
Sesudah Moza membersihkan beling beling dikamarnya,dengan dibantu Siti.Kemudia dirinya turun keruang makan,padahal Siti sudah melarangnya dan menyuruhnya istirahat saja.Tapi Moza bersikeras,akhirnya dia turun kebawah dengan langkah terpincang-pincang,sedang Yano yang tengah makan,teralihkan dengan datangnya Moza dengan kakinya yang sudah diperban.
"Ambilkan saya minum"perintah Yano menatap Moza yang berjalan menuju dapur,hingga langkahnya berbalik dan dengan rasa sakit dikakinya Moza menuruti kemauan Yano tanpa bersuara.
"Ini mas"Moza memberikan segelas air kepada Yano dengan suara lemah.Yano sengaja membiarkan Moza memegangnya,agar wanita itu merasa pegal pegal.
"Pegang aja dulu"kata Yano tak melihat wajah pucat Moza,karena dari tadi dia menahan lapar sekaligus banyak kehabisan darah akibat luka dikakinya.Tapi Yano malah menyiksanya lagi dengan menyuruhnya untuk memegang minumannya,hingga tangan Moza merasa pegal.
"Mas tanganku udah pegal nih"lirih Moza dengan wajah memelas.
"Gitu aja lebay banget"sewot Yano menyambar gelas yang dipegang Moza,sedang Siti yang menyaksikan hal itu merasa kasihan dengan Moza yang terlihat menahan sakit,karena mereka sudah diperintahkan Yano untuk tidak membantu Moza untuk melayani dirinya dan juga membersihkan rumah.
"Sekaramg bereskan ini semua,dan jangan bilang kamu nggak bisa"ucap Yano menggebrak meja,hingga Moza tersentak.
Dengan perlahan Moza membereskan sisa makanan Yano,walaupun ini hal yang tak pernah dia lakukan,karena dirinya juga memiliki pelayan dirumahnya,serta Emilia yang terlalu memanjakannya."Hufttt,sabar Za ini ujian.Kamu harus bisa ngelakuin apa yang belum pernah kamu lakukan"Moza mencoba untuk menyemangati dirinya.Dia melangkah menyeret kakinya yang masih pincang dengan piring ditangannya untuk dibawa kedapur,kebetulan Siti juga berada didapur.Dengan terburu buru dia mengambil alih piring ditangan Moza
"Sini Siti aja yang cuciin non"
"Nggak usah,biar Moza aja yang cuciin"tolak Moza dengan muka yang memucat.
"Nggak ada tapi tapian,lagian nona terlihat pucat,mending nona sarapan dulu"ujar Siti memapah Moza untuk duduk disebuah kursi didapur.
"Aku nggak apa apa kok Sit,nanti mas Yano ngamuk lagi"ucap Moza tak mau pelayannya kena imbas akibat menolongnya.
"Siti nggak bakal aduiin kok non,mending nona sarapan dulu,saya ambilkan makanan untuk non Moza"ucap Siti
"Terima kasih banyak Siti,udah mau nolongin saya"ucap Moza tulus dibalas senyuman oleh Siti yang sedang menyiapkan makanan untuknya.
Setelah selesai makan,Siti menyarankan Moza untuk istirahat karena kakinya belum sembuh.Tapi tiba-tiba saja Yano menyuruhnya untuk membersihkan rumah,padahal sudah banyak pelayan dirumah itu,tapi dengan sengaja Yano menyiksa Moza membersihkan rumah yang begitu besar itu.
__ADS_1
Mau tak Moza menuruti semua kemauan Yano,dirinya tak mungkin melawan agar tidak memperpanjang masalah,apalagi saat ini kepalanya terasa berat dan kakinya juga tambah sakit karena terlalu banyak bergerak.Karena semakin lama pandangannya kabur,sekelilingnya terasa berputar,hingga akhirnya Moza jatuh pingsan.
Kebetulan Siti ingin membantu Moza secara diam-diam alangkah terkejutnya dia ketika melihat Moza sudah jatuh pingsan.
"Non Moza,non!"panggil Siti menepuk pelan pipi Moza,dia sangat khawatir melihat wajah Moza yang begitu pucat.Akhirnya Siti memanggil beberapa pengawal untuk mengangkat Moza kekamar.
Dan kini Moza terbaring tak sadarkan diri dikamarnya,dan dengan setia Siti masih menemani Moza hingga dokter datang.Karena pas Moza pingsan,Siti sempat menghubungi Yano,dan dia disuruh untuk menelpon dokter pribadi Yano yang dikenal Dokter Jaya,dia juga salah satu sahabat karib Yano,dan masih seumuran dengan Yano.
