
Sore harinya,Yano pulang lebih awal dari kantor.Karena dia tak sabar menemui istrinya,baru tadi pagi ditinggalkan dia merasa rindu saja.
Mobilnya masuk kegerbang,dengan terburu-buru dia langsung masuk rumah,dan berlari naik kelantai atas,sampai tak melihat Siti yang sedang menyiapkan makan dimeja makan.
"Si tuan muda buru-buru amat"Siti menatap aneh melihat Yano berlarian seperti orang kelimpungan.
Yano yang sudah sampai dikamar Moza,tak mendapati istrinya malah disuguhkan dengan pemandangan kamar yang berantakan,merasa panik sekaligus aneh.
"Moza!sayang kamu dimana!"Yano mencoba untuk tak merasa panik,dia menyusuri ballkon hingga kamar mandi tapi tak kunjung dia menemukan Moza.
"Apa yang sebenarnya terjadi"kini dia mulai panik,kembali berlarian untuk mengintograsi seluruh pelayan dirumah.
Kebetulan Siti mau menceritakan kepada Yano tentang kejadian tadi siang,dia malah berpapasan dengan wajah dingin Yano yang menuruni tangga dengan buru-buru.
"Eeh tuan muda"
"Dimana Moza,dan apa yang terjadi tadi siang"Yano langsung to the point,dia sungguh cemas tak menemukan istrinya.
"Tuan Agusto kesini tuan muda,dan dia marah-marah terus mau bawa non Moza"Jelas Siti menunduk karena takut Yano marah.
"Apa?,ngapain dia kesini,terus Moza .."Yano tak melanjutkan perkataannya,dia mengira Moza dibawa pergi oleh ayahnya.
"Ehh tuan muda tunggu dulu,non Moza ada dikamar tuan Yano"kata Siti menghentikan langkah Yano.
Bukannya menjawab Yano langsung berlari lagi menuju kamarnya,dia membuka pintu dengan kunci cadangan.
"Za!,sayang kamu dimana"Yano mengunci kembali pintunya,dan menyusuri kamarnya,nampaklah seorang gadis cantik sedang terlelap dikasurnya.
"Hufttr,kamu bikin khawatir aku saja"Yano melepaskan jasnya,dan melempar kesembarang arah,lalu naik kekasur mendekati istrinya yang tengah tertidur pulas.
"Maafin aku Za,aku janji akan lindungin kalian berdua"Yano membelai pelan pipi mulus Moza yang kian menggembul semenjak kehamilannya.
Heeuuumm
Merasa ada yang mengganggu tidurnya,Moza merasa terusik dan membuka matanya perlahan.
"Mas!"panggilnya melihat wajah Yano yang tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Kamu udah bangun hem?"tanya Yano mengelus rambut Moza dengan lembut.
"Maafin aku mas,aku nggak bermaksud lancang tidur dikasur.._"
"Sutttt"Yano menutup mulut Moza dengan jari telunjuknya,memberi kode untuk tak melanjutkan kata-katanya.
"Nggak usah minta maaf,ini memang kamar kita,dan satu hal yang aku minta jangan ingat lagi masa lalu yang membuat kamu terluka"Yano menatap dalam manik mata Moza.
"Dan aku minta maaf karena selama ini sudah dibutakan oleh dendam yang salah,aku mau kita mulai semuanya dari awal"ucap Yano dengan tulus,membelai wajah gadis yang terdiam dan keduanya masih terbaring dikasur.
"Aku nggak bisa mas!"Moza membalas tatapan Yano dengan sendu.
"Aku tahu kamu memang nggak bisa maafin aku,tapi aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya"tekad Yano dengan senyum paksa,dia juga harus memberi waktu kepada Moza untuk melupakan semuan kenangan pahit dan luka yang telah dia gores kepada wanita itu.
"Bukan itu maksudku mas"ucap Moza terkekeh,melihat raut wajah Yano yang tampak masam,karena dia sudah salah paham dengan jawaban Moza.
"Kan kamu bilang nggak bisa,itu artinya kamu nggak bisa maafin aku"ujar Yano cemberut
Cup
"Maksudku aku nggak bisa nolak kalo kamu minta maaf,karena moment ini yang kutunggu"ujar Moza dengan mata berkaca-kaca,dia sudah melupakan semua perbuatan Yano dulu,dan memang inilah yang dia harapkan dari dulu melihat Yano berubah bisa mencintainya sepenuh hati.
"Terima kasih sayang"balas Yano mencium bibir mungil istrinya dengan lembut,keduanya terbuai dengan ciuman itu saling mencurahkan rasa yang terpendam selama ini.Moza menutup mata sambil berlinangan air mata menikmati irama lembut dari Yano.
