Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Babak Belur


__ADS_3

Revan terpaku ditempat menatap sosok yang menghilang selama ini.


"Revan!"Moza ikut terkejut menatap pria dihadapannya.Dia bingung mengapa Revan disini.


"Za kamu kemana aja"Revan mendekat dan hendak memeluk Moza,namun sebuah tubuh kekar duluan memeluknya.


Revan mencium aroma parfum tubuh itu sangat berbeda,malah seperti bau maskulin dia menyadari ada sesuatu yang ganjal,dia pun melepaskan pelukannya.Ternyata Yano memasang wajah dingin dan menatap tajam kearah Revan.


Revan ingin sekali menonjok muka Yano,orang yang sudah menculik Moza hingga membuat ayahnya sakit.Dia balas menatap tajam Yano,hingga mereka saling terlibat adu pandang.


"Kalian kayak anak kecil saja,kenapa kamu berada disini Van?"Moza ingin mendapat jawaban dari pria yang sekaligus sahabatnya.


Revan yang ingin sekali memukul Yano,karena dia ingin melampiaskan emosi yang dia tahan selama ini,diurungkan karena dia baru menyadari ada Moza disitu dan tentunya para pengawal Yano yang tak akan tinggal diam bila tuannya diserang.


"Aku menjaga ayahku,sekaligus ayahmu"Revan menunjuk pria paruh baya yang masih setia menutup matanya.


"Ay..ah mu,maksudnya?"ucap Moza terbata,baru saja dia mengetahui bahwa Ardiansyah adalah ayah kandungnya namun satu kenyataan lagi harus diterimanya adalah sahabatnya ternyata saudara nya.


"Aku adalah kakakkmu"dengan menahan air mata,Revan mencoba menatap wanita berbadan dua yang terpaku ditempatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hiks apa semua ini hanya mimpi,kenapa semuanya baru kutahu?"Moza menghambur memeluk Revan yang tak mampu lagi menahan air matanya,Yano ingin mencegat Moza namun ditahan oleh Emilia.


"Biarkan saja,hanya sesaat saja"


Yano pun hanya menahan rasa cemburu dalam hatinya melihat pemandangan didepannya.Walau pun Revan adalah berstatus sebagai kakaknya Moza,namun bukan hal yang tak diketahui Yano kalo Revan hanya kakak tiri.Jadi dia mengantisipasi kalo pria itu akan menaruh hati pada istrinya.


Kedua adik kakak itu pun saling melepas pelukan.Moza pun beralih mendekat kepada Ardiansyah yang terbaring diranjangnya.


"Ayah!"panggil Moza dengan suara tercekat,sejak awal dia memang terasa dekat dengan Ardiansyah,memang kenyataanya mereka punya ikatan batin yang kuat.


"Ayah ini aku putri aya..h,sebentar lagi kita cucu ayah akan lahir"Moza mengusap perutnya sambil berlinang air mata,Yano yang tak bisa melihat wanita nya menangis hendak mendekat,namun Revan menghadangnya.

__ADS_1


"Aku ingin bicara sebentar"Revan mengajak Yano keluar,terpaksa Yano meladeni keinginan Revan.Mereka pergi ke basement rumah sakit hang kebetulan sedang sepi.


"To the point aja,aku nggak ada waktu"Yano melipat tangannya dengan menatap Revan malas.Namun bukan jawaban yang dia dapat tapi sebuah hantaman keras mendarat dipipinya.


"Sial"


Yano menyentuh ujung bibirnya yang berdarah,tak mau diremehkan oleh Revan dia pun balas memukul lawannya itu tak kalah kuatnya hingga Revan terpental dan terjatuh.


Karena situasinya sepi,kedua pria itu saling memukul satu sama lain.Tanpa henti keduanya saling membabi buta memukul lawannya.


Untungnya ada security yang lewat dan melihat perkelahian keduanya.Dengan cepat dia meminta bantuan orang-orang untuk melerainya,karena dia sendiri merasa takut untuk menengahi mereka yang pasti diselimuti amarah.Dia tak mau jadi sasaran empuk kalo dipukul oleh mereka.


Banyak orang yang datang menghampiri keduanya yang sudah sempoyongan dan memar diwajah ganteng mereka.


Baik Yano maupun Revan sama-sama babak belur,kalo saja tak ada yang menengahi mungkin keduanya akan berkelahi sampai merasa lelah.