"Kasihan nona harus diperlakukan begini"ucap Siti dengan sendu menatap Moza yang masih setia menutup matanya.
Ceklek..
Pintu dibuka dari luar,datanglah seorang lelaki tampan berjas putih.
"Eeh Dokter Jaya,silahkan masuk dok"sapa Siti mempersilahkan Dokter Jaya memeriksa keadaan Moza.Tapi bukannya duduk,dia malah terdiam didepan pintu dengan mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya siapa yang sakit Siti?"tanyanya dengan bingung.
"Ini orang yang sakit dok,masalah ini siapa tunggu dokter selesai memeriksanya"ucap Siti dan disetujui oleh Dokter Jaya.Kemudian dia memeriksa Moza,sedang Siti berdoa dalam hati semoga nona mudanya baik-baik saja.
"Dia hanya kecapen dan juga kekurangan darah,jadi disarankan untuk lebih banyak beristirahat,"jelas Dokter Jaya setelah selesau memeriksanya.Seraya memasukkan kembali peralatan medisnya.
"Kasihan sekali nona muda"kata Siti tanpa sadar.
"Nona muda?"tanya Dokter Jaya mengalihkan tatapannya ke Siti yang sudah keceplosan.
"Emm anu maksudnya itu dok,kasihan dia kekurangan darah.."ngeles Siti mencari alasan,tapi Dokter Jaya tidak bisa ditipu dan tidak membuat dia percaya begitu saja.
"Jelaskan semuanya dari awal Siti,soal Yano saya tidak akan ngaduhin kamu kok?"perintah Dokter Jaya dengan serius,dengan terpaksa Siti menceritaka rentetan peristiwa yang terjadi,hingga Moza jatuh pingsan.
__ADS_1
"Yano sudah menikah?"tanya Jaya tak percaya,setelah mendengar pengakuan Siti,sungguh tega Yano tak mengundang sahabatnya dihari pernikahannya.
"Lalu dia menikahi gadis ini tanpa cinta,tapi karena alasan balas dendam saja?"lagi lagi Jaya harus terkejut mendengar kenyataan bahwa sahabatnya itu juga menikahi gadis muda yang masih polos,hanya karena ingin balas dendam saja.
"Betul dok,saya sebenarnya kasihan melihat non Moza diperlakukan kasar sama tuan muda"balas Siti menatap Moza dengan sendu.
"Benar benar tuh sih Yano,anak orang diginiin.Kalo lo nggak cinta mending gue yang jagain"ucap Jaya menatap wajah cantik Moza yang terlihat natural,karena sejak awal melihat Moza dirinya terpana dengan kecantikan gadis muda itu.Siti yang mendengar hal itu tersenyum kecil saja.
Kemudian Jaya pamit pergi dan meresepkan vitamin yang harus diminum oleh Moza.Sedangkan Yano masih belum pulang juga,hingga larut malam Moza baru saja tersadar dari pingsannya dengan Siti yang masih setia menemaninya dari tadi.
"Eummmm"Moza menggerakkan otot-otonya yang terasa sakit,perlahan dia membuka matanya,yang pertama dilihatnya adalah Siti yang tertidur sambil duduk karena menunggu dirinya bangun,akhirnya Siti jadi ketiduran.
"Sit!"panggil Moza pelan menggoyangkan badan Siti.
Siti menggeliat dan mengumpulkan nyawanya,melihat Moza bangun seketika kantuknya hilang berganti rasa gembira.
"Akhirnya nona sadar juga,Siti khawatir banget sama non"ungkap Siti mengelus tangan Moza,mendapat perhatian dari Siti Moza sangat bersyukur masih ada orang yang membantunya dalam keadaannya sekarang.
"Terima kasih banyak ya Sit,saya nggak tahu harus bagaimana lagi mau membalas kebaikanmu"ucap Moza tulus,dirinya mengingat bahwa dirinya pingsan,tapi dia tidak mengingat siapa yang menolongnya,dan ternyata Sitilah yang sudah membantunya.
"Iya non ini sudah menjadi tugas Siti kok"jawab Siti cengengesan.
"Ooh iya Sit,berapa lama saya pingsan ya,soalnya ini kan udah larut banget berarti saya nggak sadarkan diri itu berapa lama ya?"tanya Moza sambil mengingat waktu yang sudah dia lewati dengan tak sadarkan diri.
"Tapi nona jangan kaget ya"
"Iya janji,nggak bakalan kaget"
"Nona pingsan it..u..emmm.. 12 jam"ucap Siti ragu,tapi nyatanya Moza kaget sendiri dengan jawaban Siti,detik berikutnya dirinya pingsan lagi.Siti jadi panik dan cemas,dia mencoba menepuk pipi Moza tapi tak kunjung bangun.
__ADS_1