
Revan kini sudah masuk kedalam ruangan ayahnya,dia melihat pria itu sedang bersandar duranjangnya sambil menatap pemandangan diluar jendela.
"Ayah!"panggilnya dengan air mata yang hampir menetes,bagaimana tidak seharian pikiran nya masih tertuju pada ayahnya yang terbaring dirumah sakit.
"Revan"Ardiansyah pun ikut tekejut dengan kedatangan putranya itu.
Revan pun langsung memeluk Ardiansyah dengan erat,menumpahkan kerinduan yang dia tahan selama ini.
"Maafin aku yah,Revan baru datang menjenguk"ucapnya dengan rasa bersalah.
"Nggak apa apa kok Van,lagian kamu sibuk ngurusin perusahaan"balas Ardiansyah mengelus bahu Revan.
"Apa ayah sudah enakan,mana yang sakit hah"tqnya Revan cemas,namun Ardiansyah hanya tersenyum.
"Nggak ada yang sakit kok,kamu lihat kan ayah sudah bugar"Ardiansyah menggoyangkan tubuhnya untuk menunjukkan kalo dia baik-baik saja,membuat Revan bernapas lega.
"Ngomong-ngomong siapa yang ngejenguk ayah sebelum Revan datang?"tanya Revan melihat keranjang buah diatas meja,membuat Ardiansyah bingung harus menjawab apa.
"Eemm itu rekan kerja ayah dulu,kamu sendiri nggak bawa apa apa untuk ayah?"Ardiansyah balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Akhh aku sampai lupa karena senang mendengar ayah sadar"Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Tapi dia tidak mudah percaya dengan omongan ayahnya,menurut laporan anak buahnya selama ini dia belum pernah dijenguk oleh siapa-siapa,dan dia juga belum bertanya kepada anak buahnya yang ditempatkan Revan secara diam-diam dirumah sakit,meskipun sudah ada pengawal pribadi Ardiansyah sendiri disana.
"Hemmm ayah cuman bercanda kok"tawa Ardiansyah dengan lepas,membuat Revan pun ikut senang,karena hubungannya dengan Ardiansyah kian mencair.
"Van!"panggil Ardiansyah,sehingga Revan mendongakkan wajahnya menatap ayahnya.
"Ada apa yah?"
"Ayahkan sudah sehat,ayah mau menimang cucu sebelum sisa usia ayah habis"ucap Ardiansyah dan bisa dipahami oleh Revan.
"Hufttt kalo soal itu,Revan belum fokus sama pernikahan yah,aku mau merawat ayah dulu sampai sembuh total"jawab Revan menggenggam tangan Ardiansyah.
"Tapi ayah rasa sudah sehat,apa wanita yang tinggal dirumah kekasihmu"tebak Ardiansyah telak,karena selama ini dia menyuruh anak buahnya untuk mengawasi putranya itu.
"Ayah sembarangan ayah aja,dia cuman sahabat "Revan tak bisa mengelak lagi karena sudah ketangkap basah.Dia sudah menduga cepat atau lambat ayahnya bakal mengetahui keberadaan Jesika yang ada dirumahnya,kalo bukan dari anak buah ayahnya yang selalu mengawasinya.
"Tapi ayah harap kalo kamu memang serius dengannya,jangan menahannya dengan alasan nggak jelas"saran Ardiansyah kepada Revan,agar dia tidak menyesal kalo wanita itu akan pergi.
"Memangnya ayah bakal ngerestuin?"wajah Revan jadi berbinar cerah.
"Ya tergantung kamu,kalo serius ayah bakal dukung"kata Ardiansyah membuat Revan sumriah,dia memeluk ayahnya sekali lagi dengan erat.
__ADS_1
"Baik yah,aku bakalan perjuangin dia bagaimanapun caranya"tekad Revan
Dilain tempat,Yano beserta istri dan mertuannya sudah sampai dikediamannya.
Moza merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan hati-hati,karena setelah kandungannya menginjak usia 8 bulan perutnya semakin besar dan cepat membuatnya lelah.
"Sayang kamu baik-baik saja?"tanya Yano usai melepas jasnya.
"Aku baik baik saja mas"Moza tersenyum menandakan bahwa dia baik-baik saja.Akhirnya Yano yang sudah memastikan Moza baik-baik saja,langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian,dia keluar dengan handuk yang melilit dipinggang,baru saja dia ingin menyuruh Moza ganti pakaian karena mereka habis dari luar ternyata dia sudah tertidur pulas.
"Hemm kamu pasti cape banget hari ini"tanpa memakai baju dulu,Yano mendekat ke Moza dan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut takut membangunkannya.
"Maafin aku sayang,karena sudah membohongimu tapi itu demi kebaikanmu dulu"setelah mengatakan itu barulah Yano beranjak menuju lemari pakaiannya.
Ternyata Moza belum sepenuhnya tidur,dia masih mendengar jelas apa yang Yano katakan barusan.
"Apa yang sebenarnya mas Yano sembunyikan,apa ini ada hubungannya dengan om Ardiansyah"gumamnya dengan rasa curiga,namun karena dilanda rasa ngantuk Moza pun kembali kealam mimpinya.