Albertoo yang sejak tadi keliling mencari keduanya menghentikan langkahnya dibasement,karena melihat keramaian orang disana.Dia memang sengaja ingin mengikuti mereka ,karena dia hafal betul kalo Revan dan Yano memiliki hubungan yang kurang baik,dari cara keduanya saat menatap satu sama lain.


"Kenapa kalian harus berkelahi hah?"Albertoo tak habis pikir melihat kondisi na,as keduanya.


Tak ingin terjadi keributan lagi,Albertoo membawa mereka kedalam rumah sakit untuk mengobati lukanya,walaupun sepanjang jalan keduanya saling menatap tajam seperti ingin berperang.


Albertoo mengantar menemani keduanya sampai selesai diobati.


"Kalian mendingan disini saja,nggak usah temui Moza dulu"larang Albertoo membuat keduanya menatap Albertoo.


"Tapi pa.."


"Tapi om.."


Ucap keduanya bersamaan,namun Albertoo menatap tajam keduanya hingga mereka tak berkutik.

__ADS_1


"Kalo kalian mau Moza melihat wajah babak beur kalian silahkan saja"ingat Albertoo semakin membuat mereka hanya bisa pasrah saja.


Albertoo memantau keduanya agar tak terlibat perkelahian lagi.Sebenarnya dia mau mereka berdamai,namun dia tidak bisa memaksa karena situasinya kurang mendukung.


"Aku mau keluar sebentar"Revan melenggang keluar dengan wajah diperban,keduanya sama-sama mendapat lebam lebam diwajahnya.Revan memilih keluar daripada tidak bisa menahan emosinya bila harus berada didekat Yano.


Pria itu mengeluarkan ponselnya,menghubungi seseorang yang belakangan ini selalu menghantui pikirannya.Siapa lagi kalo bukan Jesika,ya sejak kepergian Jesika beberapa hari lalu Revan tak bisa berhenti memikirkannya.Ditambah nomornya tak bisa dihubungi,dia sangat khawatir kalo terjadi sesuatu dengan wanitanya itu.


"Akhhh kamu ngapain sih Jes,sampai nggak bisa mengangkat teleponnku"teriaknya dengan frustasi,Revan yakin kalo terjadi sesuatu dengan Jesika.Perasaannya tak bisa tenang kalo belum mendapat kabar dari wanita itu.


Revan pun memilih pergi dari rumah sakit,dia mengendarai mobilnya sendiri.Dengan kecepatan sedang dia membelah jalanan dibawah terik matahari siang yang siap menyengat siapapun.


Sementara itu Yano juga menyuruh Albertoo untuk berhenti memantau mereka,dan kembali ke ruang rawat Ardiansyah.Karena dia juga ingin menjernihkan pikirannya,tempat yang ingin dia tuju sekarang adalah pantai yanf terletak tak jauh dari rumah sakit.


Dibawah panas terik matahari siang,Revan nampak sudah bersantai menyantap es kelapa didekat pantai.Dia duduk menatap pemandangan sekitar yang membuat hatinya sedikit tenang,walau wajahnya masih sakit.


Tak lama kemudian sebuah mobil putih meleset didepannya dan turun seorang pria yang sangat dikenalinya.


"Yano"


"Revan"


Keduanya sama-sama terkejut,tak ada angin tak ada hujan keduanya harus bertemu lagi.Padahal mereka ingin menenangkan pikiran dan tak ingin bertemu satu sama lain.


"Lo ngikutin gue hah"Revan meletakan es kelapanya,dia jadi tak berselera lagi untuk menyantapnya karena kedatangan Yano.


"Enak aja,ngapain gue ngikutin bocah segala"Yano melewati Revan begitu saja dan memesan es kelapa untuk mendinginkan hatinya yang terasa panas melihat Revan.


"Bocah?,apa gue nggak salah denger?"Revan udab mulai kepancing lagi karena diejek sebagai bocah oleh Yano,dia tak terima dan langsung menggebrak meja dihadapan Yano.


"Mending kamu lanjutkan saja menikmati es kelapamu,aku nggak mau cari ribut lagi"ngalah Yano mengusir Revan secara halus,dia pergi dari situ dengan es kelapa ditangannya agar menghindari Revan yang sekarang pasti tersulut emosi.

__ADS_1


__ADS_2