baik-baik saja kan"tanya Yano dengan muka masam.
"Iye aku fine aja,cepetan mas aku mau nambah lagi"Moza memukul Moza seperti anak kecil yang meminta makan,dan terpaksa Yano memanggil pelayan disana dan memesan kembali untuk istrinya.
"Maaf ya mas"ucap Yano tak enak kepada pelayan itu.
"Iya nggak apa apa kok mas,semoga bumil nya sehat terus"jawab pelayan itu dan berlalu begitu saja.
Yano tak melanjutkan makan buburnya,melihat Moza saja membuat dia kenyang.Setelah Moza selesai melahap dua mangkok buburnya Yano meninggalkan Moza sejenak untuk membayar makanan mereka,kebetulan tempat duduk mereka dekat dengan tempa Yano membayar.
"Pak berapa semuanya?"Yano membuka dompetnya,mengeluarkan uang 100 ribu.
"Pak saya pesan dua porsi bubur ayam"dari belakang Yano seorang laki-laki mengantri untuk memesan bubur ayam,tapi Yano tak menoleh.
"Baik mas"
"Kok gue kayak kenal suara itu ya"pikir Moza menoleh kearah suara itu,nampak seorang pemuda berjas yang membelakanginya dan turut mengantri dibelakang suaminya,jadi Moza tidak bisa melihat wajahnya.
"Jadi totalnya berapa pak?"tanya Yano sekali lagi
"60 ribu mas"
__ADS_1
"Ini pak,kembaliannya buat bapak saja"ucap Yano menyodorkan selembaran uang seratus ribu,dan berlalu dari situ,hingga dia menatap sekilas wajah pemuda yang ada dibelakangnya,tapi pemuda itu fokus dengan ponselnya.
"Sayang kita pulang yuk"ajak Yano setelah duduk didekat Moza.
"Hayuu"Moza mengambil tasnya dan berdiri begitup Yano,dan menggandeng Moza,lalu mereka berjalan tepat dibelakang pemuda yang sempat mengantri tadi.
"Mas aku kekenyangan nih,aku jadi ngantuk"keluh Moza mengelus perutnya.
"Kamu sih makannya nggak diukur-ukur"kekek Yano sambik terus berjalan.
"Kok itu kayak suara Moza"pikir seseorang,dan menatap punggung seorang wanita yang mulai menjauh dengan menggandeng seorang pria disebelahnya.
"Ini pesanannya mas"
"Ooh iya pak,makasih pak"Pemuda itu ingin mengejar langakah Moza,tapi dia ditahan karena belum membayar.
"Sialan gue kehilangan jejak lagi,tapi mana mungkin itu Moza dia kan dikurung pria brengsej itu."rutunya meninjau udara.
"Tuan Revan kenapa"suara seseorang mengejutkan pria yang sedang kesal itu yang ternyata Revan.
"Hufttt bukan apa-apa Gas"elaknya dan menyerahkan kantong kresek berisi bubur ayam yang dimintai oleh ayahnya.
Revan membuka mobilnya,tapi dia menghentikannya karena menangkap sosok yang dia cari tadi memasuki mobil dengan seorang pria,dia baru menyadari pria itu yang ada didepannya pas ngantri tadi.
"Moza!"panggilnya tapi sudah terlambat mobil itu sudah melaju dan mulai menjauh.
Sementara itu Moza yang samar-samar mendengar suara seseorang yang memanggil namanya,menoleh kebelakang untuk tapi tak ada orang dijalan sana.
"Kenapa sayang,kamu kok lihat kebelakang terus dari tadi?"tanya Yano yang melihat Moza celingukan memandang kearah belakang terus.
"Enggak apa apa kok mas,aku cuman mau natap pemandangan saja"bohong Moza
"Kok suaranya seperti suara Revan,apa mungkin pria yang diwarung tadi itu Revan"gumamnya dalam hati.
"Kok kamu diam aja sih sayang,apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?"lagi lagi Yano merasa curiga dengan sikap Moza yang banyak melamun sejak pulang makan tadi,padahal ketika mereka tadi dia kelihatan ceria.
"Nggak ada apa-apa kok mas,aku cuman mengantuk karena kebanyakan makan aja"elak Moza pura-pura menguap,dan dipercayai saja oleh Yano walaupun ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Tapi nggak mungkin deh Revan ada diwarung bubur ayam,secara dia nggak suka makan bubur"Moza berusaha menepis pikirannya itu,karena tidak mungkin juga Revan mencarinya.
__ADS_1