Dirumah sakit....
"Siapa yang datang menjenguk hari ini?"tanyanya to the point.
"Ada beberapa orang tuan,tapi mereka dikawal dengan ketat"jawab salah satu dari mereka.
"Iya tuan ada juga seorang wanita yang sedang hamil,kebetulan saya mengambil beberapa fotonya"tambah seorang lagi sambil menyodorka n ponselnya.
Dengan saksama,Yano memperhatikan wajah-wajah dilayar ponsel itu.
"Moza!,apa ini beneran Moza"kagetnya hingga bola matanya hampir keluar.
"Akhirnya gue bisa nemuin adikku,awas saja kamu Yano aku bakal buat perhitungan sama kamu"Revan mengepalkan kedua tangannya dengan erat,kini dia tahu alasannya kenapa ayahnya sadar.
"Cepat kalian periksa cctv,dan lacak mobilnya secepat mungkin!"suruh Revan kepada dua pengawalnya.Kemudian dia pun teringat dengan Jesika yang tadi dia tinggalkan dimobil begitu saja.
Diparkiran Jesika kembali melamun sendiri dalam mobil,dia juga merasa lelah karena mengejar mobil yang diyakini seseorang itu adalah Yano.
Tiba-tiba dering ponselnya memecahkan lamunannya,dia memandang nama yang tertera yaitu mamanya.
Dia segera mengangkatnya,setelah beberapa menit menerima telepon itu,ekspresinya berubah menjadi syok dan detik berikutnya Jesika menjatuhkan ponselnya dan menangis dengan kencang tanpa ada yang mendengarnya.Dia tak menghiraukan mamanya yang terus memanggil namanya dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Hiks...hiks.."tangisnya dengan bahu terguncang.
Revan pun sudah berlari mengarah kemobilnya,semakin dekat dia mendengar tangisan seorang wanita yang berasal dari mobilnya.
"Jes!"panggilnya membuka pintu mobil yang kebetulan tak dikunci,dan melihat Jesika tertunduk menangis dibangku pengemudi.
"Kamu kenapa Jes?"tanya Revan cemas,lalu duduk disebelahnya,bukannya menjawab namun tangisan Jesika semakin keras.Membuat Revan tak tega dan langsung memeluk wanita yang masih ada dihatinya sampai sekarang.
Jesika tak memberontak dalam pelukan Revan,dia menumpahkan segala kesedihannya dan Revan mengelus punggunya agar dia lebih tenang dan mau menceritakan semuanya.
"Ayahku meni...nggal Van,ini gara-gara kamu karena sudah menahan aku disini sehingga aku tidak tahu kalo disana dia sakit"teriak Jesika dengan tiba-tiba sambil memukul dada bidang Revan dengan air mata yang terus berlarian turun dipipinya.
Deg
Jantung Revan seakan berhenti berdetak,dia sudah melukai wanita yang dia cintai dan juga orangtuanya.
"Maaf"hanya itu kata yang sanggup Revan ucapkan.
"Hiks..hikss ini juga salahku karena mengharapkan orang yang tak memperjuangkanku"sesal Jesika yang selama ini menunggu seseorang yang dicintainya.
"Siapa yang kamu tunggu?"tanya Revan merasa cemburu,tak suka bila Jesika mencintai pria lain.Walau hal itu suatu yang wajar,karena keduanya pun hanya berstatus mantan kekasih.
"Nggak usah bahas hal itu,aku mau pulang ke Amerika hari ini"Jesika bangkit dari pelukan Revan,dan mengusap matanya yang berair,dan berusaha menguatkan dirinya walau hatinya ikut sakit harus meninggalkan orang yang dicintainya.
"Aku ikut!"kata Revan tanpa keraguan,membuat Jesika menatapnya dengan bingung.
"Ngapain kamu ikut segala,lagian aku bukan siapa-siapanya kamu lagi,kita hanya mantan"Jesika sadar diri dengan status mereka yang sekarang.
"Kata siapa kita hanya mantan"Revan menahan tengkuk Jesika,dan mencium bibir seksi itu dengan lembut.
Awalnya Jesika terkejut dan ingin berontak,namun dia malah terbuai dan menikmatinya.
Setelah cukup lama berciuman,keduanya melepaskan tautan bibirnya,dan Revan mengusap bibir Jesika yang nampak bengkaj akibat ulahnya.
Keduanya saling merasa canggung,namun sebagai pria Revan harus gentle.
"Aku masih mencintai mu Jes,aku mau berjuang untuk kamu"ucap Revan menatap Jesika yang terlihat sedih.
"Aku..me.mang masih menunggumu Van"jujur Jesika dengan mata yang berkaca-kaca,ternyata dibalik sikap cuek nya dengan Revan dia juga masih menyimpan rasa yang sama dengan mantan kekasihnya itu.
Setelah pernyataan cinta kedua insan itu,mereja berpelukan sejenak,dan memutuskan untuk kembali pulang dan bersiap terbang kebandara.
__ADS_1