Setelah cukup lama keduanya berciuman,Yano melepas tautan nya secara perlahan dan menghirup kembali oksigen banyak-banyak.
"Makasih sayang"Yano memeluk Moza denga erat,mereka masih setia berbaring diranjang.
"Mas aku takut sama ayah kamu"adu Moza karena kejadian tadi siang,Agusto yang menyuruh pengawalnya untuk menculik dirinya,untung saja ada Siti.
Yano juga lupa membahas tentang itu,karena terlalu bahagia bisa mendapat maaf dari Moza.
"Ooh iya apa kamu disakitin sama pria tua itu"Yano bangun dan mengecek kondisi Moza,dengan memeriksa tangan perut,wajahnya.
"Mas aku baik-baik saja,jagoan daddy juga aman kok"jawab Moza dengan sedikit menirukan suara anak kecil,membuat Yano gemas dan memeluknya kembali.
"Kamu jangan takut,ada aku yang selalu jagain kalian,aku khawatir kamu disakitin sama pria tua itu"
__ADS_1
"Kok pria tua sih mas?"tanya Moza polos
"Kan udah tua,kalo muda ya seperti aku yank"jawab Yano asal.
"Iya juga sih"Moza dengan mudahnya ikut percaya membuat Yano tekekeh pelan.
"Mas kamu bau asem,mandi sana"usir Moza melepas pelukannya,dan mendorong lengan Yano untuk mandi.
"Masa cih,aku masih wangi nih"Yano sengaja mendekatkan tubuhnya keMoza,membuat dia gemas melihat pipi istri kecilnya memerah karena malu.
Akhirnya Yano memutuskan untuk mandi,sedang Moza beranjak dari kasur dan melanjutkan menyusuri setiap sudut kamar suaminya.Kamar yang memiliki nuansa serba hitam,walaupun nampak suram tapi sangat elegan,ditambah dengan sebuah rak buku besar yang ada disudut ruangan.
Tadinya dia ingin bersembunyi diruangan yang ditunjukan Siti,tapi niatnya diurungkan karena rasa kantuk tiba-tiba menghantamnya.Awalnya dia rebahan disebuah sofa panjang dikamar Yano,tapi dia malah tidak nyaman dan dengan berani dia memutuskan untuk tidur diranjang besar milik Yano.
"Persetan kalo mas Yano marah,lagian aku nggak bisa nahan rasa ngantukku"putus Moza dan menghempaskan tubuhnya diranjang empuk milik Yano,tak butuh waktu lama dirinya pun terlelap.
Setelah beberapa menit,Yano selesai dengan ritual mandinya,sementara Moza masih penasaran dengan ruangan yang ditunjuk Siti tadi,ruangan yang berada dibalik lemari Yano.
Ingin menjawab rasa penasarannya Moza menggeser lemarinya,dan nampaklah sebuah pintu kecil,dia mengulurkan tangannya untuk membuka,tapi tersentak mendengar pintu kamar mandi yang terbuka.
"Sayang kamu lagi ngapain?"Yano melihat Moza yang berdiri didepan ruang rahasianya.
"Emm anu mas,aku mau nyiapin baju untuk kamu,ehh malah ini yang muncul"bohong Moza takut ketahuan.
"Kamu penasaran sama ruangan ini"Yano yang hanya mengenakan handuk,berjalan kearah Moza yang mematung didepan lemarinya.
"Enggak kok mas,serius deh aku mau nyiapin baju buat kamu"elak Moza menatap Yano yang hanya melilitkan handuk dipinggangnya,hingga terpampang nyata roti sobek suaminya membuat dia menelan salivanya dengan susah payah.
"Umm ya udah kamu ambilin baju buat aku"Yano bersandar dekat situ,dan menatap Moza tak berkedip.
"Kamu tunggu disana"tunjuk Moza keranjang Yano,dengan memalingkan mukanya karena tak mau matanya ternodai dengan pemandangan didepannya.
"Kamu mau sama mas hah"Yano mencoba menggoda Moza,dan menangkup pipinya untuk menatapnya.
"Tahu ahh,aku mau kekamar dulu"Moza yang merasa malu,tak tahan berada didekat Yano yang sedang telanjang dada.
"Aku cuman bercanda,aku akan kesana kamu lanjutin cari baju buat aku"Yano menahan Moza yang mulai ngambek,dia segera terbirit-birit menjaub dari Moza,daripada lebih panjang lagi masalahnya.
__ADS_1